Bisa Sebabkan Kebutaan, Inilah Komplikasi Akibat Distonia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Komplikasi Akibat Distonia, Distonia, penyakit distonia

Halodoc, Jakarta - Dystonia terjadi karena gerakan otot seseorang berkontraksi secara tak terkendali. Kontraksi tersebut menyebabkan bagian tubuh yang terpengaruh berputar tidak disengaja, menyebabkan gerakan berulang atau postur tubuh tidak normal. Dystonia juga bisa memengaruhi satu otot, kelompok otot, atau seluruh tubuh. Wanita lebih rentan terhadap gangguan ini dibandingkan dengan pria.

Kebanyakan kasus dystonia tidak memiliki penyebab spesifik. Dystonia tampaknya terkait dengan masalah pada ganglia basalis. Ganglia basalis merupakan area otak yang bertanggung jawab untuk memulai kontraksi otot. Gangguan tersebut melibatkan cara sel saraf berkomunikasi.

Baca juga: Makan Sehat Bisa Turunkan Risiko Depresi

Meski jarang terjadi, penyakit dystonia tetap perlu diwaspadai. Kabarnya penyakit tersebut dapat menyebabkan komplikasi yang serius pada pengidapnya. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi dapat dialami pengidap dystonia, tergantung pada jenis dan lokasinya:

  • Keterbatasan gerak. Komplikasi ini dapat membuat pengidapnya terkendala dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Gangguan dystonia juga dapat menyebabkan pengidapnya mengalami kesulitan dalam menggerakan rahang, menelan, bahkan kehilangan kemampuan berbicara.
  • Kelelahan dan rasa nyeri. Kontraksi otot yang berlebihan lama kelamaan akan membuat pengidap merasa lelah dan bahkan mengalami nyeri dan kesakitan.
  • Kebutaan apabila distonia menyerang kelopak mata.
  • Masalah psikologis. Tidak sedikit pengidap dystonia yang akhirnya mengalami rasa cemas, depresi, ataupun menarik diri dari lingkungan sosial akibat penyakit yang dialaminya.

Kamu juga perlu tahu bahwa gejala distonia sangat bervariasi, tergantung pada bagian tubuh yang mengalaminya, antara lain:

  • Kedutan.
  • Gemetar (tremor).
  • Anggota tubuh pada posisi yang tidak biasa, misalnya leher yang miring.
  • Kram otot.
  • Mata berkedip tanpa terkendali.
  • Gangguan berbicara dan menelan.

Baca Juga: Mutasi Genetik Bisa Sebabkan Dystonia di Usia Muda

Stres atau kelelahan dapat menimbulkan gejala atau menyebabkannya memburuk. Orang yang mengalami dystonia sering mengeluh rasa sakit dan kelelahan karena kontraksi otot yang konstan. Apabila gejala dystonia terjadi pada masa kanak-kanak, umumnya mereka muncul terlebih dahulu di kaki atau tangan. Namun, selanjutnya mereka cepat maju ke bagian tubuh lainnya. Setelah masa remaja, laju perkembangannya cenderung melambat.

Di saat dystonia timbul di awal masa dewasa, umumnya terjadi di bagian atas tubuh. Kemudian ada perkembangan gejala yang melambat. Dystonia yang dimulai pada awal masa dewasa tetap fokal (memengaruhi salah satu bagian tubuh) atau segmental (dua atau lebih bagian tubuh yang berdekatan).

Hingga saat ini, belum diketahui pengobatan yang bisa menyembuhkan dystonia. Namun, terdapat beberapa pengobatan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya, yaitu:

  • Obat-obatan, yang diberikan adalah obat yang dapat memengaruhi sinyal pada otak. Beberapa obat yang bisa diberikan yaitu: trihexyphenidyl, diazepam, lorazepam, baclofen, dan clonazepam.
  • Suntik botox (botulinum toxin). Obat ini akan langsung disuntikkan pada area yang terkena dan perlu diulang setiap 3 bulan
  • Fisioterapi. Dokter juga bisa menyarankan untuk melakukan fisioterapi, untuk melatih kembali otot yang terkena.
  • Operasi. Jenis pengobatan operasi yang disarankan dokter yaitu memasang alat khusus untuk mengalirkan arus listrik ke otak (deep brain stimulation), atau memotong saraf yang mengatur otot yang terkena (selective denervation and surgery).

Baca Juga: Bagaimana Gangguan Otot Distonia Diobati?

Demikianlah informasi mengenai gangguan dystonia yang perlu kamu ketahui. Apabila kamu mengalami gejalanya, komunikasikan segera pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran penanganan yang tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.