Encopresis Bisa Pengaruhi Kondisi Psikologis Anak

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Encopresis Bisa Pengaruhi Kondisi Psikologis Anak

Halodoc, Jakarta - Encopresis adalah gangguan pencernaan yang membuat anak kerap buang air besar di celana. Pada kasus encopresis, buang air besar di celana yang dialami anak bukan sesuatu yang ia sengaja lakukan.

Encopresis pada anak disebabkan karena feses berkumpul di usus besar dan rektum, sehingga usus menjadi penuh dan feses cair keluar atau bocor. Akhirnya, feses yang tertahan menyebabkan perut mengembung melebihi ukuran normal (distensi abdomen) dan kehilangan kendali untuk buang air besar.

Jadi, saat usus besar menjadi terlalu penuh, feses cair keluar secara tiba-tiba. Faktanya kondisi ini bisa disebabkan karena kondisi kesehatan atau kondisi mental yang anak alami. Dari segi kesehatan, encopresis pada anak bisa terjadi akibat sembelit kronis yang dialami anak. Akibat sembelit, feses menjadi kering sehingga dapat terasa sakit jika harus dikeluarkan. Sementara kondisi mental yang menyebabkan encopresis adalah stres emosional, seperti perubahan kehidupan dalam anak, perubahan pola makan, penggunaan toilet yang terlalu dini, mulai masuk sekolah, atau stres akibat orangtua yang bercerai. Ironinya, kondisi stres emosional ini bisa menyebabkan gangguan psikologis semakin parah. Pasalnya, buang air besar di celana membuat anak malu jika hal ini diketahui teman-temannya karena bisa jadi bahan ejekan. Beberapa faktor risiko dapat memicu terjadinya encopresis pada anak, antara lain:

  • ADHD, yaitu gangguan perilaku pada anak, seperti gangguan perkembangan yang menyebabkan aktivitas anak yang berlebihan.

  • Penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan sembelit, seperti obat batuk.

  • Gangguan spektrum autis, yaitu kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak anak. Kondisi ini memengaruhi kemampuan anak dalam bersosialisasi, berperilaku, dan berkomunikasi.

Baca Juga: Olahraga Bisa Lancarkan BAB, Kok Bisa?

Gejala Encopresis pada Anak

Anak yang mengalami gangguan defekasi ini mengalami beberapa gejala, antara lain:

  • Buang air besar di celana, yang kadang oleh para orangtua sering dianggap diare.

  • Sembelit, tinja memiliki tekstur yang keras dan kering.

  • Feses berukuran besar.

  • Tidak ingin atau menolak saat diminta untuk BAB.

  • Jarak antar BAB panjang.

  • Nafsu makan turun.

  • Mengompol di siang hari.

  • Kerap mengalami infeksi kandung kemih, khususnya pada anak perempuan.

Baca Juga: 4 Pengobatan Encopresis di Rumah

 

Pengobatan Encopresis

Agar beban psikologis dan kondisi kesehatannya tidak semakin parah, maka orangtua wajib memberikan pengobatan. Jika kondisinya karena sembelit, maka orangtua wajib memberikan mereka makanan yang berserat dan memintanya untuk tidak menahan BAB demi kebaikannya sendiri.

Sementara jika hal ini terkait masalah emosional, orangtua harus melakukan pendekatan secara perlahan dalam mengatasi stres yang anak alami. Perubahan gaya hidup berikut membantu anak mengatasi encopresis:

  • Perbanyak makanan berserat, termasuk sayur dan buah-buahan, untuk melembutkan feses.

  • Perbanyak minum air putih.

  • Batasi asupan susu sapi karena susu sapi berpotensi menyebabkan anak sembelit.

  • Buat waktu khusus untuk BAB seperti sehabis makan. Jangan lupa untuk memberikan motivasi dan pujian bagi anak selama waktu menunggu ini sampai BAB bisa keluar.

  • Pahami kondisi anak, karena biasanya BAB di celana karena encopresis bukan hal yang dikehendaki anak. Jangan memarahi atau mengomeli anak, sebagai orangtua kamu harus menunjukkan kasih sayang dan pengertian bahwa kondisinya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: Ini Menu MPASI untuk Mencegah Sembelit pada Bayi

Apabila sembelit dan gejala encopresis pada anak tidak kunjung membaik, sebaiknya segera hubungi dokter, ya. Gunakan aplikasi Halodoc untuk bicara dengan dokter kapan saja, di mana saja. Ibu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download aplikasi Halodoc  di App Store dan Google Play!