Benarkah Hipertensi Pulmonal Bisa Picu Gagal Jantung?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benarkah Hipertensi Pulmonal Bisa Picu Gagal Jantung?

Halodoc, Jakarta – Hipertensi paru adalah jenis tekanan darah tinggi yang memengaruhi arteri di paru-paru dan sisi kanan jantung. Ketika itu terjadi, arteri kecil di paru-paru dan kapiler menyempit, tersumbat, lalu hancur. 

Kondisi ini membuat darah lebih sulit mengalir melalui paru-paru dan meningkatkan tekanan di dalam arteri paru-paru. Saat tekanan meningkat, bilik kanan bawah jantung (ventrikel kanan) harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui paru-paru, yang pada akhirnya menyebabkan otot jantung melemah dan mengalami gagal jantung. Lantas, bagaimana penanganannya? Info selanjutnya ada di sini!

Baca juga: 3 Komplikasi Akibat Edema Paru

Mengapa Hipertensi Pulmonal Bisa Terjadi?

Hipertensi pulmonal adalah kondisi ketika tekanan darah mengalami kenaikan yang disebabkan oleh perubahan sel yang melapisi arteri pulmonalis. Perubahan ini dapat menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan tebal, dan jaringan tambahan dapat terbentuk. Pembuluh darah juga bisa meradang dan kencang.

Perubahan-perubahan dalam arteri paru-paru ini dapat mengurangi atau menghalangi aliran darah melalui pembuluh darah. Ini membuat darah lebih sulit mengalir dan meningkatkan tekanan darah di arteri paru-paru.

Seseorang bisa meningkatkan risiko mengalami hipertensi paru ataupun hipertensi pulmonal jika:

  1. Mengalami kelebihan berat badan;

  2. Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini;

  3. Memiliki salah satu dari berbagai kondisi yang dapat meningkatkan risiko terkena hipertensi paru;

  4. Menggunakan obat-obatan terlarang, seperti kokain;

  5. Mengonsumsi obat penekan nafsu makan tertentu; dan

  6. Memiliki risiko terkena hipertensi paru, seperti riwayat keluarga dengan kondisi ini, dan kamu tinggal di dataran tinggi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya hipertensi pulmonal dapat mengakibatkan gagal jantung dengan berbagai kondisi mulai dari pembesaran jantung sisi kanan, yang membuat ventrikel kanan jantung membesar dan harus memompa lebih keras dari biasanya.

Pembentukan gumpalan darah juga bisa muncul. Seharusnya gumpalan membantu menghentikan pendarahan setelah terluka. Namun, terkadang gumpalan terbentuk di tempat yang tidak dibutuhkan. 

Sejumlah gumpalan kecil atau hanya beberapa gumpalan besar terlepas dari pembuluh darah ini dan melakukan perjalanan ke paru-paru, yang mengarah ke bentuk hipertensi paru. Ketika seseorang mengidap hipertensi paru,  akan membuatnya mengalami pembekuan di pembuluh darah kecil di paru-paru. Kondisi ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan tersumbat.

Aritmia di mana detak jantung tidak teratur dapat menyebabkan jantung berdebar, pusing atau pingsan, dan bisa berakibat fatal adalah komplikasi hipertensi pulmonal lainnya. Ini termasuk juga batuk berdarah.

Tidak dapat Disembuhkan?

Hipertensi paru tidak dapat disembuhkan, tetapi dokter dapat membantu pengidapnya untuk mengelola kondisi tersebut. Pengobatan dapat membantu memperbaiki gejala dan memperlambat perkembangan hipertensi paru.

Baca juga: 7 Penyakit Autoimun yang Dapat Sebabkan Penyakit Paru Interstitial

Sering dibutuhkan waktu untuk menemukan pengobatan yang paling tepat untuk hipertensi paru. Perawatan seringkali kompleks dan membutuhkan perawatan lanjutan yang luas. Dokter mungkin juga perlu mengubah perawatan jika itu tidak lagi efektif.

Ketika hipertensi paru disebabkan oleh kondisi lain, dokter akan mengobati penyebab yang mendasarinya. Hipertensi paru sulit didiagnosis sejak dini karena tidak sering terdeteksi dalam pemeriksaan fisik rutin. Bahkan ketika kondisinya lebih lanjut, tanda-tanda dan gejalanya mirip dengan kondisi jantung dan paru-paru lainnya.

Kalau ingin tahu lebih lanjut mengenai hipertensi pulmonal atau hipertensi paru, bisa langsung tanyakan ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Pulmonary Hypertension.
Medline Plus. Diakses pada 2019. Pulmonary Hypertension.
Heart.org. Diakses pada 2019. Pulmonary Hypertension and CHD.