Difteri Sebabkan Kesulitan Menelan, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
difteri-sebabkan-kesulitan-menelan-benarkah

Halodoc, Jakarta - Gejala spesifik seseorang yang mengalami difteri tergantung pada jenis bakteri tertentu yang terlibat, dan lokasi tubuh yang terkena. Salah satu jenis difteri lebih umum terjadi di daerah tropis yang sering mengakibatkan borok kulit daripada infeksi pernapasan atau kesulitan menelan.

Kasus klasik difteri adalah infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh bakteri. Ini menghasilkan pseudomembran abu-abu, atau penutup yang terlihat seperti membran, di atas lapisan hidung dan tenggorokan di sekitar area amandel. Pseudomembrane ini juga bisa berwarna kehijauan atau kebiruan, dan bahkan hitam jika telah terjadi perdarahan.

Gambaran awal infeksi, sebelum pseudomembran muncul, meliputi:

  • Demam rendah, malaise, dan lemah.

  • Kelenjar bengkak di leher.

  • Pembengkakan jaringan lunak di leher, memberikan penampilan 'leher banteng'.

  • Keluarnya cairan dari hidung.

  • Detak jantung berdetak cepat.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Anak-anak dengan infeksi difteri dalam rongga di belakang hidung dan mulut lebih mungkin untuk memiliki gejala awal berikut:

  • Mual dan muntah.

  • Menggigil, sakit kepala, dan demam.

Setelah seseorang pertama kali terinfeksi bakteri, ada periode inkubasi rata-rata 5 hari sebelum tanda-tanda dan gejala awal muncul. Setelah gejala awal muncul, dalam waktu 12 hingga 24 jam, pseudomembran akan mulai terbentuk jika bakteri beracun, yang mengarah ke:

  • Sakit tenggorokan.

  • Kesulitan menelan.

  • Kemungkinan penyumbatan yang menyebabkan kesulitan bernapas.

Jika membran meluas ke laring, suara serak dan batuk berlendir mungkin terjadi, seperti juga bahaya obstruksi jalan napas. Membran juga dapat meluas ke sistem pernapasan menuju paru-paru.

Berpotensi Muncul Komplikasi

Komplikasi kemungkinan dapat terjadi jika masalah difteri tidak segera diobati. Komplikasi tersebut meliputi:

  • Masalah pernapasan. Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan racun. Toksin ini merusak jaringan di area infeksi langsung, biasanya pada hidung dan tenggorokan. Di bagian tersebut, infeksi menghasilkan membran keras berwarna kelabu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri dan zat-zat lainnya. Membran ini bisa menghambat pernapasan.
  • Kerusakan jantung. Toksin difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain di tubuh, seperti otot jantung menyebabkan komplikasi seperti peradangan otot jantung (miokarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis mungkin sedikit, muncul sebagai kelainan minor pada elektrokardiogram, atau parah yang menyebabkan gagal jantung kongestif dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Toksin itu juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Target yang khas adalah saraf ke tenggorokan, yaitu saat konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Saraf pada lengan dan tungkai juga bisa meradang, menyebabkan kelemahan otot. Jika racun C diphtheriae merusak saraf yang membantu mengendalikan otot yang digunakan dalam bernafas, otot-otot ini dapat menjadi lumpuh. Respirasi kemudian menjadi mustahil tanpa respirator atau alat lain untuk membantu bernafas.

Dengan perawatan, kebanyakan orang dengan difteri akan terselamatkan dari potensi komplikasi ini, tetapi pemulihannya sering kali berjalan lambat. Difteri berakibat fatal pada sebanyak 3 persen dari mereka yang mengidap penyakit ini.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Penyebab Umum Difteri

Bakteri Corynebacterium diphtheriae menyebabkan difteri. Biasanya bakteri ini berkembang biak di dekat permukaan selaput lendir tenggorokan. Selain itu, bakteri jenis ini juga menyebar melalui tiga rute:

  • Tetesan udara. Ketika bersin atau batuk orang yang terinfeksi melepaskan kabut dari tetesan yang terkontaminasi, orang di dekatnya dapat menghirup bakteri C. diphtheriae. Difteri menyebar dengan cara ini, terutama dalam kondisi yang penuh sesak.

  • Barang-barang pribadi yang terkontaminasi. Orang-orang terkadang tertular difteri setelah menyentuh barang-barang pribadi orang yang terinfeksi, minum dari bekas gelas yang tidak dicuci orang yang terinfeksi itu atau melakukan kontak yang sama dekat dengan barang-barang lain di mana sekresi yang sarat bakteri dapat disimpan.

  • Barang rumah tangga yang terkontaminasi. Dalam kasus yang jarang terjadi, difteri menyebar pada barang-barang rumah tangga yang dipakai bersama, seperti handuk atau mainan.

  • Kamu juga bisa bersentuhan dengan bakteri penyebab difteri dengan menyentuh luka yang terinfeksi.

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Orang yang telah terinfeksi oleh bakteri difteri dan yang belum diobati dapat menginfeksi orang yang tidak kebal hingga enam minggu, bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun. Untuk itu, jika kamu mengalami gejala yang kamu kenal maupun tidak dikenal sebaiknya tidak menduga-duga sendiri, lebih baik tanyakan pada dokter melalui Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria

Medical News Today. Diakses pada 2019. Everything you need to know about diphtheria