Ini Alasan Pengidap Lupus Berisiko Terkena Agranulositosis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ini Alasan Pengidap Lupus Berisiko Terkena Agranulositosis

Halodoc, Jakarta - Peradangan atau inflamasi kronis yang terjadi karena imunitas tubuh yang menyerang jaringan, organ, dan sel pada tubuh mengindikasikan terjadinya penyakit lupus. Sayangnya, penyakit autoimun ini bisa menyerang organ tubuh mana saja, tidak terkecuali jantung, paru-paru, otak, sel darah, sendi, kulit, ginjal, hingga sumsum tulang belakang dengan penyebab yang hingga kini masih belum diketahui dengan pasti. 

Jika imunitas tubuh menyerang sumsum tulang belakang, risiko seseorang untuk mengalami agranulositosis menjadi lebih tinggi. Agranulositosis menyebabkan sumsum tulang belakang tidak berhasil menghasilkan granulosit, jenis sel darah putih yang berperan penting dalam memerangi infeksi pada tubuh. 

Pengidap Lupus Berisiko Alami Agranulositosis

Pada kondisi normal, sumsum tulang memroduksi sebanyak 1.500 neutrofil atau granulosit per mikroliter darah. Namun, ketika seseorang mengalami agranulositosis, jumlah neutrofil yang ada pada setiap satu mikroliter darah bahkan tidak sampai 100 sel. Akibatnya, tubuh rentan terserang infeksi, bahkan infeksi kecil bisa berkembang menjadi infeksi yang serius. 

Baca juga: 10 Tanda dan Gejala Lupus, Penyakit yang Diidap Selena Gomez

Tidak hanya karena lupus, agranulositosis bisa terjadi ketika seseorang mengalami rheumatoid arthritis, leukemia, hepatitis, HIV, dan anemia aplastik. Pengobatan kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang belakang, paparan senyawa arsen, merkuri, atau senyawa kimia lainnya, dan penggunaan obat malaria, obat antiinflamasi nonsteroid, obat hipertiroid, serta antipsikotik meningkatkan risiko seseorang mengalami agranulositosis. 

Bagaimana Mengenali Gejala Agranulositosis

Ketika kamu mengalami agranulositosis, beberapa gejala mirip seperti ketika kamu mengalami gangguan kesehatan karena infeksi. Gejalanya seperti tubuh lemas, sakit kepala, demam, sariawan yang tidak kunjung sembuh, munculnya bisul pada kulit, gusi berdarah, berkeringat dingin, tubuh menggigil, radang tenggorokan, dan kemerahan pada area sekitar wajah. 

Baca juga: Prosedur Tes Imunitas pada Pengidap Penyakit Lupus

Apabila infeksi yang terjadi semakin parah, kamu akan mengalami takikardia, penurunan tekanan darah atau hipotensi, dan napas menjadi lebih cepat seperti sedang terengah-engah seperti habis beraktivitas berat. Oleh karena terjadi sebagai akibat dari beberapa kondisi medis, kamu harus rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, seperti cek lab rutin. Tidak harus ke lab, karena kamu bisa menggunakan fitur Cek Lab dari aplikasi Halodoc

Apa Saja Pilihan Pengobatannya?

Infeksi yang terjadi berkaitan dengan agranulositosis ditangani dengan pemberian antibiotik. Pemberiannya berdasarkan tingkat keparahan infeksi. Pemberian antibiotik ini bisa dilakukan sebelum terjadinya infeksi sebagai tindakan pencegahan. Menjadi hal yang penting untuk mengetahui penyebab pasti dari agranulositosis sebelum menentukan metode pengobatannya. 

Apabila agranulositosis terjadi karena penyakit autoimun, seperti yang terjadi pada pengidap lupus, maka pengobatannya berfokus pada penekanan imunitas tubuh tersebut, seperti misalnya obat kortikosteroid. Pada kasus agranulositosis yang sangat parah dan pengobatan biasa tidak mampu menanganinya, dokter mungkin melakukan transplantasi sumsum tulang.

Metode pengobatan ini efektif dan memberikan hasil yang maksimal jika dilakukan pada pengidap yang masih berusia di bawah 40 tahun. Namun, tetap saja, pengidap harus memiliki hati, ginjal, dan jantung yang masih sehat. Metode ini juga biasanya dilakukan pada pengidap leukemia

Sebagai tindakan pencegahan, kamu disarankan untuk tidak banyak berinteraksi atau menghindari keramaian untuk mengurangi risiko paparan infeksi, karena paparan lebih tinggi pada lingkungan yang ramai. Hindari makanan yang mudah terkena paparan bakteri, seperti sayur atau buah yang tidak dicuci dengan bersih. 

Baca juga: Leukemia Menyerang Sejak Kecil, Bisakah Disembuhkan?



Referensi: 
Medical News Today. Diakses pada 2019. Type, Causes, and Symptoms of Agranulocytosis.
Healthline. Diakses pada 2019. Agranulocytosis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Agranulocytosis.