• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hal yang Terjadi pada Tubuh Anak saat Alami Campak

Hal yang Terjadi pada Tubuh Anak saat Alami Campak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Campak merupakan salah satu penyakit berbahaya yang dapat berujung pada hilangnya nyawa Si Kecil. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyebar dari serpihan droplet pengidap saat batuk atau bersin, serta benda-benda yang telah terkontaminasi. Salah satu langkah pencegahan efektif adalah dengan melakukan vaksinasi campak.

Jika tidak, virus akan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan memicu munculnya sejumlah gejala. Penyakit ini sangat rentan dialami oleh anak-anak, karena sistem imunitas tubuh yang belum terbentuk sempurna. Apa saja yang terjadi pada tubuh anak saat mengalami penyakit ini? Ibu, berikut gejala campak pada anak yang terlihat.

Baca juga: 5 Komplikasi yang Bisa Disebabkan oleh Campak

Selain Ruam Kulit, Ini Gejala Campak pada Anak

Seperti pada penjelasan sebelumnya, campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang saluran pernapasan. Saat infeksi pernapasan terjadi, akan muncul gejala khas berupa ruam kulit total, lalu diiringi dengan gejala mirip dengan flu. Bukan itu saja, gejala akan dibarengi dengan diare atau infeksi telinga. Setelah sejumlah gejala awal tersebut dialami, ruam kulit muncul 2–3 hari kemudian.

Ruam tersebut akan dimulai dari wajah dan menyebar hingga bagian kaki, dan dapat bertahan lebih dari seminggu. Terkadang konjungtivitis bisa menjadi salah satu gejala campak pada anak. Kondisi tersebut ditandai dengan peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata (sklera) dan bagian dalam kelopak mata.

Dilihat dari penyebabnya, tidak ada langkah medis khusus yang dilakukan untuk mengatasi penyakit ini. Jika sejumlah gejala campak pada anak muncul, salah satu langkah yang bisa ibu lakukan adalah memberikannya banyak air putih agar tubuhnya terhidrasi dengan baik. Ibu juga disarankan untuk mengajak anak beristirahat total, dan menghindari tempat umum guna mencegah penyebaran infeksi. 

Jika sejumlah gejala campak pada anak dibiarkan begitu saja, maka komplikasi paling parah yang bisa saja terjadi adalah infeksi paru-paru, kerusakan otak, tuli, bahkan kematian. Jika ibu menemukan sejumlah gejala yang telah disebutkan pada Si Kecil, sebaiknya segera periksakan ia di rumah sakit terdekat, ya.

Baca juga: 7 Gejala Awal Campak yang Perlu Diwaspadai

Beberapa Kelompok Anak yang Rentan Mengidap Campak

Penyakit campak memang disebabkan oleh virus, tetapi ada beberapa kelompok anak yang berisiko tinggi terinfeksi. Berikut ini beberapa kelompok anak yang berisiko tinggi terkena campak:

  1. Tidak melakukan vaksinasi. Jika anak belum melakukan vaksinasi campak, ia akan berisiko tinggi terkena campak di kemudian hari.
  2. Bepergian. Anak-anak yang sering bepergian ke luar negeri akan lebih rentan terinfeksi campak.
  3. Kekurangan vitamin A. Mencukupi asupan vitamin A untuk anak sangat disarankan agar ia terhindar dari infeksi campak.

Baca juga: Anak Alami Campak, Begini Cara Penanganan yang Tepat

Hingga saat ini belum ada langkah paten untuk mengatasi campak. Penyakit ini umumnya dapat sembuh dengan sendirinya dalam 7–10 hari setelah pengidap terinfeksi. Agar proses perawatan berjalan dengan maksimal, ibu dapat melakukan beberapa langkah berikut ini:

  1. Memberikan parasetamol sebagai penurun demam dan meredakan rasa nyeri akibat ruam.
  2. Berikan banyak air putih guna mencegah dehidrasi. Berikan air putih 6–8 gelas per hari.
  3. Berikan vitamin A guna memperkuat sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan kulit, serta memperbaiki kualitas penglihatan.
  4. Ajak anak untuk beristirahat. Gunakan pelembap udara guna mengurangi batuk dan nyeri tenggorokan.

Jika ada pertanyaan seputar masalah kesehatan Si Kecil, ibu bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya. Jangan biarkan gejala sampai parah, karena kehilangan nyawa adalah komplikasi terparah yang bisa saja terjadi.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Measles.
CDC. Diakses pada 2020. Measles (Rubeola).
WHO. Diakses pada 2020. Treating measles in children.