Beda Pendapat, Ini Tips Berkompromi dengan Ambisi Anak

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Beda Pendapat, Ini Tips Berkompromi dengan Ambisi Anak

Halodoc, Jakarta – Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak. Hal itu kerap membuat orangtua tanpa sadar memaksakan ambisi masa muda untuk dipenuhi anak, misalnya mengarahkan Si Kecil untuk aktif di kegiatan basket yang merupakan cita-cita orangtua semasa sekolah dulu. Padahal, belum tentu apa yang diinginkan anak sama dengan ambisi orangtua. 

Sah-sah saja jika ayah dan ibu ingin hadir dan membantu anak dalam menemukan cita-cita anak. Namun, pastikan orangtua hanya “mendampingi” serta mengarahkan, bukannya memaksakan kehendak pada sang buah hati. Saat menemukan bahwa ambisi anak berbeda dengan harapan orangtua, coba lakukan beberapa tips berikut untuk berkompromi dan menemukan jalan keluar terbaik. 

Baca juga: Perilaku Si Kecil Adalah Cerminan Orang Tua, Mitos atau Fakta?

Tips Berkompromi dengan Ambisi Anak 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang mahasiswa program doktoral psikologi di Utrecht University, Eddie Brummelman, menemukan bahwa banyak orangtua yang berharap anak bisa memenuhi ambisi masa mudanya yang belum tercapai. Kecenderungan ini muncul karena orangtua menganggap anak merupakan bagian dari dirinya. 

Jalan buntu bisa saja muncul saat orangtua menemukan bahwa ambisi anak berbeda dengan yang diharapkan. Tak jarang, orangtua mungkin akan meminta Si Kecil untuk melupakan ambisinya dengan berbagai alasan, sehingga anak bisa menjalankan keinginan orangtua. Alih-alih memaksa, orangtua sebaiknya mencoba berkompromi dan menerima apa yang menjadi keinginan anak. Ada beberapa tips yang bisa diterapkan saat ambisi anak tidak sama dengan ambisi orangtua, di antaranya: 

  • Dengarkan Penjelasan Anak 

Hal pertama yang bisa dilakukan orangtua saat mengetahui bahwa ambisi anak berbeda adalah mendengarkan penjelasannya. Saat Si Kecil mengutarakan cita-citanya, coba dengar alasan ia menyukainya, bagaimana gambaran anak terhadap hal tersebut, dan bagaimana ia akan membawa atau mencapai mimpinya tersebut. Pastikan anak tidak hanya ikut-ikutan teman atau merasa senang sesaat pada suatu hal. 

  • Sampaikan Alasan Orangtua 

Jika anak ternyata bisa menyampaikan dengan baik ambisinya dan yakin bisa menggapai, maka orangtua sebaiknya menerima dan mendukung. Sebaliknya, jika anak-anak ternyata hanya terpengaruh lingkungan dan masih belum tahu apa keinginannya, orangtua wajib mengarahkannya. Pada kesempatan tersebut, orangtua bisa kembali menyinggung ambisinya dan sampaikan apa alasan ayah dan ibu menganggap bahwa hal itu baik dan sesuai dengan anak. 

Baca juga: Bijak Dampingi Remaja di Masa Sulitnya

  • Beri Anak Kesempatan 

Orangtua mungkin menganggap anak-anak kurang pengalaman dan ingin membantu agar ia tidak perlu merasa kesulitan, terutama jika Si Kecil menunjukkan impian yang mustahil. Namun, sebaiknya coba beri waktu terlebih dahulu pada anak. Jika anak benar-benar bertekad untuk mewujudkan ambisinya, beri ia waktu dan dukungan penuh agar anak berusaha dengan maksimal. Beri batasan waktu yang masuk akal, bukan dengan harapan untuk membunuh harapan serta mimpi anak, tapi untuk mengasah potensi dan bakat yang sesungguhnya. 

  • Sadari Keunikan Anak 

Zaman berubah, dan hal itu tidak bisa dibantah. Apa yang menjadi ambisi anak-anak saat ini mungkin berbeda dengan orangtua. Untuk menghadapi hal tersebut, orangtua harus bisa dengan menyadari bahwa setiap anak merupakan pribadi yang unik. Ada banyak faktor yang memengaruhi perkembangan individu anak, termasuk faktor lingkungan dan perkembangan zaman. Setiap anak berhak untuk mengembangkan diri secara bebas, dan mendapat dukungan dari orangtua. 

Baca juga: Bukan Cita-cita, Hormon Bisa Tentukan Karir

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter segera? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!

*artikel ini pernah tayang di SKATA