Sama-Sama karena Nyamuk, Chikungunya Vs DBD Lebih Bahaya Mana?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sama-Sama karena Nyamuk, Chikungunya Vs DBD Lebih Bahaya Mana?

Halodoc, Jakarta – Chikungunya dan demam berdarah dengue (DBD) adalah dua jenis penyakit penularan virusnya terjadi karena gigitan nyamuk. Hal itu membuat kedua jenis penyakit ini sering disalahartikan dan dianggap sama. Padahal, chikungunya dan DBD merupakan jenis penyakit yang gejala dan tingkat keparahannya masing-masing berbeda.

Nyatanya, jenis virus yang menjadi pemicu penyakit chikungunya dan DBD berbeda satu sama lain. Meski begitu, kedua jenis penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap remeh. Lantas, mana yang lebih berbahaya antara penyakit chikungunya dan DBD?

Penyakit Chikungunya

Chikungunya adalah jenis penyakit akibat infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Salah satu gejala dari penyakit ini adalah naiknya suhu tubuh alias demam hingga mencapai 38 derajat Celcius atau lebih. Kabar buruknya, nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus, merupakan jenis nyamuk yang menularkan demam berdarah dan demam chikungunya lebih sering menggigit anak.

Penyakit chikungunya memiliki gejala yang biasanya akan muncul dan terasa pada hari kelima setelah gigitan nyamuk. Meski begitu, gejala bisa saja muncul segera setelah nyamuk menulari penyakit. Lama atau cepatnya penularan penyakit chikungunya tergantung pada kondisi tubuh seseorang. Gejala awal yang biasanya muncul adalah demam yang terjadi secara tiba-tiba.

Selain demam, chikungunya juga menimbulkan gejala berupa rasa nyeri pada sendi. Chikungunya juga bisa menyebabkan kelumpuhan sementara yang sebenarnya merupakan dampak dari nyeri sendi parah yang terjadi. Nyeri sendi biasanya akan muncul segera atau bersamaan dengan demam.

Selain kedua gejala utama tersebut, chikungunya juga masih akan menunjukkan gejala lain, seperti nyeri otot, menggigil karena kedinginan, sakit kepala yang tak tertahankan, ruam atau bintik merah di sekujur tubuh, dan rasa lelah yang terasa sangat menyiksa.

Baca juga: 3 Alasan Mengapa Chikungunya Berbahaya

Pada beberapa kasus, chikungunya juga bisa menyebabkan pengidapnya mengalami gejala mual dan muntah. Meski sangat jarang terjadi, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi, salah satunya adalah gangguan pada saraf.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Biasanya, penularan pada manusia terjadi lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Gejala awal DBD, umumnya mirip dengan flu, sehingga banyak orang terkecoh dan baru mengetahui dirinya terinfeksi virus setelah parah.

Perjalanan penyakit DBD memiliki fase yang unik. Dimulai dari fase pra-infeksi, fase demam, hingga fase kritis atau penyembuhan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, pada empat sampai sepuluh hari setelah digigit nyamuk, seseorang biasanya akan mengalami demam hingga 40 derajat Celsius. Beberapa gejala lain juga biasanya menyertai, seperti sakit kepala parah dan nyeri otot.

Baca juga: 5 Gejala DBD yang Tak Boleh Diabaikan

Saat demam mengalami penurunan bila masuk fase kritis, maka akan terjadi gangguan tekanan darah dan tanda vital lain. Tapi, bila tanda-tanda vital yang ditunjukkan baik, artinya DBD telah masuk fase penyembuhan.

Mana yang Lebih Berbahaya?

Kedua penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap remeh dan sama-sama bisa memicu komplikasi berbahaya. Pengidap demam chikungunya yang mengalami nyeri sendi yang parah dan kemungkinan besar lainnya adalah masalah pada neurologi atau sistem saraf. Sementara demam berdarah dengue bisa menyebabkan seseorang mengalami gejala syok, kesulitan bernapas, dan pendarahan sebagai komplikasi. Komplikasi lainnya yang terjadi adalah hilangnya nyawa seseorang.

Baca juga: Awas, Demam Berdarah Sebabkan 2 Komplikasi Ini

Biar lebih jelas, cari tahu seputar penyakit chikungunya dan DBD serta mana yang lebih berbahaya dengan bertanya ke dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!