Hati-Hati, Hipogonadisme Bisa Sebabkan Osteoporosis

Hati-Hati, Hipogonadisme Bisa Sebabkan Osteoporosis

Halodoc, Jakarta - Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan tulang menjadi lemah, sehingga pada akhirnya membuat tulang menjadi patah. Osteoporosis disebut sebagai "penyakit diam", karena dapat berkembang tanpa gejala sampai patah tulang terjadi.

Gangguan osteoporosis berkembang lebih jarang terjadi pada pria daripada pada wanita, karena pria memiliki kerangka yang lebih besar. Ketika hal tersebut terjadi, maka akan berkembang lebih lambat, dan pria tidak memiliki periode perubahan hormon yang cepat dan dapat mempercepat kehilangan tulang.

Kendati demikian, dalam beberapa tahun terakhir, masalah osteoporosis pada pria telah diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat yang penting. Apalagi mengingat perkiraan bahwa jumlah pria di atas usia 70 tahun akan terus meningkat karena harapan hidup terus meningkat.

Baca Juga : 8 Cara Pengobatan untuk Atasi Hipogonadisme

Hipogonadisme Bisa Sebabkan Osteoporosis

Hipogonadisme terbukti sebagai penyebab keropos tulang, sehingga terjadi osteoporosis. Pada wanita, disebutkan terdapat korelasi kuat antara keropos tulang dan penurunan kadar estrogen, terutama setelah menopause. Namun, belum diketahui hubungan penurunan testosteron yang berhubungan dengan usia memengaruhi kehilangan tulang pada pria.

Seiring bertambahnya usia pria, produksi testosteron menurun. Beberapa pria yang lebih tua dapat mengembangkan hipogonadisme onset yang lambat, dan ditandai dengan tingkat testosteron rendah yang abnormal.

Karena hal tersebut, mungkin saja beberapa gejala dapat terjadi, seperti penurunan massa tulang, penurunan massa dan kekuatan otot, gangguan fungsi fisik, obesitas, dan disfungsi seksual. Walau begitu, hipogonadisme pria tidak berkorelasi dengan gangguan kualitas tulang.

Faktanya, kadar estrogen paling erat berkorelasi dengan kepadatan tulang yang memadai pada pria. Disebutkan bahwa aktivasi kedua androgen dan reseptor estrogen menstimulasi massa tulang pada pria. Terbukti juga bahwa kadar estrogen tertentu pada pria berhubungan dengan pematangan tulang, kehilangan tulang, dan risiko patah tulang.

Kendati demikian, hal ini tidak mengesampingkan peran penting testosteron dalam kesehatan tulang pria. Selain itu, pria dengan hipogonadisme yang menerima terapi testosteron secara statistik mengalami peningkatan kepadatan tulang yang signifikan.

Seorang pria yang didiagnosis hipogonadisme secara konsisten memiliki kepadatan tulang yang rendah. Pengukuran testosteron pada pria dengan patah tulang pinggul menunjukkan tingkat testosteron yang rendah.

Pada pria dengan sindrom Klinefelter, seseorang yang diobati dengan testosteron pada usia dini menunjukkan kepadatan tulang yang lebih baik daripada yang dirawat ketika lebih tua. Pria dengan hiperprolaktinemia yang dirawat menunjukkan peningkatan kepadatan tulang hanya jika kadar testosteron meningkat.

Baca Juga : Kenali 2 Tipe dari Hipogonadisme

Perawatan Osteoporosis

Setelah seorang pria didiagnosis mengidap osteoporosis, dokter mungkin akan meresepkan salah satu obat yang disetujui untuk penyakit ini. Rencana perawatan juga kemungkinan dilakukan yang mencakup asupan nutrisi, olahraga, dan gaya hidup untuk mencegah keropos tulang yang terjadi.

Jika keropos tulang disebabkan oleh penggunaan glukokortikoid, dokter mungkin meresepkan obat untuk mencegah atau mengobati osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid, memantau kepadatan tulang dan kadar testosteron, serta menyarankan penggunaan dosis glukokortikoid minimum yang efektif.

Pencegahan atau pengobatan lain yang mungkin termasuk suplemen kalsium dan/atau vitamin D dan aktivitas fisik teratur. Jika osteoporosis adalah akibat dari kondisi lain atau obat-obatan tertentu lainnya, dokter dapat merancang rencana perawatan untuk mengatasi penyebab yang mendasarinya.

Baca Juga : Ini Cara Mengobati Hipogonadisme

Itulah pembahasan tentang hipogonadisme yang dapat menjadi penyebab osteoporosis. Jika kamu mempunyai pertanyaan perihal gangguan tersebut, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya yaitu dengan download aplikasi Halodoc di smartphone kamu!