Gunung Anak Krakatau Meletus, Kilas Balik Dampaknya

Anak krakatau meletus, krakatau, krakatau meletus

Halodoc, Jakarta – Dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau diketahui, telah terjadi 576 kali letusan gunung Anak Krakatau dengan amplitudo 23-44 milimeter dan durasi letusan 19-255 detik. Bahkan, letusan tersebut juga disertai dengan lontaran abu vulkanik, pasir, batu pijar, dan suara dentuman. Meski begitu, tidak ada peningkatan status gunung berapi. Sebab, gunung Anak Krakatau tetap berada dalam status waspada (level II), dengan radius zona berbahaya sekitar 2 kilometer.

Baca juga: Tips Kesehatan sebelum Coba Naik Gunung

Kekhawatiran masyarakat terkait letusan gunung berapi Anak Krakatau jelas beralasan. Pasalnya, gunung Krakatau yang dikenal sebagai “induk” gunung Anak Krakatau telah meletus dahsyat pada tahun 1883 lalu. Kejadian tersebut menimbulkan trauma yang mendalam karena banyaknya dampak negatif yang timbul akibat letusan gunung Krakatau.

Sejarah dan Dampak Meletusnya Gunung Berapi Krakatau

Krakatau adalah nama puncak gunung berapi yang berada di Selat Sunda, yaitu selat yang berada di antara pulau Jawa dan Sumatra. Sayangnya, letusan yang terjadi pada tahun 1883 membuat puncak gunung berapi ini sirna bersama dengan dampak negatif lain yang timbul. Letusan ini bukan hanya menciptakan dentuman keras yang terdengar hingga 4.653 kilometer, melainkan juga menyemburkan awan panas dan tsunami yang menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Berikut ini dampak negatif letusan gunung berapi Krakatau yang perlu diketahui:

  • Beberapa bagian negara sempat gelap selama 2,5 hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer.
  • Matahari bersinar redup hingga setahun setelah kejadian.
  • Hamburan debu akibat letusan gunung berapi tampak di langit Norwegia hingga New York.
  • Pulau-pulau di Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di bagian Selatan dan pulau Bootsmansrots di bagian Utara.
  • Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun hingga 1,2 derajat celsius.

Baca juga: Kenali Gangguan Pernapasan Bronkitis

40 tahun setelah meletusnya gunung berapi Krakatau, pada tahun 1927, kemudian muncul gunung berapi Anak Krakatau yang terbentuk dari kaldera yang masih aktif dan terus bertambah tinggi. Setiap tahunnya, gunung berapi ini bertambah sekitar 6 meter (20 kaki) dan 12 meter (40 kaki). Bahkan saat ini, ketinggian Anak Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut.

Dampak Kesehatan Akibat Letusan Gunung Berapi

Letusan gunung berapi Anak Krakatau memang tidak memiliki dampak yang merusak bagi lingkungan sekitarnya. Namun, kondisi ini jauh berbeda dengan efek kesehatan dan lingkungan yang terjadi akibat letusan gunung berapi Krakatau. Berikut ini beberapa dampak kesehatan akibat letusan gunung berapi yang perlu diketahui:

1. Iritasi Mata, Kulit, dan Gangguan Pernapasan

Letusan gunung biasanya menyemburkan abu vulkanik yang mengandung sejumlah zat berbahaya, seperti sulfur dioksida (SO2), gas hidrogen sulfida (H2S), nitrogen dioksida (NO2), logam silica, serta debu dalam bentuk partikel debu (total suspended particulate). Jika terpapar abu vulkanik ini, maka, seseorang rentan mengalami iritasi mata (seperti mata merah, sensitif terhadap cahaya), iritasi kulit, dan gangguan pernapasan (seperti hidung meler, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, asma, dan gejala bronkitis lainnya).

Baca juga: Pneumonia, Sakit Radang Paru-Paru yang Luput dari Perhatian

2. Luka Bakar

Gunung berapi yang sedang erupsi biasanya mengeluarkan belerang. Pada jumlah yang tepat, zat ini bisa meningkatkan kesuburan tanaman. Namun, pada jumlah yang berlebih, zat ini bisa membuat tanah menjadi asam dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu, paparan awan panas akibat letusan Gunung berapi juga bisa menyebabkan luka bakar.

Itulah fakta tentang dampak kesehatan akibat letusan gunung berapi. Untuk meminimalkan risiko kesehatan, warga yang berada di sekitar gunung berapi dianjurkan untuk mengungsi dan menggunakan masker.

Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar dampak kesehatan akibat gunung berapi, tanyakan saja pada dokter Halodoc. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa bertanya pada dokter tepercaya kapan saja dan dimana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, yuk download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!