• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hati-Hati Cakaran Kucing Sebabkan Infeksi Berbahaya

Hati-Hati Cakaran Kucing Sebabkan Infeksi Berbahaya

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Hati-Hati Cakaran Kucing Sebabkan Infeksi Berbahaya

Halodoc, Jakarta - Apakah kamu pecinta kucing? Jika iya, dicakar kucing mungkin bukan hal yang aneh lagi. Namun sepertinya, mulai sekarang kamu tidak boleh menyepelekan luka bekas cakaran kucing, karena ternyata bisa menimbulkan infeksi berbahaya. Nama infeksi itu adalah Bartonellosis atau cat scratch disease. Untuk tahu lebih jelas tentang gangguan ini, baca ulasan berikut ini!

Infeksi Disebabkan oleh Cakaran Kucing

Infeksi akibat cakaran kucing ini dialami oleh dokter hewan asal Wellington, New Zealand, Victoria Altoft. Cakaran kucing yang diterimanya pada 2010 lalu membuatnya harus mengalami banyak gejala yang mengganggu hingga bertahun-tahun setelahnya. Faktanya, penyakit ini sudah ditemukan sekitar 40 tahun lalu, sehingga bukan sesuatu yang baru terjadi.

Ia mengalami nyeri otot dan kelelahan ekstrem yang dikiranya adalah gejala flu biasa, hingga kemudian penglihatannya kabur dan membuatnya merasa ada yang tidak beres. Ia pun memeriksakan diri ke dokter dan menjalani pemeriksaan MRI dan pungsi lumbar (lumbar puncture) untuk menguji cairan tulang belakangnya.

Baca juga: Bahaya Cakaran Kucing yang Perlu Diwaspadai

Setelah hasilnya keluar, dokter menemukan bahwa ia terinfeksi bakteri Bartonella henselae, yang didapat dari cakaran kucing yang ditularkan ke kucing oleh kutu (pinjal) jenis Ctenocephalides felis. Mendengar diagnosis dokter, Altoft mengaku tidak menyangka bahwa cakaran kucingnya bisa memberikan efek yang begitu besar bagi tubuhnya.

Infeksi yang Tidak Bisa Dianggap Sepele

Infeksi yang menimpa Altoft tentu perlu menjadi perhatian. Ternyata, luka cakaran kucing yang mungkin selama ini dianggap luka ringan bisa menyebabkan infeksi serius. Agar lebih jelas, mari kita bahas lebih lanjut tentang Bartonellosis atau cat scratch disease ini.

Cat-scratch Disease sendiri adalah penyakit akibat infeksi bakteri Bartonella henselae yang disebabkan oleh kucing yang terinfeksi Bartonella dari pinjal, Gangguan ini terjadi saat hewan tersebut menjilati luka yang terbuka dan menggigit atau mencakar pemiliknya, hingga menimbulkan robekan di kulit. Bakteri ini merupakan salah satu jenis bakteri paling umum di dunia yang kerap ditemukan di mulut atau cakar kucing.

Gangguan ini biasanya terjadi setelah 3–14 hari setelah kejadian tersebut, hingga menimbulkan infeksi ringan. Ketika mengalami cat scratch disease, infeksi dapat menyebar ke kelenjar getah bening terdekat dari luka cakaran. Perlu diketahui bahwa kelenjar getah bening merupakan kumpulan jaringan yang memiliki peran dalam melawan infeksi.

Cat scratch disease adalah penyakit yang umumnya terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini biasanya lebih umum terjadi pada mereka yang memelihara kucing atau bersinggungan dengan kucing setiap hari. Maka dari itu, jika kamu sehabis mengalami gigitan kucing dan merasakan gangguan pada kelenjar getah bening di kulit, ada baiknya berhati-hati terhadap penyakit ini.

Baca juga: 3 Hewan Rumahan yang Bisa Membawa Penyakit

Gejala yang Muncul Beberapa Hari Setelah Dicakar

Gejala umumnya dapat terlihat beberapa hari setelah dicakar. Pertama, biasanya akan muncul benjolan yang melepuh di tempat gigitan atau cakaran yang sering kali mengandung nanah. Mulai 1 hingga 3 minggu kemudian, kelenjar getah bening yang terdekat dengan benjolan akan mulai membengkak. Pembengkakan berarti sel darah putih (lymphocytes) yang merupakan sel pelawan infeksi akan bertambah banyak dan melawan bakteri.

Tanda dan gejala khas lainnya dari cat scratch disease adalah:

  • Mual dan muntah;
  • Sakit kepala;
  • Demam;

Nyeri otot atau sendi;

  • Kelelahan;
  • Kehilangan selera makan;

Menurunnya berat badan.

Baca juga: Cara Merawat Kucing Peliharaan agar Tak Terjangkit Toksoplasmosis

Bagaimana Mengobatinya?

Infeksi Bartonellosis biasanya hilang dalam satu hingga dua minggu dengan pengobatan antibiotik agar kelenjar getah bening kembali normal. Kecuali, jika sistem imun tubuh tidak bekerja dengan baik. Sistem imun tubuh dapat menangani infeksi tanpa antibiotik pada kasus-kasus yang ringan. Orang-orang dengan imun yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS) mungkin akan mengalami infeksi yang lebih parah dan umumnya membutuhkan antibiotik.

Selain mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, pengidap cat scratch disease juga perlu melakukan perawatan rumahan, seperti:

  • Istirahat hingga demam turun dan energi kembali.
  • Konsumsi antibiotik hingga habis, apabila diresepkan oleh dokter.
  • Perhatikan luka cakaran dari kucing untuk tanda-tanda infeksi.
  • Jangan memegang hewan-hewan yang tidak dikenal.
  • Hindari bermain dengan kucing jika merasa dalam kondisi kurang sehat.
  • Cuci tangan dengan sabun setiap kali bermain, membelai, atau menggendong kucing.

Maka dari itu, setiap orang yang memiliki kucing wajib berhati-hati terhadap penyakit ini. Pastikan untuk rutin memandikan hewan peliharaan serta pemeriksaan ke dokter hewan, termasuk memberikan obat anti kutu, obat cacing, dan vaksinasi rutin. Membatasi area bermain kucing juga penting agar tidak membawa segala penyakit yang berasal dari luar rumah yang dapat membahayakan sang kucing dan pemiliknya.

Jika kamu menemukan kutu atau pinjal pada bulu atau tubuh kucing, ada baiknya segera berdiskusi atau menemui dengan dokter hewan untuk segera mendapatkan penanganan. Sehingga, kucing terhindar dari Bartonella yang bisa menyebabkan Cat-Scratch disease, penyebab infeksi berbahaya akibat cakarannya.

Itulah sedikit penjelasan tentang Bartonellosis atau cat scratch disease. Jika kamu mengalami tanda-tanda yang telah dipaparkan tadi, segera periksakan diri ke dokter di rumah sakit pilihan kamu. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Tunggu apa lagi? Yuk download aplikasinya sekarang!

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2021. Cat-Scratch Disease.
Healthline. Diakses pada 2021. Cat Scratch Fever.
Daily Mail. Diakses pada 2021. Vet, 41, Battles Extreme Fatigue Every day after a Cat Scratch at Work Nine Years Ago Left Her so Ill Doctors Thought She Had a Brain Tumour.