01 November 2018

Batuk Rejan Bisa Sebabkan Sesak Napas?

Batuk Rejan Bisa Sebabkan Sesak Napas?

Halodoc, Jakarta - Bagi kamu mungkin asing dengan batuk rejan, batuk ini merupakan infeksi bakteri di paru-paru dan saluran pernapasan yang amat menular. Pengidapnya bisa mengalami batuk hingga tiga bulan lamanya. Nah, karena durasi tersebut batuk rejan juga biasa disebut dengan “batuk seratus hari”.

Batuk seratus hari ini bisa mengancam nyawa bila terjadi pada lansia dan anak-anak, apalagi pada bayi yang belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin pertusis. Batuk ini bisa dikenali dari rentetan batuk keras yang terjadi terus-menerus. Batuknya ditandai dengan tarikan napas panjang lewat mulut (whoop).

Sebabkan Sesak Napas

Fase pertama dari batuk rejan ini adalah masa di mana infeksi akan sangat rentan menular. Nah, pada fase kedua manula mesti berhati-hati, jangan tunda untuk mendapatkan penanganan medis. Sebab, fase ini memiliki tingkat risiko kematian yang paling tinggi.

Selain manula, batuk pertusis yang dialami oleh anak-anak juga perlu diawasi dengan ekstra. Sebab, batuk keras yang terjadi terus-menerus selama beberapa menit bisa membuat paru-paru anak kelelahan. Nah, kondisi ini bisa membuat anak mengalami sesak napas atau bahkan kesulitan bernapas (apnea). Ujung-ujungnya paru-paru yang kelelahan ini bisa membuat anak kekurangan oksigen (hipoksia) dan berujung pada gagal napas yang berakibat fatal.

Menurut ahli, bayi yang berusia kurang dari satu tahun dan terinfeksi batuk seratus hari, seharusnya perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Tujuannya agar terhindar dari komplikasi pernapasan serius seperti pneumonia. Kondisi ini juga bisa menyebabkan napas seseorang jadi terengah-engah dan pendek.

Tapi yang bikin resah lagi, batuk pertusis ini juga bisa menimbulkan komplikasi kelainan otak pada bayi. Menurut penelitian dari Denmark, bayi yang mengalami jenis batuk ini berisiko tinggi untuk mengalami epilepsi pada masa kanak-kanak.

Awasi Penyebabnya

Biang keladi dari batuk rejan adalah bakteri bordetella pertussis yang bisa menyebar melalui udara. Bakteri ini akan masuk dan menyerang dinding saluran napas seseorang dengan cara melepaskan racun. Kata ahli, pembengkakan saluran napas merupakan salah satu cara tubuh bereaksi terhadap racun yang dilepaskan oleh bakteri tersebut.

Nah, saluran napas yang membengkak ini bisa membuat pengidapnya harus menarik napas melalui mulut karena kesulitan bernapas. Tarikan napas ini akan menimbulkan bunyi dengkingan (whoop) yang panjang. Selain pembengkakan, cara lain yang dilakukan tubuh saat bakteri menyerang dinding saluran pernapasan dengan memproduksi lendir kental. Lalu, saluran pernapasan akan merespon untuk mencoba mengeluarkan lendir kental tersebut dengan batuk.

Kenali Tanda dan Gejalanya

Dalam banyak kasus, tanda dan gejala dari batuk rejan biasanya baru muncul sekitar 10 hari setelah seseorang terinfeksi. Kata ahli, tanda yang muncul dari batuk ini di tahap awalnya biasanya mirip dengan gejala pilek biasa. Misalnya, demam, hidung beringus, batuk, hidung tersumbat, dan mata merah serta berair.

Namun satu atau dua minggu setelahnya, tanda dan gejalanya akan memburuk. Misalnya batuk parah dan berkepanjangan yang bisa membuat pengidapnya terdengar, seperti mau muntah dan menyebabkan kelelahan ekstrem. Tak hanya itu, gejala lainnya bisa berupa wajah berwarna merah atau biru dan suara tinggi melengking saat menarik napas.

Punya keluhan batuk atau batuk rejan seperti di atas? Jangan tunda untuk bertemu dokter demi mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah tersebut. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Baca juga: