Benarkah Jarang Olahraga Picu Gangguan Imunodefisiensi?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
kekurangan imun, gangguan imun, daya tahan tubuh lemah

Halodoc, Jakarta - Istilah gangguan imunodefisiensi mungkin masih jarang kamu dengar. Pada pengidapnya, gangguan ini akan membuat tubuh tidak dapat melindungi diri dari virus, bakteri, dan parasit. Gangguan imunodefisiensi sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Gangguan imunodefisiensi primer, yaitu gangguan yang dibawa sejak lahir.

  2. Gangguan imunodefisiensi sekunder, yaitu gangguan yang diperoleh seiring dengan pertumbuhannya. Berbeda dengan primer, sekunder dapat disebabkan oleh semua hal atau penyakit yang dapat membuat melemahnya sistem imun tubuh.

Gangguan imunodefisiensi yang dialami pengidap akan mencegah tubuh melawan infeksi dan penyakit yang datang. Ketika kondisi ini terjadi, tubuh akan lebih rentan terinfeksi bakteri dan virus. Pada gangguan imunodefisiensi sekunder, apakah hal tersebut dapat terjadi karena jarangnya pengidap melakukan olahraga?

Baca juga: Penanganan untuk Gangguan Imunodefisiensi

Jarang Olahraga Picu Gangguan Imunodefisiensi, Benarkah?

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, gangguan imunodefisiensi  terbagi menjadi dua jenis. Pada gangguan imunodefisiensi primer, penyakit akan dialami pengidap sejak mereka dilahirkan, dan gangguan ini tidak dapat dicegah, karena adanya kelainan komponen dalam sistem imun pengidap. 

Sedangkan gangguan imunodefisiensi sekunder merupakan gangguan yang dapat terjadi seiring dengan pertumbuhan pengidap. Berbagai faktor juga menjadi pemicu terjadinya penyakit ini, beberapa di antaranya:

  1. Kurang melakukan olahraga. Olahraga sendiri berperan penting dalam kesehatan dan kekebalan tubuh manusia. Ketika aktivitas yang satu ini dilakukan secara rutin, tubuh akan meningkatkan sel pembunuh patogen alami, sel darah putih, dan sistem kekebalan tubuh.

  2. Mengidap tuberkulosis diseminata, yaitu tuberkulosis yang dapat menyerang berbagai macam organ dalam tubuh.

  3. Mengidap Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu serangkaian gejala yang muncul akibat rusaknya sistem imunitas tubuh.

  4. Kanker yang berada di sel darah dan sumsum tulang.

  5. Melakukan splenektomi, yaitu prosedur pengangkatan limpa karena alasan tertentu.

  6. Mengonsumsi obat-obatan yang dapat mengganggu kerja sistem imun tubuh. 

Ketika kamu memiliki serangkaian faktor pemicu terjadinya gangguan imunodefisiensi sekunder, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri di rumah sakit terdekat, ya! Pasalnya, gangguan imunodefisiensi bukanlah suatu penyakit yang bisa disepelekan, karena kehilangan nyawa merupakan komplikasi paling parah yang bisa saja dialami oleh pengidapnya.

Baca juga: Ini yang Dimaksud dengan Gangguan Imunodefisiensi

Gejala yang Dialami oleh Pengidap Gangguan Imunodefisiensi

Gejala utama pada pengidap akan ditandai dengan rentan mengalami infeksi. Beberapa gejala yang terlihat, antara lain:

  • Mengalami infeksi sinus.

  • Mata memerah.

  • Mengalami pilek.

  • Mengalami diare.

  • Mengalami infeksi jamur.

  • Mengalami pneumonia.

Jika kamu mengalami serangkaian gejalanya dan tidak dapat sembuh seiring dengan berjalannya waktu, kamu disarankan untuk melakukan tes gangguan imunodefisiensi. Serangkaian pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk mengobati infeksi yang masih aktif dan mencegah terjadinya infeksi dan penyakit lain pada tubuh.

Baca juga: 5 Penyebab Seseorang Alami Gangguan Immunodefisiensi

Adakah Langkah Pencegahan?

Gangguan imunodefisiensi dapat diatasi dengan melakukan beberapa langkah berikut ini:

  • Lakukan hubungan seksual secara aman dengan menggunakan kondom. Hal ini dilakukan guna mencegah tubuh mengidap penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS.

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang guna mencegah gangguan imunodefisiensi yang disebabkan oleh malnutrisi.

Tak hanya beberapa hal tersebut, olahraga secara teratur juga disarankan. Kegiatan positif yang satu ini tak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik seseorang, tapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup. Dengan rutin berolahraga, manfaat jangka panjang dapat diambil. Jadi, masih ragukah kamu untuk memulai rutin berolahraga?

Referensi:
Medline Plus. Diakses pada 2019. Immunodeficiency Disorders.
Healthline. Diakses pada 2019. Immunodeficiency Disorders.