26 February 2019

Dampak Psikologi pada Anak Angkat Seperti di Film Instant Family

Dampak Psikologi pada Anak Angkat Seperti di Film Instant Family

Halodoc, Jakarta – Tidak hanya mendapatkan rating yang tinggi 7,5 di  IMDB, Instant Family juga bisa menjadi pembelajaran mengenai penerapan pola asuh antara orangtua angkat dengan anak angkatnya. Diceritakan dalam film tersebut bagaimana pasangan muda Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne) mengangkat tiga anak keturunan Latin untuk kemudian beradaptasi dengan keluarga barunya tersebut.

Ketiga anak tersebut memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan terkait ibu kandungnya yang kecanduan obat-obatan terlarang. Berpindah-pindah orangtua angkat terpaksa mereka lakoni, karena ketidakcocokan dan rasa penerimaan yang kurang akibat pengalaman masa lalu. Ada perasaan bahwa mereka tidak pantas untuk disayangi yang membuat mereka menolak kasih sayang yang diberikan orangtua angkat baru pada mereka.

Film ini enggak hanya mengupas bagaimana penerimaan antara orangtua angkat dan anak angkat berelasi, namun juga kesiapan pasangan orangtua angkat bertindak sebagai orangtua. Jadi, dalam pola asuh anak angkat itu sendiri, problem juga bisa terletak pada orangtua. Apalagi tantangan akan semakin besar ketika usia anak angkat sudah masuk pada fase remaja.

Baca juga: Orangtua Bercerai, Ini Dampak Psikologi pada Anak

Anak angkat pada usia remaja sudah memiliki kerangka berpikirnya sendiri yang terpola dari perkembangan di keluarga sebelumnya. Belum lagi bila ada pengalaman traumatis yang membuatnya menutup diri dan memiliki sikap memberontak. Ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua angkat dalam proses tumbuh kembang anak remaja memasuki lingkungan keluarga baru.

Ditambah dengan perbedaan latar belakang budaya, etnis, kebiasaan, jumlah saudara, juga menjadi perhatian penting yang enggak boleh luput dalam proses pengangkatan anak. Hal-hal seperti inilah yang dikupas dalam film Instant Family.

Menurut E. Kay Trimberger, sosiolog dan psikolog dari University Of Chicago, mengatakan beberapa fase perubahan psikologi anak angkat dijelaskan dalam tahapan sebagai berikut:

1. Perasaan Kehilangan dan Ketakutan

Akan selalu ada rasa kehilangan akan orangtua kandung. Bagaimanapun pengalaman baik buruk yang dilalui anak angkat terkait dengan orangtua kandungnya, pasti akan ada rasa kehilangan. Kemudian, penyangkalan dan ketakutan apakah orangtua angkatnya bisa menyayangi dirinya sepenuhnya atau tidak.

Baca juga: Memahami Psikologi Remaja Lewat Karakter Euis di Film Keluarga Cemara

Perasaan kehilangan dan ketakutan kerap akan diwujudkan dalam bentuk kenakalan-kenakalan yang bisa jadi semacam “pengujian” seberapa sayang orangtua angkat kepada anak “barunya” tersebut.

2. Membangun Identitas Baru

Ketika sudah melewati tahap pengujian dan kepercayaan kepada keluarga barunya, disinilah anak angkat mulai membangun identitas barunya. Ini ditandai dengan penerimaan pada lingkungan barunya, termasuk orangtua angkatnya, dan membangun pola-pola baru, seperti kebiasaan-kebiasaan baru.

3. Penyesuaian dan Adaptasi

Tidak hanya menerima diri sebagai anggota keluarga baru, pada tahap akhir fasenya anak akan menyadari kalau orangtua angkatnya juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dan punya masalahnya sendiri. Akan ada penyesuaian-penyesuaian terkait dengan kelemahan orangtua angkatnya, dan adaptasi bahwasanya hubungan antara anak dan orangtua tidak hanya dari orangtua ke anak, namun juga anak ke orangtua.

Baca juga: Sebelum Adopsi Anak, Perhatikan 5 Hal Ini

Pada akhirnya, orangtua angkat memang dituntut untuk lebih bertoleransi terhadap perubahan emosi anak angkatnya. Karenanya, sebelum melakukan proses adopsi ada baiknya orangtua tahu sejarah anak angkatnya, pengalaman traumatis apa yang pernah dialami si anak, latar belakang etnis si anak, kebiasaan si anak, dan bila memungkinkan untuk bergabung dengan komunitas keluarga angkat untuk saling berbagi dan menguatkan.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai psikologi anak angkat, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.