• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Tifus Bisa Menyebabkan Kematian?

Mitos atau Fakta Tifus Bisa Menyebabkan Kematian?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Sudah familiar kan dengan demam tifoid alias tifus (tipes)? Penyakit ini terbilang sangat umum kok di negara kita. Kira-kira hampir 100.000 orang di Indonesia terjangkit penyakit ini tiap tahunnya. Cukup banyak, bukan? 

Tifus sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri nakalnya bernama Salmonella typhi. Tifus tergolong penyakit yang amat menular dengan cepat, penularannya bisa melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi bakteri. 

Pertanyaanya, benarkah penyakit tifus bisa sebabkan kematian? Kira-kira mitos atau fakta ya? 

Baca Juga: Kena Tifus, Bolehkah Tetap Beraktivitas Berat?

Bisa Fatal pada Anak-Anak

Mau tahu betapa seriusnya penyakit tifus secara global? Jangan kaget, menurut data dari WHO diperkirakan 11–20 juta orang terserang tifus atau demam tifoid tiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 128.000 hingga 161.000 meninggal akibat penyakit ini. Hmm, bikin waswas kan? 

Bagaimana dengan di negara kita? Meski datanya belum diperbarui, kita bisa mendapat gambaran mengenai penyakit Salmonellosis dari laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI. 

Di negara kita, salah satu spesies bakteri ini yang sering menimbulkan masalah kesehatan penting adalah Salmonella typhi. Bakteri inilah yang menyebabkan penyakit tifus. 

Pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak dengan pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia, dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15 persen. Urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52 persen (Depkes RI, 2009).

Dalam beberapa kasus penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi, salah satunya robeknya saluran pencernaan. Kemudian, bakteri penyebab tifus juga bisa menyebar, hingga rongga perut (peritoneum) atau kondisi yang disebut peritonitis. 

Nah, bila infeksinya menyebar dengan cepat melalui darah ke berbagai organ lainnya, maka dampaknya bisa berbahaya. Kondisi ini bisa menyebabkan berbagai organ berhenti berfungsi, bahkan mengakibatkan kematian bila tak segera ditangani. 

Hal yang perlu diingat, anak-anak merupakan kelompok yang rentang terserang tifus. Alasannya, sistem imun mereka belum terbentuk dengan sempurna. Tuh, yakin masih mau memandang sebelah mata penyakit tifus

Baca juga: Ini Alasan Jika Terkena Tifus Harus Bed Rest

Demam Tinggi sampai BAB Berdarah

Pada dasarnya, gejala tifus pada anak tak berbeda dengan orang dewasa. Hal lain yang perlu diingat, gejala tipes bisa ringan maupun berat. Kondisi ini bergantung pada kondisi kesehatan, usia, dan sejarah vaksinasi pengidapnya. 

Lalu, bagaimana dengan masa inkubasinya? Umumnya, masa inkubasi bakteri penyebab tifus selama 7–14 hari. Masa ini dihitung ketika bakteri masuk ke dalam tubuh hingga menimbulkan gejala. Lalu, bagaimana dengan gejalanya?

Nah, berikut gejala tifus menurut para ahli di WHO dan National Institutes of Health - MedlinePlus. 

  1. Gejala awal termasuk demam, perasaan tidak enak badan dan sakit perut. Demam tinggi (39.5 derajat Celsius) atau diare yang parah terjadi karena penyakit semakin memburuk.

  2. Beberapa orang mengembangkan ruam yang disebut "bintik-bintik mawar," yang merupakan bintik-bintik merah kecil di perut dan dada.

  3. Mimisan.

  4. Perasaan lambat, lamban, dan lemah

  5. Penyakit akut ditandai oleh demam berkepanjangan, sakit kepala, mual, dan kehilangan nafsu makan.

  6. Sembelit atau kadang-kadang diare.

  7. Kelelahan yang parah.

  8. Kebingungan, delirium, melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada (halusinasi)

  9. Kesulitan memperhatikan (attention deficit).

  10. Feses berdarah.

Baca juga: Kebiasaan Buruk Ini Picu Penyakit Tipes

Hal yang perlu diingat, gejala tifus seringkali tidak spesifik. Bahkan, secara klinis tidak dapat dibedakan dari penyakit demam lainnya. Oleh sebab itu, segeralah temui dokter bila mengalami gejala-gejala di atas. Apalagi bila demam tak hilang pada hari ketiga hingga kelima.  Nantinya dokter akan melakukan pemeriksaan, mungkin saja tes darah untuk membantu menegakkan diagnosisnya. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Kementerian Pertanian Indonesia - Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. Diakses pada 2020. Dampak Salmonellosis Terhadap Kesehatan, Sosial, dan Ekonomi.
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
WHO. Diakses pada Januari 2020. Typhoid Fever.