• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dampak Negatif Covid-19 pada Anak yang Punya Komorbid

Dampak Negatif Covid-19 pada Anak yang Punya Komorbid

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Dampak Negatif Covid-19 pada Anak yang Punya Komorbid

“Penyakit komorbid pada anak dalam situasi normal sudah melemahkan sistem imun anak. Kondisi kesehatan anak bisa semakin parah jika Si Kecil terinfeksi COVID-19. Infeksi COVID-19 pada anak dengan komorbid akan memperparah gejala dan menghambat pengobatan penyakit penyerta. Hal inilah yang menyebabkan tingginya kasus kematian anak yang terinfeksi COVID-19.”

Halodoc, Jakarta – Anak yang terinfeksi COVID-19 juga bisa mengalami komorbid atau penyakit penyerta. Kondisi ini bisa memperparah kondisi anak ketika terinfeksi, sama seperti yang dialami oleh orang dewasa yang memiliki komorbid dan terinfeksi COVID-19. Sejumlah pakar mengatakan penyakit komorbid menjadi penyebab tingginya angka kematian anak yang terinfeksi COVID-19. 

Komorbiditas adalah kondisi atau penyakit yang bisa menyebabkan seseorang berisiko pada komplikasi kesehatan yang lebih besar jika tertular COVID-19. Beberapa komorbid yang dialami oleh anak yaitu obesitas, asma, hipertensi, diabetes, TBC, penyakit jantung, kanker anak, cerebral palsy, hingga gangguan ginjal. Penting bagi orangtua untuk bisa mencegah penyakit komorbid maupun infeksi COVID-19. 

Baca juga: IDI Sarankan Vaksinasi Covid-19 untuk Anak-Anak

Infeksi COVID-19 dan Komorbid Mengancam Jiwa Anak

Dilansir dari laman Liputan6.com, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B. Pulungan, menyampaikan, komorbid yang tidak terdeteksi membuat kematian anak akibat COVID-19 tinggi.

Menurut data IDAI, 1 dari 8 kasus COVID-19 adalah anak-anak. Dari jumlah kasus tersebut, 3 hingga 5 persen anak di antaranya meninggal dunia akibat COVID-19 dan hampir separuhnya adalah balita. 

Komorbid pada anak yang terinfeksi COVID-19 bisa berdampak negatif, bahkan yang terburuk adalah mengancam nyawa. Penyakit komorbid sudah menyebabkan anak mengalami gangguan kesehatan. Jika ditambah dengan infeksi COVID-19, maka kondisi kesehatan Si Kecil akan semakin berisiko dan parah.

Menurut penelitian FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) yang diterbitkan di International Journal of Infectious Diseases, sebanyak 40 persen anak yang terinfeksi COVID-19 di RSCM meninggal dunia dan sebagian besar dari mereka memiliki komorbid. 

Beberapa komorbid pada anak yang sering terjadi yaitu gagal ginjal kronik, kanker anak, penyakit jantung bawaan, obesitas, dan kurang gizi. Sebelum pandemi, penyakit tersebut sudah menjadi masalah di Indonesia. Kondisi ini semakin parah di masa pandemi.

Baca juga: Orangtua Jangan Lengah, Waspadai Gejala Virus Corona pada Anak

Komorbid Memperparah Gejala COVID-19

Orang dewasa yang memiliki obesitas biasanya mengalami gejala yang parah jika terinfeksi COVID-19, begitu juga jika dialami oleh anak-anak yang obesitas. Umumnya, anak yang obesitas memiliki komorbid lainnya yang sebelumnya belum terdeteksi. Misalnya diabetes dan gangguan pernapasan. 

Seperti diketahui, virus corona tidak hanya menginfeksi sistem pernapasan, tapi juga saluran pencernaan dan sistem saraf. Pada anak dengan komorbid, infeksi COVID-19 mengganggu kinerja organ tubuh yang bisa memperparah penyakit komorbid, bahkan menghalangi pengobatan penyakit penyerta. 

Hambatan pengobatan penyakit komorbid rentan terjadi pada anak yang mengidap kanker, dimana mereka harus menjalani kemoterapi. Pengobatan kemoterapi akan terhambat saat anak harus menjalani pengobatan COVID-19. Akibatnya, meski Si Kecil sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19, namun penyakit komorbidnya tetap tidak terkendali.

Baca juga: Perlu Tahu, Ini 4 Fakta Virus Corona pada Anak dan Balita

Orangtua perlu mengenali bagaimana gejala COVID-19 muncul pada anak. Pahami juga bahwa gejala COVID-19 bisa berbeda pada setiap anak. Umumnya gejala COVID-19 berupa sesak napas dan batuk, namun gejala ini belum tentu terjadi pada anak.

Anak yang terinfeksi COVID biasanya diawali dengan demam tinggi, kemudian disusul sesak napas atau batuk. Gejala ini sering dianggap ringan hingga disepelekan orangtua. Padahal jika anak memiliki komorbid, gejala COVID-19 akan cepat menjadi parah apalagi jika tidak segera ditangani secara medis. 

Jika ayah dan ibu melihat Si Kecil demam dan sering membawa anak ke rumah sakit untuk menjalani penyakit komorbid, maka gejala tersebut jangan disepelekan. Segera lakukan tes COVID-19 untuk memastikan kondisi anak.

Jika hasilnya positif atau suspek, segera buat jadwal kunjungan dokter spesialis anak di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc agar mendapatkan pengobatan yang sesuai. 

Referensi:

International Journal of Infection Diseases. Diakses pada 2021. Mortality in children with positive SARS-CoV-2 polymerase chain reaction test: Lessons learned from a tertiary referral hospital in Indonesia
MIMS. Diakses pada 2021. Age, comorbidities predict severe COVID-19 in children
CNN Indonesia. Diakses pada 2021. Bahaya Komorbid pada Anak Positif Covid-19
Liputan6.com. Diakses pada 2021. IDAI: Komorbid Tak Terdeteksi, Kematian Anak Akibat COVID-19 Tinggi
Children’s Radio Foundation. Diakses pada 2021. COVID-19 and Comorbidities (South Africa & Zambia)