Hipogonadisme Dapat Sebabkan Kemandulan, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
hipogonadisme-dapat-sebabkan-kemandulan-benarkah-halodoc

Halodoc, Jakarta – Berhubungan intim bisa dibilang adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan yang bisa memberikan banyak manfaat tidak hanya bagi kesehatan secara fisik, tapi juga mental. Itulah mengapa pasangan suami istri dianjurkan untuk berhubungan secara rutin demi kesehatan dan juga keharmonisan hubungan. Namun, ada kalanya gairah seksual seseorang bisa menurun, sehingga membuatnya tidak terlalu tertarik untuk berhubungan intim.

Nah, bila gairah seksual menurun, jangan dibiarkan saja. Bisa jadi kamu mengalami hipogonadisme. Penyakit ini bila tidak ditangani bisa menyebabkan kemandulan. Benarkah? Cari tahu faktanya di sini.

Baca juga: Inilah 7 Manfaat Hubungan Intim untuk Kesehatan

Apa Itu Hipogonadisme?

Hipogonadisme adalah kondisi ketika hormon seksual seseorang berada di bawah jumlah normal. Hormon seksual dihasilkan oleh kelenjar seksual yang pada pria disebut testis, sedangkan pada wanita disebut ovarium. Hormon ini berperan penting dalam mengatur karakteristik seksual sekunder, yaitu produksi sperma dan perkembangan testis pada pria.

Sedangkan pada wanita, hormon ini berperan dalam pertumbuhan payudara dan siklus menstruasi. Selain itu, hormon ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan rambut kemaluan, baik pada pria maupun wanita.

Kenali Dua Jenis Hipogonadisme

Berdasarkan penyebabnya, hipogonadisme bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu hipogonadisme primer dan hipogonadisme sekunder. Kondisi menurunnya hormon seksual bisa dikategorikan hipogonadisme primer bila disebabkan oleh adanya kerusakan pada gonad atau kelenjar seksual. Hipogonadisme primer sendiri bisa terjadi dikarenakan beberapa kondisi berikut:

  • Infeksi berat.
  • Cedera pada testis.
  • Gangguan ginjal.
  • Gangguan hati.
  • Penyakit autoimun, seperti hipoparatiroidisme dan penyakit Addison.
  • Hemokromatosis atau tingginya kadar zat besi dalam darah,
  • Kriptorkismus atau posisi testis yang tidak turun.
  • Penyakit genetik, seperti sindrom Klinefelter dan sindrom Turner.
  • Efek samping dari radioterapi atau kemoterapi pada pengobatan kanker.

Sedangkan hipogonadisme sekunder, disebabkan oleh kerusakan pada kelenjar di sekitar otak, yaitu hipofisis (pituitari) dan hipotalamus. Kelenjar tersebut bertugas untuk mengirimkan sinyal ke kelenjar seksual untuk menghasilkan hormone seksual. Adapun kondisi yang bisa menyebabkan hipogonadisme sekunder, antara lain:

  • Pertambahan usia.
  • Paparan radiasi.
  • Obesitas.
  • Kekurangan nutrisi.
  • Penurunan berat badan secara drastis.
  • Kelainan genetik, seperti sindrom Kallmann.
  • Cedera atau tumor pada kelenjar hipofisis atau hipotalamus.
  • Infeksi HIV/AIDS.
  • Konsumsi kortikosteroid atau obat pereda nyeri dalam waktu yang lama.
  • Penyakit radang, seperti tuberkulosis, sarkoidosis, ataupun histiositosis.

Komplikasi yang Bisa Ditimbulkan Hipogonadisme

Benar bahwa hipogonadisme bisa menyebabkan kemandulan. Mandul adalah salah satu komplikasi yang bisa terjadi bila hipogonadisme tidak segera ditangani. Namun selain mandul, masih ada sejumlah komplikasi lainnya yang bisa ditimbulkan hipogonadisme, antara lain:

  • Gairah seksual menurun.
  • Disfungsi ereksi.
  • Gangguan pertumbuhan Mr. P dan testis.
  • Kekurangan rambut pada tubuh.
  • Tubuh mudah lelah.
  • Osteoporosis.
  • Ginekomastia.
  • Pengurangan massa otot.
  • Pertumbuhan yang tidak proporsional, seperti memiliki tungkai atau lengan yang lebih panjang.
  • Pada ibu hamil, hipogonadisme bisa menyebabkan perkembangan janin, seperti ambiguous genitalia.

Baca juga: Penyebab Kemandulan yang Perlu Diketahui

Bagi pasangan yang ingin memiliki momongan, hipogonadisme bisa menjadi momok yang menakutkan, karena bisa menyebabkan kemandulan. Karena itu, waspadailah penyakit ini dengan mengenali gejala-gejalanya. Bila kamu mengalami gejala hipogonadisme, seperti gairah seksual menurun, impotensi pada pria, dan masa menstruasi yang berkurang atau tidak terjadi sama sekali pada wanita, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya.

Pada pengidap pria, penanganan hipogonadisme, biasanya dilakukan untuk memenuhi kekurangan hormon testosteron melalui terapi penggantian testosteron (TRT). Sedangkan pada pengidap wanita yang mengalami gangguan siklus menstruasi dan sulit hamil, dokter akan memberikan suntik hormon choriogonadotropin (hCG) untuk memicu ovulasi.

Baca juga: Pasangan Kehilangan Gairah Seks, Apa Solusinya?

Bila kamu memiliki masalah dengan kehidupan seksual, gunakan saja aplikasi Halodoc. Enggak perlu malu, kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.