• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu, Begini Cara Ajari Anak Toilet Training untuk Cegah Encopresis

Ibu, Begini Cara Ajari Anak Toilet Training untuk Cegah Encopresis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ibu, Begini Cara Ajari Anak Toilet Training untuk Cegah Encopresis

Halodoc, Jakarta – Melihat Si Kecil buang air besar (BAB) di celana mungkin membuat ibu marah dan stres. Ibu mungkin menganggap perilaku Si Kecil tersebut karena ia nakal atau malas untuk ke toilet. Tahukah ibu, anak-anak yang sudah melewati usia toilet training (biasanya di atas umur 4 tahun) namun masih BAB di celana, mungkin saja mengidap kondisi encopresis.

Kondisi ini menyebabkan anak mengeluarkan feses secara tidak sengaja, padahal seharusnya ia sudah bisa menggunakan toilet. Ketidakmampuan dalam menahan BAB ini bukan suatu hal yang disengaja. 

Ibu, encopresis bukan sebuah penyakit, melainkan gejala dari kondisi tertentu. Namun, jangan khawatir, encopresis bisa diatasi dengan mengobati kondisi medis yang mendasarinya dan mengajari anak toilet training dengan cara yang tepat.

Baca juga: Anak Sering BAB di Celana, Waspada Gejala Encopresis

Memahami Encopresis pada Anak

Pada sebagian besar kasus, encopresis disebabkan oleh konstipasi. Konstipasi membuat feses anak menjadi keras, kering dan mungkin menyakitkan untuk dikeluarkan. Kondisi tersebut membuat anak enggan pergi ke toilet dan lebih memilih untuk menahan BAB yang malah semakin memperburuk keadaan. 

Ketika anak menahan BAB, kotoran menumpuk di rektum dan mungkin kembali ke usus besar. Tugas usus besar adalah membuang air dari kotoran sebelum dikeluarkan. Semakin lama kotoran di usus besar, semakin banyak air yang dikeluarkan yang membuat kotoran semakin besar dan kering, sehingga sulit untuk dikeluarkan.

Kotoran yang bertambah besar akan meregangkan usus besar, melemahkan otot-otot di sana dan memengaruhi saraf yang memberi tahu anak kapan waktunya untuk pergi ke kamar mandi.

Lalu, usus besar juga kesulitan untuk mendorong kotoran keluar, sehingga membuat BAB jadi terasa menyakitkan. Kondisi ini membuat anak terus menahan BAB, sering kali dengan menyilangkan kakinya atau berjalan sambil berjinjit. 

Seiring waktu, rektum dan bagian bawah usus besar menjadi sangat penuh, sehingga sfingter (katup otot yang mengontrol keluarnya feses dari anus) tidak bisa lagi menahan kotoran. Akhirnya, sebagian kotoran bisa bocor dan menyebabkan anak BAB di celana.

Anak yang mengidap encopresis tidak bisa mengendalikan kotoran yang keluar tersebut dan juga tidak tahu hal itu terjadi, karena saraf tidak mengirimkan sinyal untuk BAB.

Selain konstipasi, masalah emosional atau stres juga bisa menyebabkan anak mengalami encopresis. Melansir dari Mayo Clinic, toilet training yang dilakukan terlalu dini dan diwarnai dengan pertengkaran adalah salah satu contoh hal yang dapat membuat anak stres dan bisa memicu terjadinya encopresis. 

Oleh karena itu, hindari memulai toilet training terlalu dini atau menggunakan metode yang memaksa pada anak guna mencegah encopresis. Tunggulah anak sampai benar-benar siap untuk melakukan toilet training dan gunakan cara-cara yang lebih positif dalam mengajari anak.

Baca juga: Ini Tanda Anak Sudah Siap Dilatih Duduk di Toilet

Cara Mengajari Anak Toilet Training yang Baik

Anak-anak umumnya baru siap untuk diajari toilet training saat berusia 2 tahun, dan beberapa anak mungkin baru siap ketika berusia 3 tahun setengah. Penting untuk diingat bahwa tiap anak berbeda dan jangan memaksa anak untuk melakukan toilet training sebelum ia benar-benar siap.

  • Taruh Pispot di Kamar Mandi

Bila toilet ada di lantai atas, siapkan satu pispot lagi untuk ditaruh di lantai bawah agar Si Kecil dapat pergi ke toilet dengan mudah kapan pun ia memerlukannya. Hal ini bertujuan agar anak terbiasa duduk di pispot baik untuk buang air kecil maupun buang air besar setiap hari.

  • Dorong Anak untuk Duduk di Pispot Setelah Makan

Beberapa saat setelah makan, biasanya akan muncul keinginan untuk BAK atau BAB. Karena itu, ibu bisa mendorong anak untuk duduk di pispot setelah makan untuk melakukan hal tersebut. Ibu bisa mengajak anak untuk duduk di pispot untuk BAK sebelum tidur. 

  • Perhatikan Tanda-tanda Anak Ingin Ke Toilet

Bila ibu melihat tanda-tanda anak butuh ke toilet, seperti ia merasa gelisah dan mulai menyilangkan kakinya, segera ajak anak untuk menggunakan pispot. Namun, bila ibu terlambat dan anak sudah BAK atau BAB di celana, tetap ajak ia untuk duduk di pispot untuk membiasakannya.

  • Motivasi Anak

Beritahu anak bahwa menggunakan pispot atau toilet menandakan bahwa ia sudah besar. Pada awal-awal toilet training, memberi hadiah kecil juga bisa membantu anak untuk semangat berlatih menggunakan toilet. Jangan lupa, berikan pujian pada Si Kecil ketika ia berhasil menggunakan toilet dengan baik.

  • Banyak Bersabar

Bahkan balita yang paling bersemangat sekalipun membutuhkan waktu beberapa minggu untuk menguasai kemampuan menggunakan toilet dengan baik, dan seringkali diwarnai dengan langkah maju dan mundur.

Jadi, bersabarlah dalam mengajari anak toilet training untuk mencegah encopresis. Jangan memarahi, menghukum, atau memaksa anak. Hal itu dapat mengurangi rasa percaya dirinya dan justru menghambat upaya anak untuk menguasai kemampuan tersebut.

Baca juga: Penanganan Efektif Terhadap Kondisi Encopresis

Bila Si Kecil sering BAB di celana dan ada kemungkinan ia mengidap encopresis, coba bicarakan saja pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, dokter dapat membantu memberikan saran kesehatan yang tepat. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Soiling (Encopresis).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Encopresis.
What To Expect. Diakses pada 2020. Tips on Starting Potty Training.
National Health Service. Diakses pada 2020. How to potty train.