• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Mudah Marah Bisa Berdampak pada Karakter Anak, Benarkah?

Ibu Mudah Marah Bisa Berdampak pada Karakter Anak, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Sering kali, ibu atau ayah mengungkapkan kekecewaan atau kemarahan pada anak ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh ayah dan ibu. Coba ibu dan ayah sempatkan sejenak dan berpikir, berapa kali dalam satu hari ibu dan ayah memarahi anak? Apakah sering atau justru sebaliknya? Pasalnya, emosi memang sering menjadi cara untuk memberikan teguran pada anak, padahal kesalahan yang mereka lakukan sebenarnya tidak sebesar kemarahan yang dikeluarkan ayah dan ibu. 

Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan ibu dan ayah, terutama ibu, menjadi mudah tersulut emosi? Kelelahan menjadi alasan paling utama, karena ibu yang setiap hari sedari pagi sudah mengurus segala keperluan ayah dan anak, belum lagi harus membenahi rumah, dan memasak. Rasa lelah inilah yang akhirnya membuat emosi meledak ketika melihat suatu hal yang keliru atau tidak pada tempatnya. 

Ibu Mudah Marah Bisa Berdampak pada Karakter Anak, Benarkah?

Menegur ketika anak melakukan sesuatu hal yang keliru memang wajar adanya. Namun, selalu mengedepankan emosi sebagai cara menegur tidak pernah menjadi hal yang tepat dilakukan. Apalagi jika ibu sering melakukannya ketika mendapati anak berbuat kesalahan. Selalu ingat bahwa anak sangat memerlukan saran dari kedua orangtuanya, tetapi di saat yang sama, ia pun membutuhkan perhatian dan kasih sayang. 

Baca juga: Si Kecil Sering Marah, Ini Cara Mengatasinya

Pasalnya, jika ibu hanya mengedepankan emosi dan kemarahan ketika memberikan nasihat pada anak, apa yang ibu harapkan tidak akan tersampaikan padanya. Justru, kemarahan ibu yang terlalu sering dilampiaskan pada anak bisa berdampak ke karakter dan perkembangan ia nantinya. Imbasnya, ia akan menunjukkan sikap-sikap yang lebih negatif karena sering dimarahi, seperti: 

  • Anak menjadi minder. Bentakan dan amarah orangtua pada anak yang terlalu sering akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang minder dan merasa rendah diri ketika dewasa. Ia pun menjadi kurang percaya diri, karena merasa apa yang ia lakukan selalu salah di mata ibu dan ayah. 
  • Menjadi pribadi yang menutup diri. Emosi yang ditunjukkan pada anak secara berlebihan akan membuat anak menjadi pribadi yang menutup diri. Ia akan merasa takut pada orangtuanya, bahkan untuk menceritakan masalah yang ia alami di sekolah. Jangan sampai terjadi, karena ini bisa memicu anak melakukan segala hal yang tidak mampu dikontrol atau diketahui oleh orangtuanya. 
  • Mudah memberontak. Bentakan, amarah, dan pukulan yang diterima anak dalam frekuensi yang sering akan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang rentan memberontak. Alhasil, mereka akan lebih cuek pada orangtuanya, bahkan bisa jadi ia akan melakukan semua hal yang dilarang oleh ibu. 
  • Emosional atau temperamental. Hati-hati, sifat pemarah pada ibu bisa menurun pada anak. Ditakutkan, anak pun akan menerapkan cara yang sama pada keturunan mereka nantinya. Ia akan menjadi pribadi yang kasar dalam berkata maupun berbuat, mudah marah, tidak bisa menghargai orang lain, dan bersikap semaunya. 

Baca juga: Ini Penyebab Anak Suka Marah-Marah

Inilah mengapa menjadi penting untuk ibu mengontrol emosi dalam mendidik anak, terutama ketika memberikan nasihat pada anak kala mereka melakukan sesuatu yang salah. Buat anak selalu merasa disayangi sebagai cara untuk bisa menjadi sahabat bagi mereka. Jika ibu kesulitan melakukannya, ibu bisa meminta bantuan ahli psikologi. Gunakan aplikasi Halodoc untuk mendapatkan ahli psikologi yang tepat, lalu buat janji langsung di rumah sakit terdekat

Baca juga: Kenali Penyebab Murung pada Anak


Referensi: 
Psychology Today. Diakses pada 2019. Mother, Damned-est.
Psychologies. Diakses pada 2019. The Five Mother Types.
Lakeside. Diakses pada 2019. How Does a Parent’s Anger Impact His or Her Child?