06 July 2018

Retensio Plasenta Bahaya atau Tidak?

Bahaya retensio plasenta, retensio plasenta, penyebab retensio plasenta, plasenta

Halodoc, Jakarta - Ketika ibu hamil melahirkan, biasanya secara alami plasenta akan keluar dengan sendirinya. Terkadang dalam beberapa kasus, plasenta tidak ikut keluar bersamaan dengan bayi. Kondisi tersebut disebut retensio plasenta. Lalu, apakah retensio plasenta berbahaya? Berikut penjelasan selengkapnya.

Baca juga: 3 Jenis Gangguan Plasenta dan Cara Mengatasinya

Penyebab Retensio Plasenta

Plasenta merupakan organ yang berfungsi menyediakan nutrisi dan oksigen bagi janin selama masa kehamilan. Selain itu, organ ini juga berfungsi menjaga kebersihan darah dari zat-zat berbahaya. Plasenta akan terbentuk di dalam rahim ketika kehamilan dimulai dan akan melekat di bagian atas dinding rahim.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, plasenta akan keluar dengan sendirinya seiring dengan proses kelahiran. Jika plasenta tidak keluar setelah 30-60 menit setelah proses kelahiran, berarti ibu mengalami retensio plasenta. Jika retensio plasenta tidak ditangani dengan baik, ibu akan berisiko mengalami infeksi dan perdarahan yang hebat. Selain itu, retensio plasenta merupakan salah satu penyebab perdarahan setelah melahirkan yang sering terjadi.

Ada tiga jenis retensio plasenta berdasarkan pada penyebabnya. Di antaranya adalah plasenta akreta, plasenta adheren, dan plasenta terjebak. Plasenta akreta merupakan sebuah kondisi ketika plasenta melekat terlalu dalam pada lapisan otot dinding rahim. Kondisi ini dapat membuat ibu menjadi rentan terhadap perdarahan hebat.

Kemudian, plasenta adheren merupakan kasus yang paling umum terjadi. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya kontraksi, sehingga plasenta tidak dikeluarkan dan tetap menempel pada dinding rahim. Sedangkan, plasenta terjebak disebabkan oleh menutupnya serviks yang berada di bawah rahim, sehingga plasenta menjadi terjebak di dalam rahim.

Selain disebabkan oleh ketiga kondisi tersebut, retensio plasenta juga bisa disebabkan oleh hal-hal lain. Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko ibu hamil mengalami retensio plasenta. Di antaranya adalah persalinan prematur, ibu yang berusia di atas 30 tahun, bayi yang meninggal dalam kandungan, dan jeda yang terlalu lama antara persalinan tahap 1 dan 2.

Gejala dan Diagnosis Retensio Plasenta

Gejala utama terjadinya retensio plasenta adalah tertinggalnya seluruh atau sebagian plasenta dalam rahim. Gejala lainnya biasanya muncul satu hari setelah persalinan usai. Beberapa gejala di antaranya adalah perdarahan berat secara terus-menerus, demam, rasa sakit, berkurangnya ASI, dan keluarnya sebagian plasenta dengan aroma tidak sedap.

Untuk memastikan ibu tidak mengalami retensio plasenta, dokter biasanya akan mengecek dan memastikan bahwa tidak ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim. Meskipun begitu, plasenta tertinggal dalam rahim tetap terjadi dalam beberapa kasus. Biasanya, ibu akan menunjukkan gejala-gejala yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh dokter.

Jika ibu mengalami gejala-gejala yang disebutkan sebelumnya, dokter akan segera melakukan pemeriksaan dengan menggunakan ultrasound. Dengan begitu, akan diketahui apakah gejala-gejala tersebut disebabkan karena adanya plasenta yang tertinggal dalam lain, atau justru disebabkan oleh hal-hal lain. Setelah melakukan diagnosis, dokter pastinya akan melakukan pertolongan untuk mengatasi retensio plasenta. Sebab, jika dibiarkan begitu saja, kondisi ini bisa berakibat fatal.

Tindakan Pencegahan

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa retensio plasenta berbahaya bagi ibu hamil. Sebab, jika kondisi ini dibiarkan dan tidak dilakukan penindakan yang tepat, ibu hamil akan mengalami komplikasi, bahkan bisa berakibat fatal. Maka dari itu, sebaiknya dilakukan antisipasi supaya tidak membahayakan kesehatan ibu.

Sebagai antisipasi, biasanya dokter akan memberikan obat-obatan. Dalam beberapa kondisi, dokter juga mungkin akan melakukan prosedur tertentu untuk mengeluarkan plasenta dari rahim. Misalnya, dokter akan melakukan prosedur CCT (controlled cord action), yaitu dengan cara menjepit tali pusar dan sedikit menarik tali pusar bayi sambil menekan perut ibu. Pemberian obat oksitosin untuk merangsang keluarnya plasenta juga bisa dilakukan oleh dokter untuk mencegah terjadinya retensio plasenta. Selain itu, pijatan ringan sekitar area rahim setelah bayi lahir juga bisa dilakukan untuk melakukan pencegahan.

Baca juga: Sebab dan Akibat Jika Plasenta Bayi Kecil

Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kesehatan kehamilan? ibu bisa menghubungi dokter tepercaya melalui aplikasi Halodoc. Dengan menggunakan aplikasi ini, ibu juga dapat bertanya apakah retensio plasenta berbahaya atau tidak pada dokter melalui Chat atau Voice/Video Call. Selain itu, ibu juga bisa membeli produk kesehatan dan suplemen di Halodoc tanpa perlu keluar rumah. Pesanan akan sampai dalam waktu satu jam. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!