Dapat Sebabkan Kematian, Awasi 3 Penyebab Botulisme

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Dapat Sebabkan Kematian, Awasi 3 Penyebab Botulisme

Halodoc, Jakarta – Keracunan akibat bakteri Clostridium botulinum disebut botulisme. Racun ini menyerang sistem saraf otak, tulang belakang, dan saraf lain yang menyebabkan paralisis atau kelumpuhan nyawa. Bila tidak segera ditangani, kelumpuhan bisa menyebar ke otot pengontrol pernapasan hingga mengancam nyawa.

Baca Juga: Alasan Botulisme Bisa Sebabkan Gangguan Saraf

Waspada, Ini Penyebab Botulisme Ini

Racun botulisme bisa ditemukan di tanah, debu, sungai, dan dasar laut. Bakteri ini tidak berbahaya jika berada pada kondisi lingkungan normal, tapi berpotensi melepaskan racun saat kekurangan oksigen. Misalnya saat berada di dalam lumpur dan tanah yang tidak bergerak, kaleng tertutup, botol, atau dalam tubuh manusia. Maka itu, kamu perlu mengenali jenis botulisme agar lebih waspada.

  • Foodborne botulism. Terjadi akibat konsumsi makanan kaleng rendah asam yang tidak dikemas dengan baik. Termasuk sayur, buah-buahan, ikan, dan daging. Gejala botulisme jenis ini muncul 12-36 jam setelah racun masuk ke dalam tubuh.

  • Wound botulism. Bakteri C. botulinum masuk ke dalam tubuh lewat luka terbuka, rentan terjadi pada pengguna narkoba suntik. Gejala muncul 10 hari setelah terpapar racun.

  • Infant botulism. Terjadi pada bayi setelah mengonsumsi makanan mengandung spora bakteri C. botulinum. Botulinum jenis ini berbahaya bagi bayi berusia kurang dari satu tahun. Lebih dari itu, tubuh bayi sudah membangun sistem imun sehingga infeksi bakteri C. botulinum bisa dicegah. Gejala botulinum jenis ini muncul 18-36 jam setelah racun masuk ke dalam tubuh.

Infeksi bakteri C. botulinum berupa sulit menelan (disfagia), mulut kering, otot wajah melemah, gangguan penglihatan, kelopak mata terkulai, sesak napas, mual, muntah, kram perut, hingga kelumpuhan. Pada kasus infant botulism, bayi tampak sering mengiler, mudah mengantuk, sulit mengendalikan gerak kepala, rewel, sembelit, sulit diberi ASI atau makan, suara tangis lemah, lemas, hingga kelumpuhan.

Baca Juga: Harus Tahu, Gejala-Gejala dari Botulisme

Begini Cara Mengobati dan Mencegah Botulisme

Pengobatan botulisme disesuaikan dengan jenisnya. Secara umum, botulisme diobati dengan pemberian antitoksin, antibiotik, rehabilitasi, hingga alat bantu pernapasan. Pengidap foodborne botulism diberikan perangsang muntah dan pencahar guna membuang racun di dalam tubuh. Sedangkan pada wound botulism, pengidap menjalani operasi untuk membuang jaringan yang terinfeksi.

Penanganan perlu difokuskan pada upaya pencegahan, dibanding pengobatan setelah infeksi terjadi. Ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah botulisme:

  • Konsumsi makanan kalengan setelah memasaknya pada suhu di atas 100 derajat Celsius, setidaknya 20-100 menit. Durasi memasak disesuaikan dengan jenis makanan kaleng yang dikonsumsi.

  • Hindari konsumsi makanan kemasan yang rusak, makanan diawetkan yang berbau, dan makanan kedaluwarsa.

  • Hindari memberi madu pada bayi berusia kurang dari satu tahun. Madu berpotensi mengandung bakteri C. botulinum.

  • Hindari penyalahgunaan obat-obatan terlarang, terutama narkoba suntik.

Baca Juga: Begini 5 Tips Sederhana Mencegah Botulisme

Itulah penyebab dan gejala botulisme yang perlu diketahui. Kalau timbul gejala setelah konsumsi makanan, seperti mual, muntah, atau diare, jangan ragu berdiskusi pada dokter Halodoc untuk mencari tahu penyebabnya. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk bicara pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!