• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cegah Anak Stunting dengan 4 Cara Ini

Cegah Anak Stunting dengan 4 Cara Ini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Cegah Anak Stunting dengan 4 Cara Ini

“Stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang dapat menyebabkan anak memiliki postur tubuh yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Stunting sendiri dapat dicegah sejak dalam kandungan dengan memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi ibu selama hamil. Selain itu, memperhatikan pola makan anak, pola asuh orangtua, dan memenuhi kebutuhan air serta sanitasi yang bersih untuk anak.”

Halodoc, Jakarta – Sebaiknya jangan lewatkan untuk memeriksakan kondisi kesehatan serta tumbuh kembang anak. Hal ini dilakukan untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan yang dapat dialami anak di awal kehidupannya. Salah satu gangguan kesehatan yang bisa dihindari adalah kondisi stunting. 

Upaya keras pemerintah dalam mengurangi kasus stunting di Indonesia pun juga perlu didukung oleh peranan orangtua agar dapat berhasil mengatasi masalah kesehatan tersebut. Karena itu, ketahui cara mencegah stunting yang bisa dilakukan oleh ibu sejak masih dalam masa kehamilan dan seterusnya di sini.

Kenali Lebih Banyak Mengenai Stunting

Bagi kamu yang belum familiar dengan kondisi ini, stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang menyebabkan anak memiliki postur tubuh pendek, jauh dari rata-rata anak lain di usia sepantaran. Tanda-tanda stunting biasanya baru akan terlihat saat anak berusia dua tahun. Stunting mulai terjadi ketika janin masih dalam kandungan, disebabkan oleh asupan makanan ibu selama kehamilan yang kurang bergizi. Akibatnya, gizi yang didapat anak dalam kandungan tidak mencukupi. Kekurangan gizi akan menghambat pertumbuhan bayi dan bisa terus berlanjut setelah kelahiran.

Di samping itu, stunting bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi. Entah itu karena tidak diberikan ASI eksklusif atau MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas, termasuk zink, zat besi, serta protein.

Baca juga: Pentingnya Asupan Nutrisi bagi Ibu Hamil

Sebenarnya mencegah stunting sudah bisa dilakukan sejak masa kehamilan. Kuncinya tentu dengan meningkatkan asupan gizi ibu hamil dengan makanan yang berkualitas baik. Zat besi dan asam folat adalah kombinasi nutrisi penting selama kehamilan yang dapat mencegah stunting pada anak ketika ia dilahirkan nanti. 

Berikut cara mencegah terjadinya stunting pada anak:

Membiasakan Pola Makan Sehat

Bagi seorang calon ibu, asupan gizi saat bayi masih dalam kandungan merupakan hal yang tidak kalah penting untuk mengurangi risiko stunting pada anak. Karena itu, sang calon ibu juga harus memperhatikan asupan nutrisinya dengan baik saat hamil. Cara lainnya, yaitu pemenuhan gizi di awal perkembangan anak pada 1.000 hari pertama. Salah satunya adalah dengan pemberian ASI eksklusif untuk sang buah hati di 6 bulan awal dan bisa juga dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun. Namun, jangan lupa juga untuk memberikan makanan pendamping ASI yang bergizi dan seimbang.

Pola makan dengan gizi yang seimbang ini perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah dalam satu porsi makan diisi oleh sayuran dan buah-buahan, setengahnya lagi diisi oleh sumber protein (hewani atau nabati) dengan proporsi lebih banyak dari sumber karbohidrat.

Baca juga: Nutrisi yang Diperlukan Ibu Menyusui

Pola Asuh yang Baik

Hal yang tidak kalah penting yaitu faktor perilaku, salah satunya adalah keluarga sebagai tempat pertama tumbuh kembang anak. Orangtua yang baik adalah mereka yang memahami edukasi perkembangan kesehatan anak sejak masa kehamilan. Hal ini mencakup pemenuhan gizi saat hamil, serta memeriksakan kandungan empat kali selama masa kehamilan. Pemberian hak anak untuk mendapatkan kekebalan melalui imunisasi juga hal yang tidak boleh dilupakan. Psikologis dan mental sang ibu juga perlu dijaga agar stabil. Maka dari itu, kerja sama ibu dan ayah untuk tetap harmonis pun tak kalah penting dalam tumbuh kembang anak.

Kebersihan Air dan Sanitasi

Kebersihkan berkaitan erat dengan kesehatan. Lingkungan yang bersih mampu menjaga kekebalan tubuh anak, sehingga terhindar dari infeksi. Salah satunya adalah dengan menyediakan sanitasi dan air bersih. Ciri-ciri air bersih adalah tidak berbau, jernih, terasa tawar, dan tidak mengandung zat kimia.

Contoh hidup sehat dengan membiasakan anak untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan. Hal ini sebagai tindakan tidak langsung untuk mencegah anak menderita infeksi yang merupakan salah satu penyebab stunting.

Membaca dan Memahami Ilmu Kesehatan

Apapun cara pencegahan yang kamu ketahui tidak akan bisa dilakukan dengan mudah jika orangtua tidak memiliki informasi dan pemahaman yang baik tentang kesehatan, salah satunya tentang stunting. Pemahaman baik tentang stunting akan mampu memberikan orangtua kesadaran arti pemenuhan gizi bagi anak. Di era teknologi saat ini, informasi kesehatan ini bisa kita dapatkan dengan mudah melalui internet ataupun buku. Maka dari itu, kegiatan membaca bisa menjadi cara sederhana bagi orangtua untuk memahami stunting.

Sudah menjadi sebuah keharusan bagi para orangtua untuk berbagi informasi tentang stunting pada lingkungan sekitarnya. Pasalnya, efek jangka panjang dari stunting mampu mengganggu kualitas kecerdasan anak yang berdampak terhadap rendahnya sumber daya manusia Indonesia.

Baca juga: 4 Hal Ini Bisa Buat Si Kecil Terlahir dengan Badan Tinggi

Kamu bisa berdiskusi dengan dokter di Halodoc untuk memahami stunting lebih baik. Kemudahan berdiskusi dengan dokter anak dapat ibu rasakan jika memiliki aplikasi Halodoc yang bisa kamu download di Google Play atau App Store. Komunikasi bisa dilakukan via Chat atau Voice Call/Video Call kapan dan di mana pun tanpa perlu ke luar rumah..

 
Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2021. Reducing Stunting in Children.
Cigna. Diakses pada 2020. Agar Anak Sehat Dan Cerdas, Mari Cegah Stunting Sejak Dini.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2021. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh, dan Sanitasi.