Faktor Risiko yang Dapat Memicu Sindrom Tourette

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Faktor Risiko yang Dapat Memicu Sindrom Tourette

Halodoc, Jakarta – Tourette syndrome alias sindrom Tourette adalah sebuah gangguan neuropsikiatri yang menyebabkan pengidapnya melakukan hal-hal secara berulang dan tiba-tiba. Biasanya, pengidap gangguan ini melakukan semacam gerakan atau mengucapkan kata-kata secara berulang yang tidak disengaja dan di luar kendali serta bersifat tiba-tiba. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh pengidap sindrom ini disebut TIC.

Umumnya, TIC muncul dan menyerang pada anak yang berusia 2 sampai 15 tahun dan lebih banyak menimpa anak laki-laki. Jika dibandingkan, anak laki-laki memiliki risiko hingga empat kali lebih besar dari pada anak perempuan. TIC bisa muncul dan bertahan pada seseorang hingga satu tahun atau lebih.

Hingga kini, masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi pemicu utama dari sindrom tourette. Tapi, banyak ahli yang beranggapan bahwa faktor genetika dan lingkungan berperan memicu TIC.

Lebih lanjut, TIC dipercaya muncul disebabkan oleh bahan kimia di otak yang mentransmisikan impuls saraf (neurotransmiter), termasuk dopamin dan serotonin. Sehingga, orang yang memiliki riwayat keluarga sindrom Tourette atau gangguan TIC disebut memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit yang sama.

Meski penyebab pastinya belum diketahui, namun pengidap sindrom ini harus segera mendapatkan serangkaian terapi dan pengobatan untuk mengontrol TIC yang muncul. Umumnya, TIC akan berkurang dan dapat dikendalikan seiring bertambahnya usia, namun jika tidak ditangani, maka dalam tingkat yang lebih parah dapat mengganggu komunikasi, fungsi, dan kualitas hidup sehari-hari.

Kondisi yang sering dikaitkan dengan sindrom Tourette adalah attention-deficit / hyperactivity disorder (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan spektrum autisme, gangguan tidur, depresi, gangguan kecemasan, serta tidak mampu mengontrol kemarahan.

Baca juga: Sindrom Tourette yang Tak Segera Ditangani Bisa Sebabkan OCD dan ADHD

Faktor Pemicu Sindrom Tourette

Meski masih belum diketahui secara pasti apa penyebab sindrom Tourette, namun ada sejumlah faktor yang diduga berkaitan. Risiko sindrom Tourette disebut meningkat pada orang yang memiliki faktor tertentu, di antaranya:

1. Laki-Laki

Risiko sindrom Tourette ternyata berkaitan dengan jenis kelamin. Sayangnya, laki-laki disebut lebih berisiko mengalami gangguan ini dibanding dengan perempuan. Bahkan, laki-laki disebut memiliki risiko hingga 3–4 kali lebih besar mengalami sindrom Tourette.

Baca juga: Sindrom Tourette Adalah Kelainan Saraf Langka, Apa Penyebabnya?

2. Riwayat Keluarga

Faktor riwayat keluarga juga disebut memengaruhi risiko seseorang mengalami sindrom ini. Orang yang memiliki keluarga dekat dengan sindrom Tourette atau gangguan TIC lainnya, disebut lebih berisiko mengalami sindrom Tourette.

Ada dua gejala yang khas dari kondisi ini, yaitu motor tics  dan vocal tic. Pada motor tics, pengidap sindrom Tourette sering melakukan gerakan yang sama secara berulang. Baik gerakan yang melibatkan kelompok otot dalam jumlah terbatas (simple tics) maupun beberapa otot sekaligus (complex tics).

Beberapa gerakan yang termasuk ke dalam simple motor tics adalah berkedip, mengangguk, menggeleng, dan menggerak-gerakkan mulut. Sedangkan pada complex motor tics, pengidap penyakit ini sering mengulang gerakan, seperti menyentuh atau mencium suatu benda, meniru pergerakan suatu benda, hingga menekuk atau memutar badan.

Sedangkan vocal tics adalah gejala yang menyebabkan pengidap sindrom ini membuat suara berulang. Gejala ini dibagi menjadi vocal tics juga bisa terjadi dalam bentuk simple tics maupun complex tics. Contohnya, batuk, berdeham, dan membuat suara menyerupai binatang, seperti menggonggong, bahkan mengulang perkataan sendiri (palilalia) atau perkataan orang lain (echophenomena), serta mengucapkan kata-kata kasar dan vulgar (koprolalia).

Baca juga: Waspadai Sering Kejang, Ciri-Ciri Terserang Sindrom Tourette

Cari tahu lebih lanjut seputar sindrom Tourette dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!