22 October 2018

Inilah 12 Faktor Pemicu Retensio Plasenta

Plasenta,retensio plasenta

Halodoc, Jakarta - Retensio plasenta merupakan kondisi tertahannya plasenta atau ari-ari di dalam rahim melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oleh gangguan kontraksi pada uterus. Kondisi ini sangat berbahaya, serta dapat menyebabkan infeksi dan perdarahan pasca melahirkan yang dapat mengakibatkan kematian. Perlu diketahui bahwa ada empat tahapan dalam persalinan normal. Berikut ini tahapan-tahapan proses persalinan normal:

  1. Kala I: pembukaan.
  2. Kala II: pengeluaran bayi.
  3. Kala III: pengeluaran plasenta.
  4. Kala IV: pemulihan

Oleh karena itu, proses persalinan tidak segera begitu saja mengeluarkan bayi, melainkan masih ada tahap ketiga yang tidak kalah penting, yaitu melahirkan plasenta. Sama halnya dengan dua tahap sebelumnya. Dalam proses tahap tiga dalam persalinan ini bisa terjadi lebih cepat atau malah lebih lama.

Gejala-gejala yang muncul, seperti nyeri yang berlangsung cukup lama, perdarahan yang hebat, keluarnya cairan dan jaringan yang berbau tidak sedap dari Miss V, dan perdarahan hebat. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya retensio plasenta, yaitu:

  1. Bayi yang meninggal pada saat dilahirkan.
  2. Terjadi kontraksi rahim yang kuat.
  3. Ukuran plasenta sangat kecil.
  4. Pengalaman melahirkan lebih dari lima kali.
  5. Pernah menjalani operasi bedah rahim.
  6. Kondisi plasenta tertanam hingga memasuki keseluruhan lapisan otot pada rahim.
  7. Kehamilan pada wanita di atas usia 30 tahun.
  8. Pernah mengalami retensio plasenta pada kelahiran sebelumnya.
  9. Persalinan yang prematur, pada usia kehamilan di bawah 34 minggu.
  10. Respon terhadap suntikan induksi atau obat tambahan saat proses persalinan berlangsung.
  11. Plasenta tertanam dalam rahim akibat penyempitan yang terjadi di mulut rahim.
  12. Kehamilan ganda yang memerlukan implasi plasenta yang luas.

Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah yang melekat pada plasenta terus mengalirkan darah. Selain itu, rahim tidak dapat menutup dengan sempurna, sehingga tidak bisa menghentikan perdarahan yang sedang berlangsung. Bila plasenta tidak keluar dalam kurun waktu 30 menit setelah persalinan, akan terjadi perdarahan yang signifikan dan dapat mengancam nyawa ibu.

Belum ada yang benar-benar bisa dilakukan untuk mencegah ari-ari yang tertinggal di dalam rahim. Apalagi jika ibu pernah mengalami hal ini sebelumnya, ibu berisiko tinggi untuk mengalaminya kembali. Penanganan retensio plasenta bertujuan untuk mengeluarkan plasenta dari dalam rahim, dengan menggunakan sejumlah metode, seperti:

 

  1. Dengan menggunakan obat-obatan. Beberapa obat yang dikonsumsi dengan cara disuntikkan, seperti oksitosin dan ergometrin dapat digunakan untuk membuat rahim mengalami kontraksi saat persalinan, sehingga dapat mengeluarkan plasenta.
  2. Dengan mengeluarkan plasenta dari rahim dengan menggunakan tangan. Prosedur ini harus dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati, karena dapat meningkatkan risiko infeksi.

Selain dua metode ini, biasanya dokter akan menyarankan untuk sering buang air kecil. Hal ini dikarenakan kandung kemih yang penuh dapat mencegah keluarnya plasenta. Menyusui juga dapat memicu pelepasan hormon yang dapat meningkatkan kontraksi rahim dan membantu keluarnya plasenta. Namun, bila semua metode tersebut belum juga berhasil mengeluarkan plasenta dari dalam rahim, biasanya akan dilakukan prosedur pembedahan.

Untuk itu, berdiskusi dengan dokter selama kehamilan merupakan upaya yang baik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dalam masalah persalinan. Ibu dapat ngobrol langsung dengan dokter ahli melalui Chat dan Voice/Video Call di aplikasi Halodoc. Ibu juga dapat membeli obat yang dibutuhkan, dan langsung diantar dalam waktu satu jam. Dengan aplikasi Halodoc, ibu tidak perlu antri dan repot keluar rumah untuk membeli obat. Yuk, download aplikasinya sekarang di App Store dan Google Play!

Baca juga: