Lupus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Penyakit Lupus

Lupus merupakan penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem imun tubuh yang bekerja dengan keliru. Dalam tubuh yang normal, sistem imun seharusnya melindungi tubuh dari serangan infeksi virus atau bakteri. Namun, dalam tubuh pengidap lupus, sistem imun justru menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Inflamasi yang disebabkan oleh lupus bisa menyerang berbagai bagian tubuh, antara lain:

  • Sel darah.

  • Paru-paru.

  • Lupus kerap dijuluki sebagai penyakit seribu wajah karena kelihaiannya dalam meniru gejala penyakit lain. Kesulitan diagnosis biasanya dapat menyebabkan langkah penanganan yang kurang tepat.

Penyakit lupus sendiri terdiri dari berbagai jenis, salah satunya upus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE). Kira-kira sepertiga pengidap lupus ini juga memiliki kondisi autoimun lainnya. Contohnya, penyakit tiroid atau sindrom Sjogren.

Kondisi ini dapat berujung pada munculnya komplikasi, termasuk gangguan pada masa kehamilan. Di samping itu, proses pengobatannya juga bisa membuat pengidapnya rentan terhadap infeksi serius.

 

Faktor Risiko Penyakit Lupus

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan terjadi lupus, antara lain:

  • Usia, lupus memang bisa menyerang segala usia, tapi usia 15 sampai 40 tahun merupakan usia yang paling sering didiagnosis penyakit ini.

  • Jenis kelamin, lupus lebih sering menyerang wanita daripada pria.

  • Ras, lupus lebih sering terjadi pada ras Asia, Afrika, dan Hispanik.

Sementara itu, faktor risiko SLE bisa meliputi faktor genetik, masalah hormonal, dan lingkungan (infeksi virus dan bakteri, stres, paparan sinar UV, hingga merokok).

Baca juga: Ini Alasan Pengidap Lupus Berisiko Terkena Agranulositosis

 

Penyebab Penyakit Lupus

Berikut beberapa penyebab dan jenis penyakit lupus:

1. SLE

Merupakan jenis lupus yang paling sering diidap masyarakat umum dan merupakan bahan utama pembahasan pada artikel. SLE dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala yang ringan sampai parah.

Banyak yang hanya merasakan beberapa gejala ringan untuk waktu lama, atau bahkan tidak sama sekali sebelum tiba-tiba mengalami serangan yang parah. Timbulnya rasa nyeri dan lelah berkepanjangan merupakan salah satu gejala ringan SLE. Oleh karena itu, pengidap SLE bisa merasa tertekan, depresi, dan cemas meski hanya mengalami gejala ringan.

2. Lupus Eritematosus Diskoid (discoid lupus erythematosus/DLE).

DLE pada dasarnya hanya menyerang kulit. Namun, dampak yang ditimbulkan oleh lupus jenis ini mampu menyerang jaringan dan organ tubuh lainnya. DLE umumnya bisa dikendalikan dengan menghindari paparan langsung sinar matahari dan obat-obatan. Berikut beberapa gejala DLE:

  • Rambut rontok.

  • Pitak permanen.

  • Ruam merah dan bulat seperti sisik pada kulit yang terkadang akan menebal dan menjadi bekas luka.

3. Lupus Akibat Obat

Efek samping obat pasti berbeda-beda pada tiap orang. Kira-kira ada lebih dari 100 jenis obat yang bisa menimbulkan efek samping yang mirip dengan gejala lupus pada orang-orang tertentu.

Gejala lupus akibat obat umumnya akan hilang jika berhenti mengonsumsi obat tersebut, sehingga tidak perlu menjalani pengobatan khusus. Namun, jangan lupa untuk selalu berbicara dengan dokter sebelum memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat dengan resep dokter.

 

Gejala Penyakit Lupus

Meski gejala SLE bervariasi, ada tiga gejala utama yang umumnya selalu muncul, antara lain:

1. Rasa Lelah yang Ekstrem

Melakukan rutinitas sehari-hari yang sederhana, misalnya tugas rumah tangga atau rutinitas kantor, dapat membuat penderita SLE merasa sangat lelah. Rasa lelah yang ekstrem ini mungkin saja tetap dialami pengidapnya meski sudah mendapatkan istirahat yang cukup.

