01 February 2019

Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Halodoc, Jakarta - Sekitar pertengahan hingga akhir 2017 lalu, Indonesia sempat heboh dengan mewabahnya kembali difteri, setelah sekian lama aman dari ancaman penyakit berbahaya ini. Data Kementerian Kesehatan, menunjukkan hingga November 2017, ada sekitar 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri, dengan total kasus sekitar 622 dan 32 di antaranya dilaporkan meninggal. Kondisi ini pun sempat ditetapkan statusnya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), oleh Kemenkes. Sebenarnya, apa yang menyebabkan penyakit ini mewabah di Indonesia?

Sebelum membahas tentang penyebab mewabahnya difteri di Indonesia, mari bahas terlebih dahulu sedikit tentang penyakit ini. Difteri adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri penyebab difteri ini dapat menghasilkan racun berbahaya yang mudah menyebar ke bagian tubuh lain. Dalam kasus yang parah, penyakit difteri dapat menyerang kulit, jantung, dan sistem saraf otak.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Gejala difteri yang biasanya muncul paling pertama adalah badan lemah lesu, radang tenggorokan, disertai demam tinggi bahkan hingga menggigil. Selanjutnya bakteri penyebab difteri akan mulai memproduksi racun ketika sudah masuk dan menyerang sistem pernapasan. Racun tersebut akan merusak jaringan dan sel-sel sehat pada sistem pernapasan, sehingga terbentuklah lapisan abu-abu tebal di selaput lendir sepanjang sistem pernapasan dalam 2-3 hari setelah paparan infeksi pertama kali.

Lapisan abu-abu tebal ini disebut dengan pseudomembrane. Lapisan pseudomembrane dapat sangat menebal hingga menutupi jaringan hidung, amandel, kotak suara, dan tenggorokan. Akibatnya, orang yang terkena difteri akan kesulitan bernapas atau bahkan menelan.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Selain menyerang sistem pernapasan, bakteri penyebab difteri juga dapat menginfeksi kulit. Difteri dapat menyebabkan kulit tampak kemerahan, bengkak, dan terasa sakit ketika disentuh. Bahkan mungkin juga timbul luka basah seperti borok (ulkus) yang akan meninggalkan bekas. Biasanya, difteri kulit dialami oleh orang-orang yang tinggal di pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.

Secara umum, berikut beberapa gejala difteri yang perlu diwaspadai:

  • Radang tenggorokan.

  • Tenggorokan dan amandel diselimuti lapisan tebal berwarna abu-abu.

  • Demam tinggi hingga menggigil.

  • Merasa lemas, lesu, dan tidak bertenaga.

  • Pembengkakan kelenjar pada leher.

  • Kesulitan menelan (disfagia).

  • Suara serak.

  • Sulit bernapas.

Apa yang Membuat Difteri Mewabah di Indonesia?

Umumnya, infeksi bakteri pada kasus difteri sangat mudah menular, karena bakteri penyebabnya hidup dan menyebar di udara. Jadi, jika kamu menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, kamu dapat tertular difteri. Cara ini sangat efektif untuk menyebabkan wabah difteri, terutama di tempat yang ramai.

Baca juga: Sedang Mewabah, Kenali Gejala Difteri dan Cara Mencegahnya

Penyebab lain dari difteri adalah kontak dengan benda-benda pribadi serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi. Seseorang juga bisa tertular penyakit ini apabila memegang tisu bekas orang yang terinfeksi atau minum dari gelas pengidap yang tidak dicuci. Penularan bisa juga lewat penggunaan peralatan rumah tangga secara bergantian dengan orang yang terinfeksi, seperti handuk atau mainan.

Selain itu, difteri juga dapat menjadi wabah karena minimnya pelaksanaan imunisasi difteri di suatu wilayah. Itulah sebabnya difteri dapat sangat mudah menyebar di kalangan orang dewasa maupun anak-anak, yang tidak diimunisasi. Dengan kata lain, seseorang lebih mungkin terjangkit infeksi ini jika tidak mendapatkan atau tidak melengkapi imunisasi difteri sewaktu kecil dulu.

Terlepas dari vaksinasi, ada beberapa faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena difteri, yaitu:

  • Memiliki gangguan sistem imun, misalnya terkena HIV/AIDS, kanker, atau penyakit lainnya.

  • Memiliki sistem imun lemah, misalnya anak-anak dan lansia.

  • Tinggal di pemukiman padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga dengan baik.

  • Melakukan perjalanan ke daerah yang terkena wabah difteri.

Itulah sedikit penjelasan tentang penyebab mewabahnya difteri di Indonesia. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter di aplikasi Halodoc, lewat fitur Contact Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!