• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hal yang Menandakan Terjadinya Genitalia Ambigu

Hal yang Menandakan Terjadinya Genitalia Ambigu

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Ada banyak jenis gangguan yang bisa terjadi pada bayi baru lahir, salah satunya genitalia ambigu. Kondisi ini bisa muncul dan membuat bayi yang baru lahir sulit untuk ditentukan apa jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Bayi yang mengalami kondisi ini memiliki alat kelamin yang tidak terbentuk sempurna. Lantas, apa saja hal yang menandakan bayi mengalami genitalia ambigu?

Penyebab terjadinya ambiguous genitalia berbeda untuk bayi laki-laki dan perempuan. Sebelumnya perlu diketahui, faktor pembentukan jenis kelamin pada seorang bayi adalah keberadaan kromosom Y. Jika terdapat kromosom Y pada sel janin, maka bayi akan berjenis kelamin laki-laki. Sebaliknya, jika tidak ada kromosom Y, maka janin tersebut akan menjadi perempuan.

Baca juga: Adakah Cara Mencegah Genitalia Ambigu?

Tanda Genitalia Ambigu pada Bayi 

Ambiguous genitalia pada bayi terkadang sudah bisa dideteksi sejak masih berada di dalam kandungan. Namun dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa saja baru terlihat dan diketahui setelah bayi lahir. Tingkat keparahan ambiguous genitalia pada bayi bergantung dari penyebab dan waktu terjadinya kelainan seksual tersebut.

Sebenarnya, kondisi ini jarang membahayakan bayi. Namun, genitalia ambigu bisa saja menyebabkan masalah pada kualitas hidup anak kelak. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko anak mengalami masalah pada kehidupan seksualnya di masa depan. Selain beda penyebabnya, gejala atau tanda genitalia pada bayi laki-laki dan perempuan juga berbeda. 

Baca juga: Pemeriksaan untuk Diagnosis Genitalia Ambigu

Ambiguous genitalia pada bayi yang secara genetik adalah perempuan dapat dikenali dari tanda-tanda berikut ini:

  • Bentuk labia yang lebih bengkak dan tertutup. Hal ini menyebabkan labia terasa seperti skrotum dengan testis. 
  • Pembesaran klitoris yang membuat bagian ini terlihat seperti penis berukuran kecil. 
  • Lubang saluran kemih dapat terletak di atas klitoris, di bawah klitoris, ataupun di daerah klitoris.

Tanda-tanda tersebut sering membuat bayi perempuan yang mengalami genitalia ambigu diduga sebagai bayi laki-laki yang mengidap kriptorkismus. Maka dari itu, penting untuk melakukan pemeriksaan segera untuk mengetahui kondisi yang dialami. Sementara pada bayi laki-laki. genitalia ambigu bisa ditandai dengan ciri seperti: 

  • Hipospadia.
  • Bentuk penis yang tidak normal, yaitu berukuran kecil serta lubang saluran kemih terletak dekat dengan skrotum.
  • Testis tidak berkembang sempurna, sehingga bisa hilang salah satu atau kedua testis dari skrotum. 
  • Skrotum yang menyerupai labia dengan kriptorkismus, dengan atau tanpa penis yang kecil.

Secara garis besar, genitalia pada bayi disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya perkembangan dan pembentukan alat kelamin yang tidak sempurna. Hal itu kemudian menyebabkan bayi seperti memiliki tanda kelamin laki-laki dan perempuan, sehingga membingungkan alias ambigu. Selain itu, alat kelamin yang dimiliki atau terlihat mungkin tidak cocok dengan organ kelamin bagian dalam ataupun dengan kromosom seksual bayi tersebut.

Selain itu, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh kelainan kromosom atau kelainan pada hormon. Kelainan perkembangan seksual akibat jumlah kromosom biasanya terjadi jika seorang bayi mengalami kekurangan atau kelebihan kromosom di dalam selnya.

Baca juga: Pilihan Pengobatan Genitalia Ambigu pada Anak

Cari tahu lebih lanjut seputar genitalia ambigu dan apa saja tandanya dengan bertanya pada dokter ahli di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dengan mudah dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
MedlinePlus. Diakses pada 2020. Ambiguous Genitalia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Ambiguous Genitalia.
MedScape. Diakses pada 2020. Disorders of Sex Development.