Efek Gundala Putra Petir, Bukti Manusia Suka Superhero Sejak Bayi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Efek Gundala Putra Petir, Bukti Manusia Suka Superhero Sejak Bayi

Halodoc, Jakarta - Indonesia sedang demam film Gundala Putra Petir, yang berceritakan tentang seorang anak manusia dengan segala permasalahan dan konflik yang membuatnya berubah menjadi superhero. Sebelum adanya film ini, memang banyak sekali film bertemakan superhero yang tayang menghiasi bioskop di Indonesia. Sebut saja Avengers, Spider-Man, Justice League, dan masih banyak film lainnya yang berhasil meraup keuntungan besar. 

Larisnya film-film berceritakan pahlawan ini membuktikan bahwa masyarakat memiliki minat yang begitu tinggi terhadap semua hal atau cerita yang berhubungan dengan pahlawan, termasuk tokoh-tokohnya yang terkadang dielukan. Bahkan, tidak jarang mereka mengoleksi berbagai merchandise tokoh superhero. 

Benarkah Manusia Suka Superhero Sejak Bayi?

Sebenarnya, kamu bisa menemukan banyak sekali superhero, tidak melulu dalam cerita berbalut fiksi seperti yang diputar di bioskop. Kebanyakan, superhero di dunia nyata ini tidak punya kekuatan super seperti Gundala atau Avengers, tetapi memiliki jiwa yang begitu berani dan nyawa yang rela dipertaruhkan. 

Baca juga: Sebelum Nonton Incredibles 2 Perlu Tahu Dampaknya untuk Kesehatan

Sebut saja polisi, yang tanpanya tidak ada ketertiban dan keamanan. Pemadam kebakaran juga dapat disebut sebagai pahlawan karena tanpa mereka, api akan sulit dipadamkan. Pahlawan tidak selalu bersenjata, tetapi mampu membuat kekaguman tercipta, terlebih di mata anak-anak yang masih belia. Lalu, benarkah manusia sudah menyukai superhero sejak mereka masih bayi?

Setidaknya, hal tersebut yang berhasil dibuktikan oleh tim peneliti yang dikepalai oleh David Butler, pakar kejiwaan ISN Psychology College, Melbourne. Studi berjudul Preverbal Infants Affirm Third-Party Interventions that Protect Victims from Aggressors yang dipublikasikan dalam Nature Human Behaviour menyatakan bahwa manusia menyukai superhero bahkan sebelum bisa berbicara. 

Baca juga: Bukan Nama Superhero, Apa Itu Stone Man’s Disease?

Di dalam studi tersebut, tim peneliti dari Kyoto University menampilkan sebuah video animasi pendek yang menceritakan seseorang yang menyelamatkan diri dari kejaran para penjahat. Setelahnya, tampil sosok yang berperan sebagai penyelamat orang tersebut dengan mengalahkan tokoh yang menjadi penjahat. Setelah selesai menonton, responden yang mayoritas adalah balita diberikan replikasi masing-masing tokoh. 

Tim meminta responden memilih orang-orang yang mereka sukai. Hasilnya, mereka menyukai sang penyelamat alias tokoh superhero yang menolong orang yang dikejar penjahat tersebut. Tidak hanya itu, hasil studi tersebut membuktikan bahwa bayi mampu memahami kondisi yang menampilkan aksi positif sekaligus mengenali sosok superhero ini. 

David Butler mengungkapkan bahwa responden yang diambil kebanyakan adalah bayi berusia enam bulan. Pada usia tersebut, bayi belum bisa berbicara dan berada pada tahap tumbuh kembang awal. Tetapi, mayoritas responden memahami dinamika kekuatan dari setiap tokoh yang berbeda ini. 

Riset yang dilakukan David Butler dan rekan berhasil menunjukkan bahwa sejak kecil, manusia sudah mampu mengenali orang-orang baik dan sosok superhero. Tidak heran jika hingga kini, meski responden telah beranjak dewasa dan bahkan menua, film-film bertemakan superhero masih tetap menjadi pilihan utama untuk ditonton. 

Baca juga: Jaga Kesehatan Psikis, Ini Bedanya Psikologi dan Psikiatri

Menyukai superhero dan gemar menonton film bertema superhero bukan hal yang salah bahkan saat usia sudah menua tetap menjadi hal yang wajar. Jika masih belum jelas tentang alasan banyaknya orang yang menyukai tokoh superhero, kamu bisa bertanya langsung dengan psikolog lewat Halodoc, ya. Caranya mudah, tinggal download saja di smartphone kamu, ya! 

Referensi: 
Nature Human Behaviour 1, Article Number: 0037. David Butler, dkk. 2017. Diakses pada 2019. Preverbal Infants Affirm Third-Party Interventions that Protect Victims from Aggressors.
Kyoto University Research. Diakses pada 2019. Born to Love Superheroes. 
Psychology Today. Diakses pada 2019. 5 Surprising Ways That Heroes Improve Our Lives.