Harus Tahu, Ini Cara Diagnosis Distonia

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Harus Tahu, Ini Cara Diagnosis Distonia

Halodoc, Jakarta – Distonia adalah gangguan otot yang membuat pengidapnya bergerak tanpa sadar. Gerakan otot ini bisa terjadi pada salah satu anggota tubuh atau seluruhnya. Akibat gerakan ini, pengidap distonia memiliki postur tubuh yang cenderung aneh dan sering gemetar tanpa sebab (tremor). Penyakit ini tergolong langka karena hanya dialami sebagian kecil populasi dunia.

Baca Juga: Inilah 9 Jenis Dystonia yang Perlu Diwaspadai

Penyebab distonia belum diketahui secara pasti. Para ahli menduga distonia berkaitan dengan kelainan genetik yang diturunkan. Faktor penyebab distonia di antaranya gangguan sistem saraf, infeksi penyakit (seperti HIV dan radang otak), efek samping konsumsi obat, cedera kepala atau tulang belakang, serta mengidap penyakit Wilson dan Huntington.

Begini Cara Diagnosis Distonia

Gejala distonia bervariasi, tergantung dari bagian tubuh yang terkena. Secara umum, pengidap distonia mengalami kedutan, gemetar, kram otot, mata berkedip tanpa kendali, gangguan berbicara, sulit menelan (disfagia), dan anggota tubuh berada pada posisi yang tidak biasa (seperti leher miring). Jika kamu mengalami gejala tersebut, segera bicara pada dokter untuk menetapkan diagnosis.

Diagnosis awal dilakukan dengan menanyai gejala yang muncul. Misalnya usia saat gejala pertama kali muncul, urutan bagian tubuh yang terkena, dan tingkat keparahan penyakit. Bila perlu, pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis awal. Meliputi tes urine, tes darah, MRI, CT scan, EMG, dan tes genetik. Ini penjelasannya.

  • Tes urine dan darah. Tujuannya untuk memeriksa keberadaan infeksi atau senyawa beracun dalam tubuh pengidap, serta menilai fungsi organ tubuh secara menyeluruh.

  • Magnetic resonance imaging (MRI) atau CT scan. Berguna untuk memeriksa kelainan otak seperti stroke dan tumor otak.

  • Electromyography (EMG). Bertujuan untuk menilai aktivitas aliran listrik di dalam otot.

  • Tes genetik. Caranya mengambil sampel DNA untuk mendeteksi kelainan genetik yang berhubungan dengan distonia, misalnya penyakit Huntington.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele, Distonia Bisa Sebabkan Kebutaan

Pilihan Pengobatan Distonia

Hingga kini belum diketahui pengobatan yang bisa menyembuhkan distonia. Ini pilihan pengobatan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya.

  • Konsumsi obat-obatan. Misalnya trihexyphenidyl, diazepam, lorazepam, baclofen, dan clonazepam. Pengobatan berfungsi untuk mengurangi gejala, menghilangkan kontraksi otot, dan memperbaiki postur tubuh abnormal.

  • Botox, disuntikkan langsung ke area tubuh yang terinfeksi. Suntik botox perlu diulang tiap tiga bulan sekali.

  • Fisioterapi. Tujuannya untuk melatih kekuatan otot yang terinfeksi. Jenis terapi lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi distonia adalah terapi wicara dan pijat.

  • Operasi, dilakukan dengan memasang alat khusus yang bisa mengalirkan arus listrik ke otak (deep brain stimulation) atau memotong saraf yang mengatur otot yang terinfeksi (selective denervation and surgery).

Jika tidak segera ditangani, distonia berpotensi menyebabkan komplikasi, seperti kesulitan beraktivitas karena otot bergerak tanpa kendali, kesulitan menelan (disfagia), kesulitan melihat (jika menyerang kelopak mata), dan gangguan psikologis seperti kecemasan hingga depresi.

Baca Juga: Bagaimana Gangguan Otot Distonia Diobati?

Itulah cara diagnosis distonia yang perlu diketahui. Kalau kamu punya gejala serupa distonia, jangan ragu berbicara dengan dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!