Benarkah Bercak Darah adalah Tanda Keperawanan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benarkah Bercak Darah adalah Tanda Keperawanan?

Halodoc, Jakarta – Jawabannya adalah tidak. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Health Service of UK, tidak semua perempuan yang melakukan hubungan seks saat pertama kali akan mengalami pendarahan.

Penyebab pendarahan ataupun bercak darah dikarenakan penetrasi pertama yang menembus selaput dara. Selaput ini adalah selembar kulit tipis yang menutupi sebagian pintu masuk vagina dan biasanya koyak saat berhubungan seks. Namun, tidak selamanya selaput dara yang koyak menyebabkan pendarahan. Baca informasi selengkapnya di bawah ini!

Bisa Koyak karena Aktivitas Lain

Perlu diketahui kalau selaput dara tidak hanya bisa koyak karena penetrasi melainkan juga aktivitas lain, seperti olahraga dan penggunaan tampon. Masih banyak orang percaya bahwa perempuan yang masih perawan akan mengeluarkan darah di malam pertama. Setelah membaca tulisan ini, tentunya kamu mendapatkan pembaharuan informasi.

Baca juga: Pelecehan Seksual dengan Bius di Inggris, Apa Sebenarnya Chemsex?

Sebaik-baiknya ketimbang mengkhawatirkan perawan atau tidak perawan, hal yang lebih penting untuk kamu berikan atensi adalah kesehatan reproduksi. Apakah kamu memiliki penyakit seks menular atau tidak?

Tanyakan langsung ke Halodoc jika baru-baru ini kamu melakukan aktivitas seksual bersiko.  Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Mengenal Lebih Dekat Selaput Dara

Sebelum mengetahui lebih lanjut hubungan antara selaput dara dengan keperawanan, kamu juga perlu tahu apa itu selaput dara. Hal yang dimaksud dengan selaput dara atau himen adalah membran tipis yang menutupi bukaan vagina. Berikut ini beberapa jenis selaput dara:

  1. Annular Hymen. Selaput  ini melingkari lubang vagina.
  2. Septate Hymen. Selaput ini ditandai dengan beberapa lubang terbuka.
  3. Cibriform Hymen. Selaput ini juga ditandai dengan beberapa lubang terbuka, tetapi lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak.
  4. Introitus. Pada perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual, bisa saja lubang selaputnya membesar, tetapi masih menyisakan jaringan selaput dara.

Seiring bertambahnya usia, selaput dara bisa berubah bentuk. Pada anak perempuan, selaput dara berbentuk seperti bulan sabit atau donat kecil. Umumnya, selaput dara berbentuk seperti cincin dengan adanya lubang kecil di tengah. Lubang tersebut memungkinkan keluarnya darah menstruasi.

Tidak hanya perubahan bentuk, elastisitas selaput dara juga bisa berubah. Saat remaja, selaput dara cenderung menjadi lebih elastis. Memasuki usia dewasa, selaput dara berubah jadi lebih tebal dibandingkan waktu remaja. Selaput dara bisa berubah karena adanya pengaruh dari perubahan hormon, salah satunya hormon estrogen.

Hubungan Selaput Dara dan Tanda Keperawanan

Seperti yang sudah disinggung di atas, banyak orang masih menjadikan bercak darah sebagai tanda keperawanan, karena perempuan yang masih perawan dianggap memiliki selaput dara yang masih utuh.

Baca juga: 7 Hal Ini Terjadi pada Tubuh saat Berhubungan Intim

Namun, nyatanya bercak darah tidak selalu bisa dijadikan patokan untuk menentukan masih perawan tidaknya seorang perempuan, karena beberapa alasan berikut:

  1. Tidak hanya dengan cara berhubungan intim, tetapi selaput dara juga bisa robek karena sebab-sebab lain yang sudah disebutkan di atas.
  2. Ada perempuan wanita yang terlahir tanpa memiliki selaput dara.
  3. Selaput dara bisa robek tanpa disertai rasa sakit maupun pendarahan.
  4. Ada juga kondisi dimana perempuan masih memiliki selaput dara yang utuh setelah berhubungan intim. Hal ini karena selaput dara terlalu elastis.
  5. Orang mengira bahwa selaput dara yang robek bisa mengeluarkan darah dalam jumlah banyak. Padahal, bisa saja selaput dara yang robek hanya mengeluarkan bercak darah yang sangat sedikit sampai tidak mudah dilihat dengan mata.
  6. Menurut sebuah penelitian, pendarahan yang terjadi akibat dari robeknya selaput dara saat melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya, hanya terjadi pada sebagian perempuan saja. Jika perempuan tidak cukup terangsang saat berhubungan intim, apalagi disertai dengan rasa takut, maka kemungkinan besar akan terjadi pendarahan.

Namun, jika perempuan cukup mendapat rangsangan, pendarahan bisa tidak terjadi. Jadi, keluarnya darah saat berhubungan intim untuk pertama kalinya tidak selalu menjadi tanda keperawanan. Yuk, mari edukasi diri dengan benar dan jangan serta-merta percaya informasi kesehatan yang belum tentu valid!

Referensi:
NHS.UK. Diakses pada 2020. Does a woman always bleed when she has sex for the first time?
Research Gate. Diakses pada 2020. Hymen: Facts and conceptions.