04 April 2019

Benarkah Sering Konsumsi Teh Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Esofagus?

Benarkah Sering Konsumsi Teh Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Esofagus?

Halodoc, Jakarta - Sering menyeruput teh dalam kondisi panas? Bagi kamu yang menyukai kebiasaan ini, rasanya mesti harap-harap cemas. Sebab, menurut beberapa studi, kebiasan mengonsumsi teh dalam keadaan panas bisa meningkatkan risiko kanker esofagus lho, kok bisa?

Kanker esofagus sendiri merupakan kondisi yang terjadi akibat pertumbuhan abnormal jaringan epitel pada kerongkongan (esofagus). Kanker ini dapat terjadi di bagian kerongkongan manapun, namun lebih sering terjadi pada bagian bawah.

Lalu, apa sih hubungannya teh panas dengan kanker jenis ini?

Baca juga: Sulit Menelan Makanan, Waspada Gejala Awal Kanker Esofagus

Ditandai Beberapa Gejala

Stadium awal kanker esophagus mungkin tidak bergejala. Keluhan yang dapat terjadi, di antaranya nyeri atau kesulitan menelan makanan padat dan akhirnya cairan berat badan turun lebih dari 10 persen selama enam bulan. Selanjutnya dapat terjadi gejala nyeri, sensasi terbakar, atau ketidaknyamanan dada saat menelan, batuk atau suara serak, bau mulut, dan cegukan dapat terjadi ketika tumor menyebar ke diafragma.

Pada tahap awal, kanker jenis ini biasanya enggak menunjukkan gejala apapun, sehingga cukup sulit dideteksi. Tapi, bila seseorang memiliki faktor risiko untuk mengidap kanker ini, seperti terdiagnosis penyakit esofagus Barrett, cobalah diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan sedini mungkin.

Baca juga: 6 Gejala Terkena Kanker Esofagus yang Harus Diwaspadai

Awasi Penyebab dan Faktor Risikonya

Sampai saat ini penyebab pasti kanker ini belum diketahui. Meski begitu, ada dugaan kalau penyebab utama terjadinya kanker esofagus adalah mutasi pada DNA jaringan epitel esofagus. Mutasi ini akan menyebabkan regenerasi sel epitel menjadi abnormal dan tidak terkontol.

Selain mutasi DNA, ada juga berbagai faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker ini. Antara lain:

  • Usia, umumnya terjadi pada usia 50–70 tahun dan jarang terjadi pada orang usia muda.

  • Jenis kelamin, lebih banyak terjadi pada laki-laki.

  • Etnisitas/ras, pria kulit putih lebih sering terkena.

  • Orang dengan penyakit GERD (asam lambung naik hingga kerongkongan).

  • Merokok bisa meningkatkan risiko 3–7 kali lipat.

  • Diet tinggi daging merah, lemak, dan makanan olahan.

  • Konsumsi alkohol berlebihan (terkait dengan peningkatan risiko 3 hingga 5 kali lipat).

  • Penggunaan beberapa obat, seperti  β-blocker, agen antikolinergik, atau aminofilin.

  • Mengalami kelainan pada esofagus, seperti divertikulitis, cedera, esofagus Barrett, achalasia (otot kerongkongan tidak bisa relaksasi).

  • Riwayat kanker kepala dan leher.

  • Obesitas/kegemukan.

  • Radiasi.

Teh Panas Tingkatkan Risikonya?

Selain beberapa faktor di atas, ternyata ada juga faktor lainnya yang bisa memicu penyakit ini. Menurut penelitian dari negara China, kebiasaan mengonsumsi teh panas, ditambah dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol, bisa meningkatkan 5 kali lipat kanker esofagus. Pertanyaannya, seberapa panaskah teh yang dianggap berbahaya? Menurut ahli epidemiologi di Peking University Health Science Center, Beijing, suhu 65 derajat Celsius dianggap berbahaya.

Baca juga: Benarkah Pengidap GERD Mudah Terkena Kanker Esofagus?

Sayangnya, sampai saat ini para ahli belum mengetahui pasti kaitan antara minuman panas dengan kanker. Tapi, ada dugaan bahwa sering mengasup cairan panas akan menyebabkan kerusakan jangka panjang pada sel-sel di dinding bagian kerongkongan. Selain minuman panas, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol juga bisa merusak DNA pada sel esofagus.

Selain itu ada juga penelitian lain dari Tehran University of Medical Sciences, seperti diterbitkan dalam International Journal of Cancer. Penelitian itu memuat bukti kuat bahwa minum teh atau kopi panas dapat meningkatkan risiko terkena kanker esofagus. Nah, yang perlu ditegaskan, tak hanya teh panas saja yang bisa meningkatkan risikonya, namun minuman panas lainnya juga mesti diawasi.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!