01 February 2019

Bukan Menyerang Kepala, Abdominal Migrain Melanda Perut

Bukan Menyerang Kepala, Abdominal Migrain Melanda Perut

Halodoc, Jakarta – Persis seperti namanya, abdominal migrain adalah nyeri perut yang pemicunya hampir sama dengan migrain biasa. Abdominal migrain lebih sering terjadi pada anak–anak dibanding orang dewasa. Kebanyakan kasus terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan abdominal migrain. Lantas, apa saja yang perlu diketahui tentang migrain perut pada anak ini?

Baca Juga: 5 Hal tentang Migrain yang Perlu Diketahui

Abdominal Migrain Rentan Terjadi pada Usia 2 – 10 Tahun

Anak perempuan rentan mengalami migrain perut dibanding anak laki–laki. Penyebab migrain perut sebenarnya belum diketahui secara pasti, tapi para ahli menduga penyebabnya berkaitan dengan perubahan kadar serotonin dan histamin dalam tubuh. Pemicu migrain perut lainnya berupa stres, gangguan kecemasan, serta konsumsi cokelat atau makanan asin berlebih.

Pengidap migrain perut biasanya kesulitan mengunyah atau menelan makan, kelelahan, kulit pucat atau memerah, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan ada lingkaran hitam di bawah mata. Gejala sering terjadi mendadak dan berlangsung beberapa hari. Ibu tidak perlu khawatir karena migrain perut jarang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Namun, segera bicara pada dokter Halodoc jika gejala migrain perut yang dialami Si Kecil memburuk setelah tiga hari.

Abdominal Migrain Sulit Didiagnosis

Bukan karena penyakitnya sulit terdeteksi, tapi karena anak–anak cenderung sulit menceritakan gejala sakit yang dialaminya. Maka itu, diagnosis dilakukan dengan menanyakan anggota keluarga dengan riwayat migrain, baik migrain kepala maupun migrain perut. Dokter kemudian mencocokkan gejala yang dialami Si Kecil dengan daftar spesifik yang telah dibuat para ahli migrain. Jika dicurigai adanya migrain perut, dokter akan melakukan pemeriksaan lab untuk menetapkan diagnosis, seperti tes darah, tes urine, tes pencitraan, dan elektroensefalografi (EEG).

Pengobatan nantinya ditujukan untuk mengurangi gejala fisik dan mencegah komplikasi. Obat diresepkan jika gejala migrain perut cukup parah dan sering terjadi. Pengobatan dilakukan dengan menghindari pemicu migrain, sehingga ibu perlu mencatat waktu terjadinya migrain perut, makanan yang dikonsumsi, dan aktivitas Si Kecil sebelum gejala migrain perut muncul. Ibu perlu memastikan Si Kecil mengonsumsi makanan kaya serat, cukup tidur, tetap aktif, dan ajari Si Kecil cara mengelola emosi.

Baca Juga: Belum Dewasa, Anak-Anak Juga Bisa Kena Migrain

Kenali Jenis Migrain Lain pada Anak

Ada tiga jenis migrain yang mungkin dialami Si Kecil. Berikut di antaranya:

  • Migrain tanpa aura. Migrain yang paling sering ditemukan. Gejala khasnya berupa nyeri kepala, mual, dan muntah. Pengidap migrain tanpa aura biasanya tidak mengalami gangguan persepsi, seperti mencium aroma aneh serta melihat cahaya terang dan suara yang sebenarnya tidak ada.

  • Migrain dengan aura. Berbeda dengan migrain tanpa aura, pengidap migrain jenis ini biasanya mengalami gangguan persepsi aneh. Misalnya, melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Aura bisa tampak 10 menit atau satu hari sebelum migrain terjadi. Serangan migrain jenis ini lebih ringan dibanding migrain tanpa aura.

  • Sindrom periodik. Sindrom periodik terdiri dari vertigo, muntah berkelanjutan (sering terjadi saat Si Kecil bangun pagi), dan migrain perut. Vertigo menyebabkan gangguan keseimbangan pada Si Kecil, terutama saat memiringkan kepala. Sedangkan, muntah berkelanjutan dan migrain perut terjadi beberapa hari pada waktu tertentu.

Kalau Si Kecil menunjukkan tanda dan gejala migrain perut, segera bicara pada dokter Halodoc untuk mendapatkan saran penanganan yang tepat. Gunakan fitur Contact Doctor yang ada di Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!