Hipogonadisme Dapat Sebabkan Disfungsi Ereksi, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Hipogonadisme Dapat Sebabkan Disfungsi Ereksi, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Dari banyaknya penyakit yang bisa mengancam “senjata” pria, disfungsi ereksi merupakan salah satu keluhan yang cukup ditakuti. Alasannya simpel, kondisi ini bisa menimbulkan banyak masalah, mulai dari kemandulan hingga depresi. Ujung-ujungnya bakal membuat kehidupan asmara dengan pasangan jadi bermasalah. 

Nah, dari beragam hal yang bisa memicu disfungsi ereksi, hipogonadisme merupakan salah satu penyebab yang mesti diwaspadai. Hipogonadisme adalah kondisi ketika kelenjar seks tubuh memproduksi sangat sedikit atau sama sekali tak menghasilkan hormon. 

Hipogonadisme ini bisa menimbulkan beragam gejala pada pengidapnya. Mulai dari kehilangan rambut di tubuh, osteoporosis, kehilangan gairah seksual, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga kemandulan. Nah, bila merasakan gejala ini, segeralah temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc

Lantas, apa hubungannya hipogonadisme dengan ereksi?

Baca juga: Hati-Hati, Hipogonadisme Bisa Sebabkan Osteoporosis

Bisa Sebabkan Disfungsi Ereksi, Masa Sih? 

Dalam dunia kesehatan, hipogonadisme digambarkan sebagai kondisi ketika hormon seksual berada di bawah jumlah normal. Hormon ini sendiri dihasilkan oleh kelenjar seksual (pada pria disebut testis dan wanita disebut ovarium). 

Pada pria, hormon ini mengatur karakteristik seksual sekunder. Misalnya, perkembangan testis dan produksi sperma. Nah, andaikan tak ditangani dengan tepat, kekurangan hormon inilah yang ujung-ujungnya bakal menyebabkan disfungsi ereksi. 

Sebenarnya ketidakseimbangan hormon ini tak cuma menyoal hipogonadisme saja. Sebab, ada juga kondisi lainnya, seperti hipertiroid (kelebihan hormon tiroid) dan hipotiroid. Keduanya juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi. 

Nah, ketika kadar hormon testosteron menurun, kaum adam biasanya akan mengalami banyak gejala yang berkaitan dengan fungsi seksual. Contohnya, disfungsi ereksi, ketidaksuburan, hingga berkurangnya hasrat seksual. 

Yang perlu digarisbawahi, hipogonadisme yang tak diobati bisa saja memicu masalah kesehatan lain. Misalnya, osteoporosis, gangguan perkembangan janin, gangguan pertumbuhan testis dan penis, pengurangan massa otot, hingga tubuh mudah lelah. 

Oleh sebab itu, segeralah temui dokter bila merasakan gejala-gejala hipogonadisme. Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc

Baca juga: 8 Cara Pengobatan untuk Atasi Hipogonadisme

Lantas, kondisi apa sih yang menyebabkan hipogonadisme?

Masalah Hormon dan Kerusakan Otak

Hipogonadisme tidaklah disebabkan oleh faktor tunggal. Sebab, setidaknya ada dua hal yang bisa menyebabkan kondisi ini. Pertama hipogonadisme primer, kondisi ketika kelenjar seksual (gonad) mengalami kerusakan. Alhasil tubuh tak mampu memproduksi hormon seksual dalam jumlah yang diperlukan tubuh. 

Hipogonadisme primer ini bisa disebabkan banyak hal. Mulai dari gangguan ginjal, penyakit autoimun, gangguan hati, infeksi berat, cedera pada testis, hingga efek samping radioterapi. 

Ada hipogonadisme primer, ada pula hipogonadisme sekunder. Yang satu ini disebabkan oleh kerusakan pada kelenjar di otak. Tepat hipofisis dan hipotalamus. Kedua kelenjar ini punya tugas untuk mengirim sinyal ke kelenjar seksual untuk menghasilkan hormon seksual. 

Nah, hipogonadisme sekunder ini juga bisa disebabkan oleh banyak faktor. Contohnya, kelainan genetik, infeksi HIV, pertambahan usia, obesitas, operasi otak, kekurangan nutrisi, hingga cedera atau tumor pada kelenjar hipofisis atau hipotalamus. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!