Hati-Hati, Hirschsprung Dapat Sebabkan Komplikasi Ini

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Hati-Hati, Hirschsprung Dapat Sebabkan Komplikasi Ini

Halodoc, Jakarta – Tinja terjebak di dalam usus bukan hal yang mustahil. Pada kondisi hirschsprung, pengidapnya mengalami gangguan usus besar yang menyebabkan feses terjebak di dalam usus. Akibatnya, pengidap akan kesulitan buang air besar sejak dilahirkan.

Hirschsprung terjadi karena adanya kelainan saraf yang mengontrol pergerakan usus besar. Kondisi ini menyulitkan usus besar untuk mendorong feses keluar, sehingga menumpuk di dalam usus besar dan tidak bisa dikeluarkan.

Baca Juga: Hati-Hati dengan 4 Jenis Radang Usus Ini

Waspada, Ini Komplikasi Penyakit Hirschsprung

Menumpuknya tinja di dalam usus tentu bukan masalah sepele. Jika dibiarkan tanpa penanganan, hirschsprung berpotensi menimbulkan komplikasi serius, salah satunya infeksi pada usus (enterocolitis) yang mengancam nyawa. Bahkan, tindakan operasi untuk mengatasi kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi.

Komplikasi pasca operasi hirschsprung berupa munculnya lubang kecil atau robekan pada usus, inkontinensia alvi, serta kekurangan gizi dan dehidrasi. Maka itu, ibu dianjurkan untuk segera membawa Si Kecil ke dokter jika ia tidak buang air besar 48 jam setelah dilahirkan. Agar tidak antre panjang, ibu bisa membuat janji dengan dokter secara online  di rumah sakit pilihan di sini.

Baca Juga: Jaga Kesehatan Usus, Ini Beda Radang Usus dan Radang Usus Besar

Kenali Tanda dan Gejala Penyakit Hirschsprung

Selain sulit buang air besar, penyakit hirschsprung ditandai dengan muntah dengan cairan berwarna cokelat atau hijau, perut buncit, dan rewel. Pada anak yang berusia lebih besar, penyakit hirschsprung menimbulkan gejala kelelahan, perut kembung, sembelit, impaksi tinja, nafsu makan berkurang, berat badan bertambah, dan tumbuh kembang terganggu. 

Jika Si Kecil menunjukkan gejala mirip penyakit hirschsprung, jangan ragu untuk berbicara dengan dokter Halodoc agar mendapat diagnosis dan penanganan yang tepat. 

Penyakit Hirschsprung Bisa Diobati

Diagnosis penyakit hirschsprung diawali dengan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan colok dubur. Bila perlu, dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menetapkan diagnosis. Di antaranya adalah foto rontgen, tes mengukur kekuatan otot usus, dan biopsi. Setelah diagnosis ditetapkan, pengobatan penyakit hirschsprung diatasi sesuai tingkat keparahan.

Umumnya penyakit hirschsprung diatasi dengan operasi. Namun pada kasus yang tergolong ringan, pengidap hanya memerlukan satu kali operasi, yaitu operasi penarikan usus. Melalui operasi ini, bagian dalam dari usus besar yang tidak bersaraf akan dibuang. Kemudian, bagian tersebut ditarik dan disambungkan ke usus sehat langsung ke area dubur atau anus.

Baca Juga: Perlu Tahu, 3 Jenis dan Penanganan Radang Usus

Operasi stoma dilakukan jika pengidap dalam kondisi tidak stabil atau pengidap merupakan bayi lahir prematur yang memiliki berat badan rendah dan sedang sakit. Operasi ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu:

  • Tahap pertama. Terdapat proses pemotongan bagian usus bermasalah dan pengarahan usus sehat ke lubang baru (stoma). Lubang ini dibuat untuk pengganti anus untuk membuang feses. Selanjutnya, dokter memasang kantong khusus ke stoma untuk menampung feses. Bila sudah penuh, isi kantong bisa dibuang.

  • Tahap kedua, dilakukan jika kondisi pengidap stabil dan usus besar mulai pulih. Pada tahap ini, dokter menutup lubang di perut dan menyambungkan usus yang sehat ke dubur atau anus.

Setelah menjalani operasi, pengidap menjalani rawat inap selama beberapa hari sambil diinfus dan diberi obat pereda sakit hingga kondisinya membaik.