Harus Tahu Vaksin untuk Mencegah Epiglotitis

Vaksin untuk Mencegah Epiglotitis, Vaksin Epiglotitis

Halodoc, Jakarta - Umumnya gangguan epiglotitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Jenis bakteri yang paling sering menyebabkan kondisi tersebut adalah Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Bakteri ini bisa menyebar saat orang yang sakit flu tidak menutup mulut saat bersin atau batuk, sehingga tetesan air tersebut ke masuk dalam mulut. Sedangkan jenis bakteri lainnya yang bisa menyebabkan epiglotitis adalah Streptococcus A, B, dan C serta Streptococcus pneumoniae. Streap A merupakan bakteri penyebab radang tenggorokan, sementara Strep pneumoniae menyebabkan radang paru (pneumonia).

Di samping itu, virus penyebab herpes zoster, cacar air, serta virus penyebab infeksi pernapasan juga dapat menyebabkan kondisi ini. Begitu pula dengan jamur penyebab infeksi ragi atau ruam popok yang bisa memperparah peradangan epiglotis.

Kabar baiknya, penyakit epiglotitis dapat dicegah dengan vaksin Hib. Di Indonesia vaksin ini diberikan bersamaan dengan DPT serta hepatitis B. Vaksin ini disebut sebagai vaksin Pentabio. Pemberian vaksin ini dilakukan dalam 4 tahap, yaitu pada saat bayi berusia 2, 4, 6, dan 18 bulan. Untuk anak yang baru pertama kali datang pada usia 1-5 tahun, vaksin ini hanya diberikan 1 kali.

Baca juga: Mengenal Peradangan pada Epiglotis

Mencegah penyebaran infeksi Hib dapat membantu pencegahan epiglotitis. Maka itu, antibiotik terkadang juga diberikan pada orang-orang yang tinggal serumah dengan pengidap sebagai pencegahan.

Manfaat Vaksin HIB

Umumnya penyakit yang disebabkan bakteri Hib jarang yang menyerang orang dewasa atau anak di atas usia lima tahun, karena sistem imun atau kekebalan tubuh. Namun, kondisi kesehatan tertentu dapat menyebabkan orang dewasa rentan terhadap infeksi Hib, seperti pengidap kondisi yang menekan kekebalan tubuh semacam HIV maupun gangguan darah.

Bakteri Hib bisa berpindah saat anak berada di sekitar anak lain atau orang dewasa yang terinfeksi. Bakteri tersebut bisa saja tidak langsung menyebabkan anak sakit, tetapi bakteri yang menyebar ke paru-paru atau aliran darah bisa menyebabkan kondisi berbahaya.

Baca juga: Sesak Napas Tiba-tiba, Ini 5 Cara Mengatasinya

Untuk itu, vaksin Hib mampu menekan angka pengidap sejumlah penyakit berbahaya yang disebabkan bakteri Hib. Misalnya meningitis, yaitu peradangan pada selaput otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan tuli. Vaksin ini juga bisa mencegah risiko pneumonia atau radang paru yang sering dikenal sebagai paru-paru basah, sekaligus pembengkakan di tenggorokan yang bisa menyumbat jalan napas, infeksi darah, sendi, tulang dan jantung, bahkan risiko kematian pada balita akibat bakteri Hib.

Dosis vaksin Hib tergantung dari jenis vaksin yang digunakan. Tahap pemberian vaksin Hib pada bayi dosis pertama pada usia dua bulan. Lalu, diteruskan pada usia 4-6 bulan. Terakhir, diberikan sebagai vaksin booster pada usia 12-15 bulan.

Perlu diwaspadai pula bahwa vaksin Hib ini membawa efek samping yang mungkin terjadi saat pemberiannya, antara lain:

  • Kulit yang disuntik menjadi sakit dan bengkak
  • Area badan yang terkena suntikan akan menghangat dan memerah
  • Reaksi alergi, meski kondisi ini jarang sekali terjadi.

Baca juga: 5 Cara untuk Mengatasi Sesak Nafas pada Ibu Hamil

Efek samping biasanya akan berkurang dalam 2-3 hari setelah pemberian vaksin. Apabila efek samping tidak kunjung hilang, segera komunikasikan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan penanganan tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.