• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisakah Pengidap Tifus Dirawat di Rumah?

Bisakah Pengidap Tifus Dirawat di Rumah?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Kamu mungkin sudah tidak asing dengan penyakit tifus yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini umumnya terjadi ketika seseorang memakan atau meminum air yang telah terkontaminasi bakteri. Penularannya dilakukan ketika pengidap tifus mencemari pasokan air di sekitarnya melalui tinja, yang mengandung bakteri dalam konsentrasi tinggi. 

Kontaminasi pasokan air dapat mencemari pasokan makanan. Perlu diketahui, bakteri Salmonella typhi mampu bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam air atau limbah kering. Lantas, bisakah pengidap tifus hanya melakukan perawatan di rumah saja? Ini ulasannya.

Baca juga: Mitos atau Fakta Tifus Bisa Menyebabkan Kematian?

Perawatan Tifus di Rumah

Apabila gejala yang dialami pengidap tifus tidak begitu serius, maka perawatan bisa dilakukan di rumah saja. Namun, konsumsi antibiotik tidak boleh terlewat dan harus dipastikan habis agar bakteri benar-benar mati.

Selain minum antibiotik, melansir dari Mayo Clinic, berikut perawatan rumahan lain yang perlu dilakukan, seperti:

  • Rutin mencuci tangan. Pastikan kamu rutin mencuci tangan dan usahakan menggunakan sabun dan air hangat untuk memastikan bakteri yang menempel pada tangan benar-benar mati. Kamu juga wajib mencuci tangan sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.

  • Banyak minum air. Minum air mencegah dehidrasi akibat demam dan diare yang berkepanjangan. Apabila kamu mengalami dehidrasi parah, kamu mungkin perlu menerima cairan melalui vena (intravena) di rumah sakit.

  • Hindari minum air putih yang tidak diolah. Air yang terkontaminasi adalah penyebab utama tifus. Sebaiknya hanya minum air botolan atau air yang telah direbus. 

  • Hindari buah dan sayuran mentah. Produk mentah mungkin telah dicuci dalam air yang telah terkontaminasi, hindari mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang tidak dapat dikupas.

  • Pilih makanan panas. Hindari makanan yang disimpan atau disajikan pada suhu kamar. Mengonsumsi makanan yang masih hangat adalah pilihan yang terbaik. Hindari pula membeli makanan yang dijual di restoran atau di pinggir jalan karena belum terbukti kebersihannya. Yang terbaik adalah memasak makanan sendiri di rumah. 

  • Banyak istirahat. Tidur yang cukup mengembalikan energi dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan penyakit. Jadi, pastikan kamu tidak begadang dan tidur tepat waktu. 

Baca juga: Ini Alasan Jika Terkena Tifus Harus Bed Rest

Gejala Tifus yang Wajib Diwaspadai

Tanda dan gejala cenderung berkembang secara bertahap dan umumnya muncul satu hingga tiga minggu setelah terpapar penyakit. Munculnya tifus biasanya diawali dengan gejala berikut:

  • Demam yang mulai rendah dan meningkat setiap hari, kemungkinan mencapai setinggi 40,5 derajat Celcius;
  • Sakit kepala;
  • Kelemahan dan kelelahan;
  • Nyeri otot;
  • Berkeringat;
  • Batuk kering;
  • Kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan;
  • Sakit perut;
  • Diare atau sembelit;
  • Ruam;
  • Perut bengkak.

Apabila gejala-gejala di atas tidak segera ditangani, pengidap tifus bisa mengembangkan gejala yang lebih serius seperti mengigau dan  terbaring lemah dengan mata setengah tertutup. Pada beberapa orang, tanda dan gejala dapat kembali hingga dua minggu setelah demam mereda. Temui dokter segera jika kamu curiga mengidap tifus. 

Baca juga: 6 Hal yang Harus Diperhatikan Usai Terkena Penyakit Tifus

Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit untuk memeriksakan diri, kamu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Typhoid fever.
Medical News Today. Diakses pada 2020. What you need to know about typhoid.