Enggak Perlu Khawatir, Ini 4 Efek Samping Kontrasepsi IUD

Enggak Perlu Khawatir, Ini 4 Efek Samping Kontrasepsi IUD
KEHAMILAN 08 May 2018

Halodoc, Jakarta – Hingga kini, masih banyak wanita yang berpikir dua kali untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang jenis IUD. Hingga kini masih ada wanita yang takut menggunakan IUD. Alasannya sederhana, karena takut terhadap proses pemasangannya hingga efek samping kontrasepsi IUD.

Padahal sebetulnya, ketakutan itu muncul karena belum benar-benar tahu fakta tentang IUD itu sendiri. Nah, sebelum membahas tentang efek samping IUD, yuk kenalan dulu dengan jenis IUD. Alat kontrasepsi IUD ada dua jenis, yaitu IUD hormonal dan non-hormonal.

IUD hormonal bekerja dengan cara mengeluarkan Levonorgestrel, yaitu hormon progestin yang juga terkandung dalam pil KB dan implan. Hormon ini berperan dalam mengentalkan cairan di bagian leher rahim sehingga sperma susah masuk ke dalam rahim.

Dengan demikian, peluang sel sperma untuk membuahi sel telur nyaris tidak ada. Kalaupun berhasil terjadi pembuahan, hormon ini juga menyebabkan rahim tidak kondusif untuk menempelnya sel telur yang telah dibuahi.

Sementara itu, IUD non-hormonal memiliki komponen berupa lilitan tembaga (copper). Copper ini bekerja dengan cara mengeluarkan zat yang menimbulkan peradangan di dalam rahim yang mampu merusak sel sperma dan sel telur sebelum keduanya sempat bertemu.

Nah, setiap “benda asing” yang masuk ke dalam tubuh pasti menimbulkan reaksi, begitu pula IUD. Reaksi yang diharapkan adalah tidak terjadinya kehamilan, sementara reaksi yang tidak kita harapkan lebih dikenal dengan istilah “efek samping”. Berikut ini adalah efek samping dari IUD:

 1. Perubahan Pola Haid

Ini adalah efek samping yang paling umum dari penggunaan IUD. Pada IUD non hormonal (dikenal juga dengan istilah KB spiral), penyebabnya adalah zat peradangan yang dikeluarkan oleh tembaga tadi. Biasanya, tenaga kesehatan akan menjelaskan terlebih dahulu efek samping ini agar pasien tidak kaget ketika mengalami keluhan setelah pemasangan IUD. Apa saja bentuknya?

  • Spotting alias keluarnya flek
  • Durasi menstruasi yang lebih lama dari biasanya
  • Volume darah haid yang lebih banyak
  • Nyeri haid yang lebih intens

Hal ini tidak berbahaya, dan umumnya terjadi hanya pada bulan ke-3 hingga ke-6. kamu tidak perlu kuatir, bahkan pengguna KB suntik pun bisa mengalami flek. Flek ini lama kelamaan akan berkurang dan hilang dalam beberapa bulan.

Sementara itu, jika nyeri haid terasa sangat mengganggu, kamu bisa minum obat pereda nyeri yang aman dikonsumsi seperti parasetamol. Volume darah haid yang lebih banyak juga bisa disiasati dengan cara mengganti pembalut lebih sering dan memilih pembalut yang berdaya tampung lebih banyak.

Sebaliknya, pengguna IUD hormonal bisa mengalami menstruasi yang lebih tidak teratur dan sedikit, bahkan tidak mens sama sekali (amenorrhea). Hal ini juga wajar dan tidak berbahaya.

2. Terganggunya Hubungan Intim

IUD berbentuk alat kecil seperti huruf T. Begitu kecilnya, IUD memiliki benang untuk memudahkan proses pengeluarannya dari rahim kelak. Benang ini menjuntai dari dalam rahim hingga bagian atas liang Miss V. Jika benang dipotong, terkadang dapat timbul gesekan dengan Mr P ketika berhubungan.

Bagi sebagian pria hal tersebut menimbulkan rasa nyeri maupun geli. Tenang saja, kamu dapat meminta bidan atau dokter kandungan untuk menekuk benang tersebut dan menyelipkannya ke mulut rahim sehingga ujung benang tidak terasa tajam.

Ketiika Wanita Menggunakan IUD

Jangan khawatir merasa nyeri atau sakit ketika menggunakan IUD. Meskipun berbentuk huruf T, IUD terbuat dari bahan yang sangat lentur sehingga tidak akan melukai rahim. Selain itu, letak IUD berada di dalam rahim. Mr P hanya mampu mencapai liang Miss V, sehingga tidak akan dapat menyentuh IUD apalagi sampai membuatnya melukai rahim.

Bagaimana Jika Efek Samping Terasa Mengganggu?

Kamu bisa memeriksakan diri pada bidan atau dokter. Pemeriksaan lebih lanjut bisa dilakukan untuk mencari tahu penyebabnya. Jika tidak ada masalah yang ditemukan, mungkin saja kamu tidak cocok dengan IUD dan bisa memilih alat kontrasepsi jenis lain. Setiap tubuh memiliki kondisi yang berbeda-beda, sehingga ketidakcocokan adalah hal yang wajar.

Lebih Terasa Manfaatnya

Meskipun demikian, cukup jarang wanita yang melepas IUD dengan alasan tidak cocok. Kebanyakan wanita pengguna IUD merasakan manfaat yang lebih banyak daripada efek sampingnya. Selain efektif mencegah kehamilan, durasi kontrasepsi yang ditawarkan cukup lama, yaitu 5-10 tahun. kamu hanya perlu cek berkala setiap enam bulan sekali untuk memastikan IUD masih pada posisi yang tepat.

Di luar itu, tubuh kamu telah beradaptasi dan efek samping yang sempat dirasakan di awal pemasangan sudah tidak lagi terasa. Jika ingin merencanakan kehamilan, kamu bisa kembali subur terhitung sejak IUD dikeluarkan dari rahim.

Nah, kalau punya pertanyaan seputar IUD. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc dan menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja, dimana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play!

 

*artikel ini pernah tayang di SKATA dengan pada tanggal  4 Mei 2018

 


Rekomendasi Artikel

KECANTIKAN

18 July 2018

Sebagian besar kasus cacar air yang parah terjadi pada orang dewasa. Lalu, bagaimana sih cara merawat wajah se...

Selengkapnya

IBU & ANAK

18 July 2018

Kata ahli, anak balita pun juga bisa mengalami abses gigi. Nah, agar anak terhindar dari penyakit ini, yuk ken...

Selengkapnya

KECANTIKAN

18 July 2018

Tak hanya di bibir saja, stomatitis pun bisa terjadi pada gusi. Nah, berikut hal yang perlu diketahui mengenai...

Selengkapnya