Benarkah Wasir Dapat Sebabkan Hirschsprung?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Benarkah Wasir Dapat Sebabkan Hirschsprung?

Halodoc, Jakarta - Menyebabkan bayi baru lahir sulit buang air besar, benarkah penyakit hirschsprung dapat disebabkan oleh wasir? Jawabannya tidak. Sebab penyakit hirschsprung terjadi ketika saraf di usus besar tidak terbentuk dengan sempurna. Saraf ini berfungsi untuk mengontrol pergerakan usus besar.

Itulah sebabnya jika saraf tersebut mengalami gangguan atau tidak terbentuk sempurna (dalam kasus hirschsprung), usus besar tidak dapat mendorong feses keluar. Akibatnya, feses pun menumpuk di usus besar, dan bayi menjadi tidak memiliki kemampuan untuk buang air besar. 

Baca juga: Kenali 9 Gejala Hirschsprung pada Bayi

Penyebab dari masalah pada saraf usus besar itu belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa kondisi yang diduga dapat meningkatkan risikonya, yaitu:

  • Berjenis kelamin laki-laki.

  • Memiliki orangtua atau saudara yang mengidap penyakit Hirschsprung.

  • Mengidap penyakit bawaaan lainnya yang diturunkan, seperti Down syndrome dan penyakit jantung bawaan.

Jadi kesimpulannya, wasir tidak dapat menyebabkan penyakit hirschsprung. Jika kamu membutuhkan informasi soal wasir dan berbagai komplikasi yang mungkin ditimbulkannya, kamu bisa berdiskusi langsung dengan dengan dokter spesialis yang kamu inginkan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

Kenali Berbagai Gejala Penyakit Hirschsprung pada Si Kecil

Meski gejala yang muncul dapat berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya, umumnya gejala penyakit hirschsprung sudah dapat terdeteksi sejak lahir. Gejala yang dimaksud adalah ketidakmampuan bayi untuk buang air besar dalam 48 jam setelah lahir. 

Selain bayi tidak buang air besar, gejala lain penyakit hirschsprung pada bayi baru lahir adalah:

  • Muntah-muntah dengan cairan berwarna coklat atau hijau.

  • Perut buncit.

  • Rewel.

Baca juga: Hati-Hati, Hirschsprung Dapat Sebabkan Komplikasi Ini

Selain bayi baru lahir, penyakit hirschsprung juga bisa bersifat ringan dan baru muncul gejalanya ketika anak sudah berusia besar. Gejala penyakit Hirschsprung pada anak yang lebih besar adalah:

  • Mudah merasa lelah.

  • Perut kembung dan kelihatan buncit.

  • Sembelit yang terjadi dalam jangka panjang (kronis).

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Berat badan tidak bertambah.

  • Tumbuh kembang terganggu.

Diagnosis Medis dan Penanganan untuk Penyakit Hirschsprung

Ketika mencurigai adanya penyakit hirschsprung pada anak, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan colok dubur. Jika Si Kecil diduga mengidap penyakit hirschsprung, dokter dapat melakukan beberapa tes tambahan seperti:

1. Foto Rontgen

Foto Rontgen dilakukan untuk melihat kondisi usus besar lebih jelas. Sebelumnya, zat pewarna khusus berbahan barium akan dimasukkan ke dalam usus melalui selang yang masuk dari dubur.

2. Tes Mengukur Kekuatan Otot Usus

Pada prosedur ini, dokter akan menggunakan alat khusus berupa balon dan sensor tekanan untuk memeriksa fungsi usus.

3. Biopsi

Dokter akan mengambil sampel jaringan usus besar, yang selanjutnya akan diperiksa di bawah mikroskop.

Setelah diagnosis dipastikan, penyakit hirschsprung biasanya perlu segera diobati dengan prosedur operasi, baik dengan bedah laparoskopi ataupun bedah terbuka. Pasien yang kondisinya stabil biasanya hanya memerlukan satu kali operasi, yaitu operasi penarikan usus.

Baca juga: Ketahui 3 Pemeriksaan untuk Deteksi Hirschsprung

Jika kondisi pasien tidak stabil, atau ketika pasien merupakan bayi yang lahir prematur, memiliki berat badan yang rendah, atau sedang sakit, biasanya perlu menjalani operasi stoma, untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Setelah kondisi pasien stabil dan usus besar sudah mulai pulih, tahap kedua prosedur stoma dapat dilakukan. Tahap kedua ini dilakukan untuk menutup lubang di perut dan menyambungkan usus yang sehat ke dubur atau anus.

Setelah menjalani prosedur operasi, pengidap akan menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari, sambil diinfus dan diberi obat pereda rasa sakit sampai kondisinya membaik. Selama masa perawatan, usus akan pulih secara bertahap hingga dapat berfungsi kembali secara normal.