• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Jadinya Jika Suami-Istri Alami Gangguan Kesehatan Mental?

Bagaimana Jadinya Jika Suami-Istri Alami Gangguan Kesehatan Mental?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Mengalami gangguan kesehatan mental pada diri sendiri saja terkadang sudah cukup tidak nyaman. Bagaimana jadinya jika gangguan kesehatan mental juga dialami oleh suami-istri? Di satu sisi kamu harus berjuang menghadapi permasalahan mental diri, dan di sisi lain kamu juga harus menghadapi pasangan yang memiliki masalah sama. Belum lagi jika gangguan kesehatan mental “meledak” bersamaan.

Dampak penyakit mental pada hubungan suami-istri sering menjadi dinamika yang diabaikan. Padahal, penyakit mental dapat memengaruhi pasangan satu sama lain, dan bahkan anak. Mungkin karena selama ini kesehatan mental hanya berfokus pada gejala dalam diri individu dan mengabaikan pola-pola bagaimana individu saling berhubungan dalam suatu hubungan.

Baca juga: Agar 5 Tahun Pertama Pernikahan Berjalan Mulus

Sering Kali Terjadi Perdebatan dan Saling Frustasi

Pasangan suami istri yang memiliki penyakit mental sesungguhnya dapat berdampak negatif pada kesehatan mental pasangan, begitu juga sebaliknya. Terkadang kedua pasangan dalam suatu hubungan dapat berjuang dengan gejala yang telah berkembang. Jika mereka sama-sama saling mengetahui dan memaklumi, seharusnya terdapat korelasi positif antara satu pasangan yang memiliki gangguan kesehatan mental dan pasangan lainnya yang juga mengalami hal yang sama. 

Mengingat umum terjadi bahwa pasangan menikah pasti akan bertengkar tentang tiga hal, keintiman, finansial, dan anak-anak. Sedangkan yang keempat, mungkin ada tapi tidak disadari adalah penyakit mental. Terjadinya argumen dan frustasi yang berdiri sendiri sering kali menambah kegaduhan dalam rumah tangga. 

Pasangan suami istri yang keduanya mengalami gangguan kesehatan mental, biasanya lebih sering melewati hari dengan perdebatan dan merasa frustasi satu sama lain, bahkan pada persoalan yang sepele dan perbedaan pendapat. Namun bukan berarti mereka tidak saling mencintai. 

Baca juga: Berencana Menikah? Ini 8 Hal yang Wajib Dipelajari 

Penyakit Mental dalam Hubungan Berjalan Dua Arah

Jika kamu mengalami frustasi, di saat kamu mengalami gejalanya, pasangan yang sedang berjuang dengan gangguan kesehatan mental juga akan mengalaminya. Mungkin kamu pernah mempertanyakan hal berikut, atau kamu perlu mengamati pertanyaan berikut:

  • Bagaimana saya tahu jika pasangan saya sedang berjuang dengan penyakit mental, atau jika dia hanya bereaksi terhadap beberapa permasalahan yang memberi tekanan pada pernikahan kami?

Ada perbedaan antara memiliki penyakit mental yang persisten, dan memiliki reaksi stres sementara terhadap peristiwa buruk atau permasalah rumah tangga (misalnya, kehilangan pekerjaan, kecurigaan perselingkuhan). 

  • Pasangan saya sedang berjuang dengan penyakit mental. Bagaimana saya membantu pasangan, saya tetapi pada saat yang sama memastikan saya tidak kehabisan tenaga dan mengganggu kesehatan mental saya juga dalam proses ini?

Mampu menetapkan beberapa batasan untuk diri sendiri adalah penting untuk dilakukan. Merasa menjadi andalan atas nama pasangan dapat menyebabkan kelelahan dan malah membuat pasangan merasa tidak dapat melakukan apapun untuk diri dia sendiri. 

  • Mungkinkan pasangan saya mengalami penyakit mental jika mereka melakukan kekerasan terhadap saya dan orang lain?

Pisahkan perilaku dari penyebabnya. Ada hubungan antara perilaku kasar dan penyakit mental (misalnya gangguan kepribadian antisosial), tetapi beberapa perilaku dapat agresif reaktif.

Baca juga: Tetap Romantis Setelah Menikah, Begini Tipsnya

  • Jika saya mengalami gejala kesehatan sebagai hasil dari dukungan pada pasangan saya, haruskan saya mendapatkan bantuan untuk diri saya sendiri atau haruskah kami terapi bersama?

Penting bagi setiap orang untuk mendapatkan bantuan bagi diri mereka sendiri dan bersama dengan pasangan mendapatkan bantuan untuk hubungan pernikahan. Pasangan juga perlu menemukan beberapa dukungan mereka di luar hubungan dan tidak berharap bahwa semua kebutuhan emosional mereka akan dipengaruhi oleh pasangan mereka. 

  • Bagaimana kami bisa mendapatkan bantuan untuk pernikahan kami ketika anak-anak juga terlibat? Apakah terapis yang sama juga merawat anak-anak, atau apakah sebaiknya pada terapis berbeda?

Beberapa terapis pernikahan dan keluarga akan memperlakukan seluruh keluarga sebagai satu unit, sementara beberapa terapis lain mungkin melihat anak-anak secara terpisah sebagai bagian dari perawatan. 

Segera Cari Bantuan Profesional

Saat hubungan pasangan sedang dalam tekanan, antar suami istri biasanya mulai menjauhkan diri secara fisik dan emosional satu sama lain. Mereka cenderung menghindar dan ketika bertemu sering terasa tegang atau canggung. Untuk itu, penting bagi setiap pasangan untuk mendapatkan bantuan profesional agar hubungan kembali ke jalurnya sebelum situasi mencapai krisis.

Sayangnya, banyak pasangan yang belum memahami apa yang terjadi pada diri dan pasangan mereka yang sebenarnya. Sehingga yang mereka tahu satu-satunya jalan keluar dari masalah adalah keluar dari hubungan atau berpisah. Sebelum hal ini terjadi, bijak rasanya jika kamu mencari bantuan profesional saat merasa terlalu banyak tekanan dalam hubungan suami-istri. 

Jika kamu membutuhkan bantuan profesional, kamu dapat berdiskusi dengan psikolog melalui aplikasi Halodoc. Kamu dan pasangan pun bisa berdiskusi bersama, karena interaksi dapat dilakukan dengan cara video call, tanpa keluar rumah sehingga lebih mudah. Yuk, download aplikasinya sekarang!

Referensi:
Here to help. Diakses pada 2020. Mental Illness in Couple Relationships.
Mental Health Foundation. Diakses pada 2020. Mental health statistics: relationships and community.