19 November 2018

Indonesia Aman dari Ebola, Benarkah?

penyakit ebola, Indonesia

Halodoc, Jakarta - Ebola merupakan penyakit epidemi yang menjadi pusat perhatian dunia, khususnya pada 2014. Saat itu WHO mencatat setidaknya 18 ribu kasus ebola yang terjadi di daerah Afrika Barat, dengan angka kematian mencapai 30 persen dari seluruh kasus. Hingga saat ini, belum ada kasus Ebola yang ditemukan di Indonesia. Namun, bukan berarti kita abai begitu saja, kewaspadaan harus tetap dijaga dan ditingkatkan agar terhindar dari penyakit mematikan ini.

Penyakit ebola disebabkan oleh virus dan dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di Sudan dan Kongo. Para pakar menduga bahwa virus Ebola sudah hidup dalam tubuh kelelawar pemakan buah atau codot. Virus tersebut kemudian menyebar ke hewan lain dan kemungkinan menjangkiti manusia melalui darah saat mereka membersihkan darah hewan buruan yang sudah terkontaminasi.

Penyebaran Virus Ebola

Alasan kamu perlu sangat waspada dengan penyakit ini karena ebola merupakan penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus. Penyebarannya melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh pengidap seperti urine, tinja, air liur, serta air mani. Dalam hal ini, ‘kontak langsung’ berarti darah atau cairan tubuh lain (seperti air liur atau ingus) pengidap yang langsung menyentuh hidung, mata, mulut, atau luka terbuka.

Kelompok orang yang berisiko tinggi tertular virus ini biasanya keluarga yang tinggal serumah dengan pengidap dan orang yang merawat pengidap seperti petugas medis. Jika ada anggota keluarga kamu yang diduga mengidap Ebola, kamu sebaiknya tidak merawatnya sendiri di rumah dan segera bawa ke rumah sakit.

Selama dirawat, kondisi pengidap Ebola akan dipantau dengan seksama. Pemeriksaan kesehatan juga akan diadakan secara rutin. Pasalnya, mereka tetap berpotensi menularkan penyakit ini selama darah dan cairan tubuhnya masih mengandung virus.

Lingkungan sekitar yang terkontaminasi virus Ebola juga dapat berisiko menularkan penyakit ini. Misalnya dari pakaian, seprai, dan jarum suntik bekas pengidap. Karena itu, keluarga dan petugas medis yang merawat pengidap Ebola perlu meningkatkan kewaspadaan dan memaksimalkan perlindungan yang digunakan.

Berbeda dengan kasus flu atau cacar air yang menular lewat air liur yang yang ada di udara, cairan tubuh pengidap Ebola membutuhkan kontak langsung untuk menular. Tetesan air liur atau ingus pengidap Ebola yang tidak sengaja bersin atau batuk hanya dapat menularkan virus jika terkena hidung, mata, mulut, serta luka terbuka seseorang.

Kemenkes Sampaikan Indonesia Aman dari Ebola

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yakin hingga saat ini penduduk Indonesia masih tetap aman dari ancaman virus Ebola. Keyakinan tersebut didasari tidak adanya jalur penerbangan langsung dari Indonesia menuju keempat negara di kawasan Afrika Barat yang menjadi negara endemik virus ebola tersebut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa sangat sedikit orang Indonesia yang melakukan perjalanan menuju empat negara tersebut. Di samping itu, Kemenkes juga menghimbau pada seluruh masyarakat Indonesia yang jika memang akan bepergian ke negara-negara endemik tersebut untuk lebih berhati-hati terhadap penularan virus Ebola.

Meski merasa aman, Kemenkes juga tetap melakukan tindakan antisipasi jika suatu saat nanti virus Ebola masuk ke Indonesia. Prof. Tjandra mengatakan bahwa Kemenkes telah mempersiapkan laboratorium untuk memeriksa virus yang telah menewaskan lebih dari 700 orang tersebut.

Untuk itu, kamu tetap perlu melakukan diskusi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc jika mengalami gejala penyakit yang mengkhawatirkan. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.

Baca juga: