• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Penyakit Alzheimer Tidak Bisa Disembuhkan?

Benarkah Penyakit Alzheimer Tidak Bisa Disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benarkah Penyakit Alzheimer Tidak Bisa Disembuhkan?

Alzheimer adalah penyakit neurologis yang bisa menyebabkan pengidapnya mengalami gangguan memori parah. Sayangnya, penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun, ada sejumlah obat-obatan dan juga terapi yang bisa membantu mengurangi gejala dan memampukan pengidap untuk menjalankan fungsinya sehari-hari.

Halodoc, Jakarta – Alzheimer adalah penyakit yang umum terjadi di kalangan orang-orang yang lanjut usia (lansia). Di Amerika Serikat, sekitar 5,8 juta orang berusia 65 tahun ke atas mengidap penyakit Alzheimer, dan 80 persen dari jumlah tersebut berusia 75 tahun ke atas.

Penyakit otak ini dikenal dengan gejalanya yang khas, yaitu membuat pengidapnya menjadi mudah lupa atau pikun. Pada awalnya, gejala tersebut mungkin tidak terlalu menyebabkan masalah. Namun, seiring perkembangan penyakit, orang yang mengidap Alzheimer akan mengalami gangguan memori yang parah hingga tidak mampu melakukan tugas sehari-hari.

Sayangnya, penyakit Alzheimer tidak bisa disembuhkan. Namun, obat-obatan dan sejumlah perawatan bisa membantu pengidap untuk menjalankan fungsinya sehari-hari agar tetap mandiri. Berikut ulasannya.

Baca juga: Ini Stadium Penyakit Alzheimer dari Ringan Sampai Berat

Bagaimana Alzheimer Memengaruhi Pengidap?

Perlu diingat, Alzheimer bukanlah bagian yang normal dari penuaan, melainkan gangguan neurologis yang mesti diwaspadai. Masalah memori biasanya merupakan salah satu tanda peringatan pertama untuk penyakit Alzheimer. Pada awalnya, orang yang mengidap Alzheimer mungkin kesulitan untuk mengingat peristiwa atau percakapan baru-baru ini. Seiring perkembangan penyakit, gangguan memori akan memburuk dan gejala lainnya berkembang.

Berikut ini gejala umum Alzheimer yang bisa dialami pengidap:

  • Kehilangan memori yang mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti tersesat di tempat yang sudah sering dilewati atau menanyakan pertanyaan berulang kali.
  • Kesulitan mengatur keuangan dan membayar tagihan.
  • Kesulitan mengerjakan aktivitas-aktivitas yang sudah sering dilakukan di rumah, di tempat kerja atau pada waktu luang.
  • Penilaian yang menurun atau buruk.
  • Salah menaruh barang dan tidak bisa menemukannya kembali.
  • Perubahan suasana hati, kepribadian atau perilaku. Misalnya, mengalami depresi, mudah marah, delusi, atau menarik diri dari sosial.

Bila kamu atau orang terdekat menunjukkan gejala-gejala di atas, hal itu mungkin saja Alzheimer, tetapi mungkin juga bukan. Karena itu, untuk memastikan diagnosis, sebaiknya periksakan diri atau orang terdekat ke dokter. Kamu bisa melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter dengan buat janji saja di rumah sakit pilihan kamu melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: 8 Mitos Penyakit Alzheimer yang Salah

Tidak Bisa Diobati, tetapi Gejalanya Bisa Diperbaiki

Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan Alzheimer. Namun, obat-obatan Alzheimer yang ada saat ini bisa membantu mengurangi gejala memori dan perubahan kognitif lainnya untuk sementara waktu.

Berikut ini dua obat utama untuk Alzheimer:

  • Acetylcholinesterase (AChE) inhibitors

Obat-obatan ini bermanfaat untuk meningkatkan kadar asetilkolin, yaitu zat di otak yang membantu sel-sel saraf berkomunikasi satu sama lain. AChE inhibitor seperti Donepezil, galantamine, dan rivastigmine bisa diresepkan untuk pengidap Alzheimer tahap awal hingga menengah.

Tidak ada perbedaan di antara ketiga obat tersebut dalam seberapa baik mereka bekerja, walaupun beberapa orang merespon lebih baik terhadap jenis tertentu atau mengalami lebih sedikit efek samping, yang bisa meliputi mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Namun, efek samping tersebut biasanya membaik setelah 2 minggu minum obat.

  • Memantine

Obat ini bekerja dengan menghalangi efek dari bahan kimia dalam jumlah berlebih dan di otak yang disebut glutamat. Memantine digunakan untuk penyakit Alzheimer dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Obat ini cocok bagi pengidap yang tidak bisa menggunakan atau tidak bisa mentoleransi penghambat AChE. Obat ini juga cocok bagi orang dengan Alzheimer yang parah yang tidak merespon penghambat AChE dengan baik.

Efek samping yang bisa terjadi, antara lain sakit kepala, pusing, dan sembelit, tetapi biasanya hanya sementara.

Seiring perkembangan penyakit, sebagian besar pengidap akan mengembangkan gejala demensia perilaku dan psikologis, seperti lebih sering marah dan gelisah, kecemasan, dan delusi atau halusinasi. Perubahan perilaku ini bisa sangat menyusahkan pengidap dan pengasuh mereka. Oleh karena itu, psikiater biasanya akan meresepkan risperidone atau haloperidol, yaitu obat antipsikotik bagi mereka yang menunjukkan agresi terus-menerus.

Selain obat-obatan, perawatan, aktivitas, dan dukungan, juga untuk pengasuh, sama pentingnya untuk membantu orang dengan penyakit Alzheimer hidup dengan baik.

Berikut ini terapi yang bisa membantu mengatasi gejala Alzheimer:

  • Terapi Stimulasi Kognitif

Terapi ini melibatkan mengambil bagian dalam kegiatan kelompok dan latihan yang dirancang untuk meningkatkan memori dan keterampilan pemecahan masalah.

  • Rehabilitasi Kognitif

Teknik ini melibatkan kerja sama dengan profesional terlatih, seperti terapis okupasi, dan kerabat atau teman untuk melatih pengidap melakukan tugasnya sehari-hari, seperti belajar menggunakan handphone atau lainnya.

  • Mengingat Kenangan dan Kisah Hidup

Mengingat kenang-kenangan melibatkan pembicaraan tentang hal-hal dan peristiwa dari masa lalu pengidap. Biasanya melibatkan penggunaan alat peraga seperti foto, barang favorit atau musik.

Baca juga: Alzheimer Bisa Dirawat dengan Terapi Hiperbarik

Terapi-terapi di atas terkadang bisa digabungkan. Dengan menjalani pengobatan dan terapi, kesejahteraan hidup pengidap bisa ditingkatkan. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga untuk memudahkan kamu mendapatkan solusi terlengkap untuk kesehatan kamu dan juga orang terkasih.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Alzheimer’s disease.
National Health Service. Diakses pada 2021. Alzheimer’s disease