15 February 2019

Waspada, Ini Bahaya Limfadenitis pada Ibu Hamil

Waspada, Ini Bahaya Limfadenitis pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta - Menjaga kesehatan tubuh saat hamil adalah hal yang wajib dilakukan demi mendukung pertumbuhan bayi di dalam kandungan. Sayangnya hal ini tidak mudah untuk dilakukan. Dalam tubuh seseorang, kelenjar getah bening adalah salah satu benteng pertahanan yang merespons kondisi-kondisi yang berpotensi merugikan tubuh.

Apabila kelenjar ini mengalami peradangan atau terkena limfadenitis, maka hal ini mengindikasikan gangguan pada tubuh sehingga ibu hamil rentan mengalami gangguan yang berimbas pada kondisi bayi di dalam kandungan.

Limfadenitis merupakan peradangan atau infeksi pada kelenjar getah bening dan di Indonesia paling terjadi karena disebabkan oleh tuberkulosis. Kondisi ini menyebabkan kelenjar getah bening mengalami pembesaran karena sel-sel darah putih dan senyawa kimia sistem imun berkumpul di sana. Pada kondisi normal, kelenjar getah bening umumnya berukuran kecil. Jika terjadi limfadenitis, kelenjar getah bening mengalami pembesaran dan dapat teraba dengan mudah, terutama ketika dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter.

Baca Juga: Miom Saat Masa Kehamilan, Ketahui 3 Bahaya yang Mengintai

Banyak wanita hamil yang dapat mengalami pembengkakan atau peradangan kelenjar getah bening. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan tubuh akibat perubahan fisik dan hormonal selama kehamilan. Misalnya kelenjar getah bening pada ketiak yang membengkak yang berkaitan dengan produksi ASI pada payudara.

Kondisi ini umumnya bila penyebabnya teratasi maka kelenjar getah bening mengempis dengan sendirinya. Hal yang harus diperhatikan ibu hamil saat terkena penyakit ini adalah penggunaan obat-obatan untuk mengatasi penyakit ini. Ibu hamil memerlukan pengobatan khusus saat hendak konsumsi obat, terutama pada trimester pertama karena pembentukan organ-organ bayi terjadi pada trimester pertama.

Selain itu, jika limfadenitis terjadi pada ibu hamil, gangguan pertumbuhan bayi di dalam kandungan pasti terjadi. Berikut gejala-gejala umum yang dapat terjadi saat terkena limfadenitis:

  • Pembengkakan di kelenjar getah bening di leher dan ketiak.

  • Kulit di sekitar kelenjar getah bening menjadi kemerahan.

  • Munculnya abses atau nanah.

  • Keluarnya cairan dari kelenjar getah bening yang membengkak.

  • Demam.

  • Tidak nafsu makan.

  • Berkeringat pada malam hari sehingga mengganggu tidur.

  • Munculnya gejala infeksi saluran pernapasan bagian atas, seperti pilek dan nyeri menelan.

  • Pembengkakan tungkai.

Pengobatan Limfadenitis

Beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk limfadenitis, antara lain adalah:

  • Obat-obatan. Antibiotik, antivirus, atau antijamur diberikan oleh dokter untuk mengobati limfadenitis yang disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, atau jamur. Selain itu jika diperlukan, dokter memberikan obat antiinflamasi nonsteroid (misalnya ibuprofen) jika pasien mengalami gejala nyeri dan demam akibat limfadenitis. Sementara pada ibu hamil, dokter memberikan dosis khusus atau semacamnya.

  • Mengalirkan abses atau nanah. Metode ini dilakukan untuk mengobati limfadenitis yang berkembang menjadi abses. Nanah dialirkan melalui irisan (insisi) kecil pada kulit yang dibuat di daerah abses. Setelah petugas medis membuat insisi, cairan nanah dibiarkan keluar dengan sendirinya. Setelah itu, insisi ditutup dengan perban steril.

  • Pengobatan kanker. Jika limfadenitis yang terjadi diakibatkan oleh tumor atau kanker, pasien dapat menjalani pembedahan untuk mengangkat tumor, kemoterapi, atau radioterapi.

  • Kompres. Selain itu, untuk meringankan gejala peradangan, dapat dilakukan kompres dengan air hangat pada kelenjar getah bening yang meradang.

Baca Juga: Kenali Geriatric Pregnancy, Kehamilan di Usia Lanjut yang Penuh Risiko

Untuk mengetahui lebih lanjut informasi seputar limfadenitis yang terjadi pada ibu hamil, ibu bisa menghubungi dokter di Halodoc. Tanpa perlu keluar rumah, ibu dapat berdiskusi dengan dokter dan meminta saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.