Dipanggil Anak Haram, Ini Dampak Psikologisnya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Dipanggil Anak Haram, Ini Dampak Psikologisnya

Halodoc, Jakarta -  Kondisi keluarga yang harmonis adalah fondasi utama dalam membesarkan anak. Pasalnya, meski sekolah merupakan instansi utama tempat anak menerima pendidikan, tetapi keluarga memainkan peran paling besar dalam mendidik anak. Namun sayangnya tidak semua anak beruntung lahir di keluarga yang 'baik'.

Seperti kabar yang belakangan viral di Twitter, seorang penggunanya membagikan kisah pilu seorang anak yang mengalami penurunan nilai akademis akibat tekanan yang ia alami di keluarga. Akun dengan username @***tan*ie* menceritakan tentang tetangganya yang masih duduk di kelas 3 SD mengalami penurunan akademis yang cukup signifikan. Ternyata saat psikolog di sekolahnya menanyakan apa yang terjadi, si anak menjawab bahwa ia merasa apa yang ia lakukan percuma karena keluarganya tidak bangga dirinya karena ia hanya anak haram. Sontak, warganet banyak yang mengecam apa yang dilakukan keluarganya tersebut. 

Baca Juga: Anak Susah Tidur, Mungkinkah Pertanda Korban Bully?

Anak tersebut memang sudah ditinggal oleh sang ayah sejak kecil, sehingga keluarganya kerap menyinggung dengan menyematkan kata-kata yang seharusnya tidak diperdengarkan untuk anak. Meski ibunya sudah baik dan bekerja keras untuk anaknya, sayangnya saudara dari si anak tersebut selalu mencemoohnya dan menganggap remeh sang anak. Kebanyakan warganet menyayangkan sikap keluarganya dan khawatir terhadap kondisi bocah itu setelah kejadian tersebut.

Pernah mendengar kasus semacam ini di lingkunganmu? Jangan hanya diam, segera ajak anak untuk menemui psikolog. Buat janji dengan psikolog di rumah sakit kini lebih mudah dilakukan dengan Halodoc

Baca Juga: 5 Tips bagi Orangtua saat Anak jadi Korban Bullying

Lantas, Bagaimana Dampak Pelabelan "Anak Haram" Terhadap Psikologi Anak?

Sebelum jauh membahas efek pelabelan 'anak haram' kepada anak, sebenarnya saat sang ibu mengandung anak yang ditinggal oleh ayahnya ini, sang anak sudah mendapatkan dampak yang kurang baik untuk perkembangannya. Misalnya, rasa khawatir akan kekurangan gizi selama hamil karena ibu harus berjuang sendiri selama proses kehamilan. Kondisi ibu yang stres saat hamil juga tidak baik untuk perkembangan janin. Proses persalinan dapat terganggu karena ibu tidak mendapat dukungan dari orang terdekat. Meski ibu berhasil membesarkan anaknya hingga besar, namun alangkah lebih baik lagi jika anak lahir dalam keluarga yang harmonis.

Mendengar kasus ini, para ahli kejiwaan merasa heran dengan keluarga dekat yang menjuluki bocah tersebut 'anak haram'. Pasalnya sebagai keluarga, ini bukan tindakan yang pantas dilakukan. Dikhawatirkan dampak psikologis yang ia alami bisa berlangsung hingga ia dewasa yang kemudian menyebabkannya tidak tumbuh dengan optimal. 

Baca Juga: Supaya Anak Tidak Jadi Pembully, Begini Cara Mendidiknya

Menurut psikolog, dampak yang terjadi bisa berbentuk depresi. Secara klinis, depresi bisa bercirikan sedih terus-menerus, menjauhkan diri dari lingkungan luar, merasa tidak berguna atau tidak berharga, dan tidak menutup kemungkinan ada pikiran ingin bunuh diri. Atau bisa saja seseorang yang diejek seperti itu merasa ingin terus-menerus menjadi orang yang tidak berguna dengan menjadi anak nakal, karena sudah dicap tidak baik oleh lingkungan sekitarnya. Dalam kasus ini, efek semacam ini mungkin terjadi, karena sudah dimulai dari penurunan akademis yang ia alami.

Sebetulnya kemungkinan dampaknya tidak hanya ini saja. Di lain kasus, bisa jadi sang anak akan merasa marah, dan akan berusaha membuktikan bahwa orang lain telah salah menilai dia. Ia akan terpacu untuk menjadi anak yang cerdas dan membanggakan ibunya sehingga tidak lagi dianggap remeh orang lain. Untuk kasus seperti ini, psikolog bisa mengembangkan agar anak bisa meluapkan kekecewaan atau dendamnya menjadi hal yang positif. Dengan begini, sang anak bisa tumbuh dengan baik.


Referensi:

Momjunction (Diakses pada 2019). 8 Serious Negative Effects Of Verbal Abuse On Children.
Child Mind (Diakses pada 2019). Dealing with Embarrassment in Children.