Diabaikan Kanker Kelenjar Air Liur Sulit Dideteksi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Diabaikan Kanker Kelenjar Air Liur Sulit Dideteksi

Halodoc, Jakarta – Ada banyak penyakit yang sering terlambat ditangani karena diabaikan begitu saja, salah satunya kanker kelenjar air liur. Umumnya, penyakit-penyakit yang diabaikan ini menjadi sulit dideteksi karena memang jarang menunjukkan gejala yang jelas. Padahal, mengabaikan penyakit bisa berakibat fatal membuat kondisi menjadi lebih buruk. 

Kanker kelenjar air liur merupakan tumor yang menyerang pada satu atau beberapa kelenjar ludah. Pada awalnya, tumor bersifat jinak dan bermula pada salah satu kelenjar ludah. Namun seiring waktu, tumor jinak yang diabaikan berubah menjadi ganas dan menyebabkan kanker. Lantas, bagaimana sebenarnya cara untuk mendeteksi kanker kelenjar air liur? 

Baca juga: Ada Benjolan di Bawah Dagu, Ini Cara Atasi Sialolithiasis

Mendeteksi Kanker Kelenjar Air Liur 

Kelenjar ludah memiliki tugas memproduksi air liur dan mengalirkannya ke mulut. Air liur yang dialirkan mengandung enzim yang penting dalam proses pencernaan makanan. Selain itu, enzim ini juga menjadi antibodi yang berfungsi sebagai pelindung mulut dan tenggorokan dari serangan infeksi. Salah satu gangguan yang bisa terjadi pada kelenjar ini adalah munculnya tumor jinak yang bisa bekembang menjadi tumor ganas alias kanker. 

Kabar buruknya, penyakit ini sering terlambat dideteksi karena kanker kelenjar ludah bisa muncul tanpa diawali dengan gejala tertentu. Namun seiring berjalannya waktu, penyakit ini mulai menunjukkan gejala berupa muncul benjolan yang tidak terasa sakit di sekitar rahang, leher, atau mulut. Pengidap penyakit ini juga mengalami gejala pipi bengkak, sebagian wajah mati rasa, keluar cairan dari telinga, serta kesulitan menelan dan membuka mulut lebar. 

Baca juga: Orang Lanjut Usia dan Mulut Kering, Apa Hubungannya?

Penyakit ini diduga terjadi karena adanya perubahan genetik pada sel kelenjar ludah. Namun, hingga kini masih belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan mutasi bisa terjadi. Ada beberapa faktor yang disebut bisa meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit ini, seperti: 

  • Berjenis kelamin laki-laki.

  • Berusia lanjut.

  • Pernah terpapar radiasi.

  • Memiliki keluarga yang mengalami atau memiliki riwayat kanker kelenjar air liur.

  • Aktif merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol. 

  • Kurang asupan nutrisi dan pola makan yang tidak sehat.

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan menanyakan gejala yang muncul, faktor risiko, serta riwayat kanker dalam keluarga. Setelah itu, pemeriksaan dilakukan dengan mengamati kondisi fisik, mulai dari mulut, hingga tenggorokan. Pemeriksaan kulit juga akan dilakukan jika muncul gejala kelumpuhan di saraf wajah. 

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan tersebut, biasanya akan dilakukan tes penunjang. Tujuan tes lanjutan ini adalah memastikan diagnosis kanker sudah tepat. Ada beberapa jenis tes penunjang yang bisa dilakukan, mulai dari biopsi dengan mengambil sampel tumor di kelenjar air liur kemudian diperiksa di laboratorium. Setelah itu, dokter juga akan melakukan prosedur endoskopi. 

Pada kasus kanker kelenjar air liur, endoskopi dilakukan untuk mengamati sel kanker. Pemeriksaan ini dijalankan dengan menggunakan alat khusus berbentuk selang kecil yang bernama endoskop. Alat tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam mulut menuju organ yang ingin diperiksa. Selanjutnya, dokter mungkin melakukan pemindaian untuk mengetahui letak kanker dan penyebarannya. Pemindaian bisa dilakukan dengan foto Rontgen, CT scan, atau MRI.

Baca juga: Penyebab Mulut Terasa Kering Meskipun Sudah Cukup Minum

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
American Cancer Society. Diakses pada 2019. Salivary Gland Cancer.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Salivary Gland Cancer: Management and Treatment.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Salivary Gland Tumors.