Hati-Hati, Gastroenteritis Bisa Menular Lewat Air Liur

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
gastroenteritis, infeksi virus

Halodoc, Jakarta - Gastroenteritis merupakan penyakit yang dapat dengan mudah menular melalui air liur, karena adanya infeksi virus atau bakteri. Penyakit yang satu ini lebih dikenal dengan istilah muntaber yang merupakan peradangan pada saluran pencernaan. Biasanya, organ usus besar, usus kecil, dan lambung adalah organ yang dapat dengan mudah mengalami peradangan akibat gastroenteritis.

Baca juga: Ini Perbedaan Diare dan Muntaber

Apakah Penularan Gastroenteritis Dapat Terjadi Melalui Air Liur? 

Gastroenteritis dapat terjadi karena adanya infeksi virus atau bakteri. Penularannya dapat melalui kontak langsung dengan pengidap melalui jabat tangan atau tidak sengaja menghirup cipratan air liur saat pengidap batuk atau bersin. Selain itu, virus juga dapat menular melalui makanan, minuman, dan benda yang telah terkontaminasi oleh air liur pengidap. Faktor risiko pemicu terjadinya gastroenteritis, antara lain:

  • Seseorang yang memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah, seperti lansia atau anak-anak.

  • Seseorang yang mengidap penyakit tertentu, seperti HIV/AIDS dan orang yang sedang menjalani kemoterapi.

  • Seseorang yang tinggal dengan akses kebersihan air yang rendah.

Virus jenis Norovirus dan Rotavirus merupakan virus yang sering menyebabkan gastroenteritis. Sedangkan bakteri E. coli dan Salmonella merupakan bakteri yang sering menyebabkan gastroenteritis, yang sering ditemukan pada daging mentah atau telur yang telah terkontaminasi.

Kenali Gejalanya untuk Menghindari Gastroenteritis

Gejala yang pasti dialami oleh pengidap gastroenteritis adalah mual, diare, dan muntah-muntah. Gejala akan muncul disertai dengan gejala lainnya, yaitu:

  • Penurunan nafsu makan.

  • Sakit kepala.

  • Demam dan menggigil.

  • Merasa kelelahan.

  • Perut kembung.

  • Kram perut dan sakit perut.

Gejala tersebut akan muncul setelah pengidap terinfeksi virus atau bakteri selama 1–3 hari. Gejala dapat berlangsung selama 2–3 hari, bahkan hingga satu minggu. Jika kamu menemukan serangkaian gejalanya, segera buat janji dengan dokter di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc agar kamu dapat memperoleh penanganan secepatnya dan terhindar dari komplikasi yang membahayakan.

Baca juga: Mirip Gejalanya, Ini Perbedaan Gastroenteritis dan Diare

Upaya yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Gastroenteritis

Jangan khawatir, meskipun terlihat berbahaya, gastroenteritis masih dapat dicegah melalui beberapa langkah berikut ini:

  • Sering mencuci tangan dengan sabun antiseptik untuk melindungi diri dari penyebaran virus dan bakteri.

  • Lakukan vaksinasi rotavirus untuk menghindari rotavirus, yaitu virus penyebab muntaber.

  • Jangan mengonsumsi makanan mentah atau daging setengah matang.

  • Jangan minum air putih sembarangan ketika berada di luar rumah.

  • Jangan mengonsumsi es batu yang kebersihannya tidak terjamin.

  • Cuci sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi.

  • Bersihkan setiap permukaan benda, seperti wastafel dan toilet dengan pembersih berbahan klorin, yaitu zat yang dapat digunakan sebagai pembunuh virus dan bakteri penyebab dari gastroenteritis.

Baca juga: Enggak Selalu Lalat, Ini Penyebab Terjadinya Muntaber

Penyakit yang satu ini dapat bertambah parah dan menyebabkan komplikasi berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Salah satu komplikasi yang membahayakan adalah dehidrasi. Gastroenteritis cenderung akan membuat pengidapnya sering muntah dan buang-buang air. Maka, mencukupi kadar air dalam tubuh penting dilakukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada tubuh.

Jika seseorang mengalami dehidrasi parah akibat gastroenteritis, kehilangan nyawa merupakan akibat yang akan terjadi. Untuk itu, penting untuk segera menangani dengan cepat dan tepat jika dehidrasi muncul. Apalagi jika dehidrasi ditandai dengan urine berwarna kuning pekat, mulut kering, pusing, linglung, dan mual. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Gastroenteritis ("Stomach Flu").
Healthline. Diakses pada 2019. What is viral gastroenteritis?