21 February 2019

Karena Orangtua, Anak jadi Rentan Cari Konten Pornografi

Karena Orangtua, Anak jadi Rentan Cari Konten Pornografi

Halodoc, Jakarta – Banyak dari orangtua menganggap pornografi internet sebagai topik yang canggung untuk dibicarakan, apalagi dengan anak-anak. Tapi, hampir setiap ahli berpikir bahwa ini adalah percakapan penting yang harus dimiliki orangtua dengan anak-anak mereka.

Apapun filter yang orangtua pasang di ponsel, laptop, dan teknologi lainnya, berapa pun batasan yang dapat ditetapkan tentang bagaimana, kapan, dan di mana anak-anak menggunakan perangkat mereka, anak-anak masih memerlukan percakapan terbuka dan berkelanjutan dengan orangtua tentang gambar dan informasi eksplisit secara seksual yang mungkin mereka temui secara online.

Bukan tak mungkin tanpa pengawasan orangtua anak-anak remaja menemukan gambar-gambar pornografi yang mereka anggap mengganggu atau mungkin sengaja ditunjukkan gambar-gambar itu oleh anak-anak lain. Remaja mungkin memiliki sikap ingin tahu terhadap seks dan hubungan yang dibentuk oleh ketidaktahuan pornografi. Informasi-informasi abu-abu seperti ini dapat mengganggu relasi kehidupan nyata anak-anak.

Baca juga: Dampak Keluarga yang Tidak Harmonis pada Psikologi Anak

Umumnya, usia paparan anak-anak terkait informasi seputar pornografi ini adalah 13 tahun. Ini dikatakan oleh Bryant Paul, seorang profesor di sekolah media di Universitas Indiana. Tapi, bukan tak mungkin paparan ini bisa lebih cepat terjadi, soalnya paparan media sosial sudah tidak terkontrol lagi.

Pornografi adalah keprihatinan khusus yang harus dianggap serius oleh orangtua. Ketika anak tidak mendapat informasi seputar seks secara baik dan benar, ini bisa merusak pandangannya mengenai hubungan ketika beranjak dewasa nanti. Berikut hal-hal yang tanpa orangtua sadari bisa membuat anak rentan mencari konten pornografi ataupun informasi mengenai seks:

  1. Menghindari Jawaban Seputar Pertanyaan tentang Seks dan Pornografi

Kalau orangtua menghindari menjawab pertanyaan seputar seks dan pornografi ini akan mendorong anak untuk mencari tahu sendiri. Padahal, informasi seks sejatinya haruslah diperoleh anak dari orang dewasa yang bertanggung jawab, sehingga anak jadi tahu informasi yang benar seperti apa.

  1. Menutup Mata Anak Ketika Ada Adegan Ciuman di Film

Disadari atau tidak, orangtua kerap menutup mata dan telinga anak ketika ada adegan ciuman dalam film termasuk film kartun. Padahal dengan menutup-nutupi informasi mengenai seks, membuat anak ingin tahu lebih banyak, bertanya-tanya, dan malah memiliki anggapan yang salah mengenai seks. Ceritakan saja secara jelas dan apa adanya, supaya anak tidak bertanya-tanya dan punya kesimpulan yang salah.

Baca juga: Begini Caranya Ajari Si Kecil yang Malu Bersosialisasi

  1. Tidak Menjelaskan Pornografi Secara Jelas dan Benar

Sekali lagi, menghindari memberikan informasi hanya akan membuat anak mencari-cari tahu mengenai pornografi tanpa adanya pemahaman yang benar. Akibatnya, bukan tak mungkin anak menjadi ketagihan dan punya penyaluran yang salah terkait konten pornografi ini.

  1. Menganggap Rasa Keingintahuan Anak sebagai Sesuatu yang Salah

Orangtua kerap panik ketika anak mengajukan pertanyaan seputar pornografi ataupun seks. Kepanikan ini bisa diartikan anak sebagai sesuatu yang negatif, salah, dan sebaiknya tidak ditanyakan. Situasi ini yang membuat anak kerap mencari jawaban atas keingintahuannya. Sayangnya, kerap informan anak bisa jadi media-media yang tidak bertanggung jawab ataupun rekan sebaya, sehingga serapan informasinya bisa jadi salah dan sifatnya konstruktif.

Baca juga: Cara Menyikapi Anak yang Mengadukan Masalah di Sekolah

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai kesalahpahaman edukasi mengenai seks antara orangtua dan anak ataupun informasi psikologi perkembangan anak lainnya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.