Hubungan Asmara Juga Butuh Ilmu Psikologi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Hubungan Asmara Juga Butuh Ilmu Psikologi

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Psych Central, jatuh cinta adalah dorongan psikologi yang umum. Sebagian besar orang menganggap cinta adalah tujuan hidup tertinggi dan sesuatu yang memotivasi untuk tetap hidup dan melewati kesulitan. 

Namun, seringkali penemuan akan cinta dan hubungan asmara yang sulit justru membuat seseorang mengalami mood dan gangguan kesehatan, baik fisik maupun psikis. Ingin tahu lebih lanjut mengenai psikologi asmara dan cinta, baca informasi lebih jelasnya di sini. 

Pemicu Jatuh Cinta

Sejatinya otak terhubung pada perasaan jatuh cinta, untuk merasakan kebahagiaan, euforia romansa, untuk terikat dan berkembang biak. Aktivitas kimia senantiasa membanjiri otak mulai dari nafsu, ketertarikan, dan ketidaktertarikan. 

Khususnya dopamin memberikan sensasi alami akan rasa senang, gembira, ketika sedang jatuh cinta, bahkan memberikan sensasi ketagihan, seperti kokain. Perasaan yang lebih dalam dibantu oleh oksitosin, yang dilepas saat orgasme. Hormon ini terkait langsung dengan ikatan, kepercayaan, loyalitas, dan komitmen untuk tetap bersama.

Mengapa Bisa Tertarik pada Seseorang?

Kondisi psikologi sangat berperan kepada siapa dan mengapa kita tertarik pada seseorang. Ini juga tidak terlepas dari penghargaan pada diri sendiri, kesehatan mental dan emosional, pengalaman hidup, dan hubungan keluarga. 

Baca juga: Ini Penjelasan Medis tentang Jatuh Cinta

Pengalaman positif maupun negatif ini akan berdampak pada pilihan seseorang terhadap lawan jenisnya dan membuatnya tampak lebih atau kurang menarik. Sebagai contoh, kamu mungkin menemukan kesamaan yang menarik pada diri seseorang, tetapi menghindarinya karena dia memiliki kesamaan dengan mantan kekasih yang sebelumnya selingkuh.

Kamu tertarik pada sesuatu yang familiar seperti aroma, sentuhan tangan, dan cara tutur karena mengingatkan pada anggota keluarga tertentu. 

Jatuh Cinta Mengubah Kepribadian

Memang benar bahwa seseorang bisa dibutakan oleh cinta. Ketika kamu jatuh cinta dengan seseorang bisa sampai bersedia mengeksplorasi minat tertentu yang bisa jadi sebenarnya tidak atau belum kamu sukai. 

Cinta juga memunculkan bagian dari kepribadianmu yang tidak aktif. Kita mungkin merasa lebih dewasa atau lebih feminin, lebih empatik, murah hati, penuh harapan, dan lebih bersedia mengambil risiko dan mencoba hal-hal baru. 

Perasaan ini nyatanya juga membuat kamu terbutakan pada tanda-tanda peringatan kalau dia bukan seseorang baik. Uniknya, zat kimia pada otak juga bisa mengangkat suasana hati yang tertekan dan memicu ketergantungan pada sosok baru untuk mengakhiri kesepian atau kekosongan akan cinta yang lalu.

Baca juga: Tiga Setia Gara Diduga Alami KDRT, Ini Dampak Psikologinya

Ketika kamu kekurangan sistem pendukung setelah patah hati, besar kemungkinan akan akan terburu-buru menjalin hubungan dan menjadi cepat terikat sebelum benar-benar mengenal pasangan yang baru. “Untungnya” ketika hubungan ini kandas, akan jauh lebih cepat pulihnya ketimbang putus cinta yang “sebenarnya”.

Pengalaman Mendewasakan

Pada akhirnya dengan banyaknya pengalaman putus cinta, sakit hati, kekecewaan kamu akan belajar menerima kalau cinta sejati adalah sesuatu yang diperjuangkan secara masuk akal. Ketika kamu belajar dari kegagalan dan menemukan hikmah di balik semua kekecewaan tersebut, kamu akan sampai pada titik tidak akan menerima sembarang orang lagi untuk masuk ke dalam kehidupanmu. 

Namun untuk sampai ke step yang mendewasakan ini, kamu butuh kesadaran dan benar-benar menarik pelajaran dari kisah masa lalumu tersebut. Ingin tahu lebih banyak mengenai psikologi asmara, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:
Psych Central. Diakses pada 2019. The Psychology of Romantic Love.
Psychology Today. Diakses pada 2019. Why Relationships Matter.