Penanganan untuk Gangguan Imunodefisiensi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Penanganan untuk Gangguan Imunodefisiensi

Halodoc, Jakarta – Membuat tubuh tidak bisa melindungi diri dari bakteri, virus, dan parasit, gangguan imunodefisiensi merupakan kelainan yang dapat dibawa sejak lahir (primer), ataupun diperoleh saat dewasa karena hal tertentu (sekunder). Gangguan ini menyebabkan pengidapnya rentan terkena infeksi virus dan bakteri. Lalu, bagaimana penanganan untuk gangguan imunodefisiensi?

Secara umum, penanganan untuk gangguan imunodefisiensi adalah pemberian antibiotik dan terapi imunoglobulin. Namun, secara khusus, penanganan untuk gangguan imunodefisiensi dilakukan berdasarkan penyebab atau hal yang mendasarinya, setelah diagnosis dipastikan.

Baca juga: Memahami Fungsi Tes Imunitas yang Harus Diketahui

Seperti misalnya, jika disebabkan oleh HIV/AIDS, dokter biasanya akan memberikan antiretroviral atau obat untuk setiap jenis infeksi yang terjadi, pada kasus AIDS. Sementara itu, jika gangguan imunodefisiensi disebabkan oleh kurangnya produksi limfosit, dokter dapat melakukan transplantasi sumsum tulang (stem cell).

Jadi, dapat dikatakan bahwa jenis penanganan yang diberikan untuk pengidap gangguan imunodefisiensi sangat tergantung pada hasil diagnosis dokter, yang disesuaikan juga dengan penyebab dan kondisi kesehatan pengidap secara keseluruhan. Oleh karena itu, jika kamu mengalami gejala gangguan imunodefisiensi, sebaiknya segera buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, untuk melakukan pemeriksaan.

Adapun gejala umum dari gangguan imunodefisiensi adalah:

  • Mata merah.
  • Infeksi sinus.
  • Pilek.
  • Diare.
  • Pneumonia.
  • Infeksi jamur.

Jika mengalami berbagai gejala tersebut, sebagai langkah awal, kamu bisa diskusi dengan dokter di aplikasi Halodoc lewat Chat atau Voice/Video Call. Jika dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit, atau obat yang diresepkan tak kunjung membuat gejala mereda, segera ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan gangguan imunodefisiensi.

Baca juga: Awas, Sistem Imun Berkurang Seiring Bertambahnya Usia

Penyebab Terjadinya Gangguan Imunodefisiensi

Seperti disebutkan di awal, gangguan imunodefisiensi dapat terjadi sejak lahir (primer), dan diperoleh (sekunder). Pada gangguan imunodefisiensi primer, kondisi ini terjadi ketika sel darah putih khusus atau limfosit T dan B tidak berfungsi dengan normal, atau tubuh tidak menghasilkan antibodi yang cukup. 

Jenis gangguan imunodefisiensi primer yang menyerang sel B, adalah:

  • Hypogammaglobulinemia. Gangguan imunodefisiensi primer jenis ini biasanya menyebabkan infeksi pernapasan atau pencernaan.
  • Agammaglobulinemia. Gangguan imunodefisiensi primer jenis ini menyebabkan infeksi parah secara dini, dan seringkali mematikan.

Sementara itu, gangguan imunodefisiensi primer yang menyerang sel T biasanya menyebabkan infeksi Candida (jamur) berulang. Jika gangguan imunodefisiensi yang terjadi merupakan gabungan dari kelainan pada sel T dan sel B, kondisi ini dapat fatal dan mematikan dalam tahun pertama jika tidak segera ditangani.

Baca juga: Benarkah Sistem Kekebalan Tubuh Wanita Lebih Rendah Ketimbang Pria

Jenis lainnya, gangguan imunodefisiensi yang diperoleh dapat terjadi akibat komplikasi dari beberapa penyakit seperti HIV/AIDS dan malnutrisi, terutama pada orang yang kekurangan asupan protein. Tak hanya itu, ada juga beberapa jenis kanker yang menyebabkan gangguan imunodefisiensi.

Orang yang pernah menjalani operasi pengangkatan limpa juga berisiko tinggi untuk mengalami gangguan imunodefisiensi, terutama infeksi bakteri tertentu, yang normalnya dilawan oleh limpa. Selain itu, pengidap diabetes juga berisiko lebih tinggi untuk terserang infeksi tertentu.

Gangguan imunodefisiensi juga dapat terjadi karena faktor usia. Seiring bertambahnya usia, jaringan sistem imun dan aktivitas sel darah putih akan menjadi semakin kurang efektif untuk melawan infeksi. Selain beberapa kondisi tersebut, ada juga beberapa penyakit yang dapat meningkatkan risiko gangguan imunodefisiensi, yaitu:

  • Ataxia-telangiectasia.
  • Defisiensi komplemen.
  • DiGeorge syndrome.
  • Hypogammaglobulinemia.
  • Job syndrome.
  • Defek adhesi leukosit.
  • Bruton disease.
  • Wiskott-Aldrich syndrome.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Immunodeficiency Disorders.
WebMD. Diakses pada 2019. What Are Immune Deficiency Disorders?