2.Ruam pada Kulit

Ruam yang menyebar pada batang hidung dan pipi, merupakan ciri khas dari SLE. Gejala ini dikenal dengan istilah ruam kupu-kupu (butterfly rash) karena bentuknya yang mirip sayap kupu-kupu.

Selain hidung dan pipi, tangan dan pergelangan tangan merupakan bagian tubuh lain yang mungkin mengalami ruam. Ruam pada kulit akibat SLE dapat membekas secara permanen dan bertambah parah jika terpapar sinar matahari akibat reaksi fotosensitivitas.

3. Nyeri pada persendian

Gejala utama lain dari SLE adalah rasa nyeri. Pada sebagian besar kasusnya, gejala ini muncul pada persendian tangan dan kaki. Rasa nyeri juga mungkin dapat berpindah dengan cepat dari sendi satu ke sendi lain. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak akan menyebabkan kerusakan atau cacat permanen pada persendian.

Ada beragam gejala lain yang dapat muncul selain yang gejala di atas. Berikut beberapa gejala SLE lain yang mungkin dialami pengidapnya:

  • Sariawan yang terus muncul.

  • Demam tinggi (38 derajat celsius atau lebih).

  • Tekanan darah tinggi.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

  • Sakit kepala.

  • Rambut rontok.

  • Mata kering.

  • Sakit dada.

  • Hilang ingatan.

  • Napas pendek akibat inflamasi paru-paru, dampak ke jantung, atau anemia.

  • Tubuh menyimpan cairan berlebihan sehingga terjadi gejala seperti pembengkakan pada pergelangan kaki

  • Jari-jari tangan dan kaki yang memutih atau membiru jika terpapar hawa dingin atau karena stres (fenomena Raynaud).

Baca juga: 3 Jenis Penyakit Lupus, Apa Saja?

 

Diagnosis Penyakit Lupus

Untuk mendiagnosis penyakit lupus, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium. Mulai dari penghitungan sel darah lengkap, pemeriksaan imunologi, tes komplemen C3 dan C4, pemeriksaan ANA (antinuclear antibody), atau analisis urine.

Diagnosis penyakit ini bisa juga melibatkan pemeriksaan pemindaian seperti Rontgen dan ekokardiogram. Pemeriksaan-pemeriksaan di atas akan dilakukan dokter bila mencurigai adanya SLE dalam diri seseorang.

 

Komplikasi Penyakit Lupus

SLE yang tidak terkontrol atau serius bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa. Misalnya penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, stroke (jika lupus menyerang otak), hingga kematian jaringan tulang.

 

Pengobatan Penyakit Lupus

SLE tidak bisa disembuhkan, pengobatan dilakukan untuk mengurangi tingkat gejala serta mencegah kerusakan organ pada pengidap SLE. Bahkan, beberapa dekade lalu penyakit ini dipandang sebagai penyakit terminal (tdak memiliki harapan sembuh) yang bisa berujung pada kematian.

Ketakutan ini disebabkan oleh banyaknya pengidap pada saat itu yang meninggal dunia akibat komplikasi dalam kurun waktu 10 tahun setelah didiagnosis mengidap SLE. Namun, kini obat-obatan untuk SLE terus berkembang. Contohnya jenis obatnya seperti  antiinflamasi nonsteroid (OAINS), kortikosteroid, obat Imunosupresan, atau hydroxychloroquine. Obat-obatan inilah yang membuat hampir semua pengidapnya bisa hidup normal, atau setidaknya mendekati tahap normal. Selain itu, bantuan dan dukungan dari keluarga, teman, serta staf medis juga berperan penting dalam membantu para pengidap SLE dalam menghadapi penyakit ini.

Baca juga: Gejala Mirip, Lupus Sering Dikira Sakit Tipes dan DBD

 

Pencegahan Penyakit Lupus

Ada beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk mencegah diri dari serangan penyakit lupus, di antaranya:

  • Hindari stres dan terapkan pola hidup sehat.

  • Kurangi kontak langsung yang berlebihan dengan sinar matahari terutama pada siang hari.

  • Berhenti merokok.

  • Berolahraga secara teratur.

  • Lakukan diet nutrisi.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami beberapa gejala di atas, segeralah temui dokter untuk mendapatkan penanganan dan saran medis yang tepat. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Lupus.
WebMD. Diakses pada 2019. What Causes Lupus?
National Institutes of Health. National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. Diakses pada 2019. Systemic Lupus Erythematosus (Lupus)

 Diperbarui pada 13 September 2019