Ini Gejala Aneurisma Otak yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ini Gejala Aneurisma Otak yang Perlu Diwaspadai

Halodoc, Jakarta – Aneurisma otak adalah tonjolan atau menggembung di pembuluh darah di otak. Aneurisma otak dapat bocor atau pecah yang menyebabkan perdarahan ke otak (stroke hemoragik). 

Sering terjadi, aneurisma otak mengalami pecah di ruang antara otak dan jaringan tipis yang menutupi otak. Jenis stroke hemoragik ini disebut perdarahan subaraknoid. Aneurisma yang pecah dengan cepat menjadi mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan medis yang cepat. Baca selanjutnya di sini!

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Sebagian besar aneurisma otak yang tidak pecah dapat menimbulkan masalah kesehatan, atau menyebabkan gejala. Aneurisma seperti itu sering terdeteksi selama tes untuk kondisi kesehatan lain. 

Perawatan untuk aneurisma otak dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya risiko kesehatan berbahaya lainnya di masa depan. Sakit kepala yang tiba-tiba dan parah adalah gejala utama dari aneurisma yang pecah. 

Baca juga: Kenapa Lansia Rentan Alami Aneurisma Otak?

Sakit kepala ini sering digambarkan sebagai "sakit kepala terburuk" yang pernah dialami. Tanda dan gejala umum dari aneurisma pecah meliputi:

  1. Tiba-tiba, sakit kepala yang sangat parah.
  2. Mual dan muntah.
  3. Leher kaku.
  4. Penglihatan kabur atau ganda.
  5. Sensitivitas terhadap cahaya.
  6. Kelopak mata terkulai.
  7. Hilang kesadaran.
  8. Kebingungan.

Penyebab aneurisma otak tidak diketahui, tetapi berbagai faktor dapat meningkatkan risiko kesehatan. Sejumlah faktor dapat berkontribusi terhadap kelemahan di dinding arteri dan meningkatkan risiko aneurisma otak atau pecahnya aneurisma. 

Aneurisma otak lebih sering terjadi pada orang dewasa daripada pada anak-anak dan lebih sering pada wanita ketimbang pria. Beberapa faktor risiko ini berkembang seiring waktu, sedangkan lainnya dapat menjadi bawaan sejak lahir.

Sejatinya, faktor risiko dapat berkembang seiring waktu. Ini termasuk:

  1. Usia yang lebih tua.
  2. Merokok.
  3. Tekanan darah tinggi (hipertensi).
  4. Penyalahgunaan narkoba, khususnya penggunaan kokain.
  5. Konsumsi alkohol berat.

Beberapa jenis aneurisma dapat terjadi setelah cedera kepala (diseksi aneurisma) atau dari infeksi darah tertentu (aneurisma mikotik). Ingin tahu lebih lanjut pengobatan apa lagi yang bisa digunakan untuk mengatasinya, tanyakan langsung ke Halodoc.  

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: Waspada Lumpuh Otak yang Dapat Terjadi Akibat Kecelakaan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, aneurisma otak juga dapat terjadi secara bawaan alias genetik. Ini termasuk:

  1. Gangguan jaringan ikat yang diwarisi, seperti sindrom Ehlers-Danlos, yang melemahkan pembuluh darah.
  2. Penyakit ginjal polikistik, kelainan bawaan yang menghasilkan kantung berisi cairan di ginjal dan biasanya meningkatkan tekanan darah.
  3. Aorta sempit yang abnormal (koarktasio aorta), pembuluh darah besar yang mengirimkan darah kaya oksigen dari jantung ke tubuh.
  4. Malformasi arteriovenous serebral (AVM otak), koneksi abnormal antara arteri dan vena di otak yang mengganggu aliran normal darah.
  5. Riwayat keluarga aneurisma otak, khususnya kerabat tingkat pertama, seperti orang tua, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau anak.

Ketika aneurisma otak pecah, perdarahan biasanya hanya berlangsung beberapa detik. Darah dapat menyebabkan kerusakan langsung pada sel-sel di sekitarnya dan perdarahan dapat merusak atau membunuh sel-sel lain. Ini juga meningkatkan tekanan di dalam tengkorak.

Jika tekanannya menjadi terlalu tinggi, suplai darah dan oksigen ke otak mungkin terganggu, hingga kehilangan kesadaran, bahkan kematian.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Brain aneurysm
WebMD. Diakses pada 2019. What Is a Brain Aneurysm?