Benarkah Yoga Ampuh Mencegah Sindrom Gilbert?

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Benarkah Yoga Ampuh Mencegah Sindrom Gilbert?

Halodoc, Jakarta – Olahraga bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah, bahkan mengatasi penyakit tertentu, salah satunya adalah sindrom gilbert. Penyakit ini disebut-sebut bisa dicegah dengan rutin melakukan olahraga yoga. Benarkah? 

Sindrom Gilbert adalah penyakit keturunan yang ditandai dengan tingginya kadar bilirubin indirek di dalam darah. Bilirubin indirek merupakan pigmen berwarna kuning kecokelatan yang diproduksi tubuh dari hasil pemecahan sel darah merah oleh limpa. Penyakit ini menyebabkan pengidapnya mengalami perubahan warna pada mata dan kulit menjadi kuning. Walaupun begitu, kondisi organ hati pengidap penyakit ini umumnya normal alias tidak mengalami gangguan sama sekali. 

Baca juga: Sindrom Gilbert Bisa Sebabkan Penyakit Kuning Intra-Hepatik, Mitos atau Fakta

Olahraga Yoga untuk Mencegah Sindrom Gilbert 

Sindrom Gilbert merupakan jenis penyakit ringan yang tidak membutuhkan penanganan medis secara khusus. Penyakit ini terjadi karena adanya mutasi pada gen UGT1A1, yaitu gen yang bertugas untuk mengendalikan kadar bilirubin. Gen tersebut bertugas memberi instruksi dari otak ke hati untuk menghasilkan enzim pengubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk. Setelah itu, hasil olahan akan dibuang melalui urine atau feses. 

Pada pengidap sindrom Gilbert, terjadi gangguan pada proses pengubahan tersebut. Mutasi gen yang terjadi pada pengidap sindrom Gilbert menyebabkan organ hati tidak dapat menghasilkan enzim yang dibutuhkan. Hal itu kemudian menyebabkan terjadinya penumpukan bilirubin indirek di dalam aliran darah. Belum diketahui apa penyebab penyakit ini, tetapi ada beberapa kondisi yang diduga menjadi pemicu meningkatnya kadar bilirubin di dalam darah. 

Kadar bilirubin bisa meningkat karena stres atau tekanan emosional, olahraga berat, kurang tidur, dehidrasi alias kekurangan cairan dalam tubuh, kurang asupan makanan, serta mengidap infeksi tertentu. Hal ini juga bisa terjadi pada wanita yang tengah berada dalam periode menstruasi. Meski tidak berbahaya dan bersifat ringan, tetapi penyakit ini sebaiknya tidak diabaikan begitu saja.   

Baca juga: Ini Hal yang Perlu Diketahui tentang Penyakit Kuning

Sindrom gilbert tidak dapat dicegah, karena penyakit ini bersifat genetik alias diturunkan langsung dari keluar. Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah naiknya kadar bilirubin dalam darah, salah satunya adalah melakukan olahraga yoga. Jenis olahraga ini dianjurkan karena dilakukan dengan teknik relaksasi. Rutin melakukan aktivitas semacam ini nyatanya bisa menghindari lonjakan kadar bilirubin. Selain yoga, kamu juga bisa mencoba untuk rutin melakukan meditasi atau mendengarkan musik. 

Mencegah naiknya kadar bilirubin juga bisa dilakukan dengan cukup istirahat setidaknya 8 jam sehari, perbanyak konsumsi cairan, makan teratur, dan hindari melakukan aktivitas fisik berat. Hindari juga konsumsi minuman beralkohol karena bisa mengganggu fungsi organ hati. Gejala khas dari kondisi ini adalah perubahan warna mata dan kulit menjadi kuning

Selain itu, kondisi ini juga bisa memicu gejala berupa mual, mudah merasa lelah, nyeri pada area perut, diare, serta penurunan nafsu makan. Namun, kebanyakan pengidap penyakit ini seringnya tidak menyadari bahwa ia mengidap penyakit sindrom Gilbert karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain. Gejala baru terasa setelah kadar bilirubin dalam darah semakin meningkat, sehingga gejala yang muncul pun semakin jelas. 

Baca juga: Ibu Perlu Tahu, Penanganan Tepat Penyakit Kuning pada Bayi

Masih penasaran tentang sindrom Gilbert dan cara mencegah gejalanya? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja! Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. DIakses pada 2019. Gilbert’s Syndrome.
Aura Yoga UK. Diakses pada 2019. Gilbert’s Syndrome.